alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Positif Korona, Suami Istri di Mataram Meninggal Dunia

MATARAM-Virus Korona masih mengancam. Buktinya, pasangan suami istri (Pasutri) di Kelurahan Sapta Marga, Cakranegara, Kota Mataram meninggal dunia. Mereka meninggal setelah terkonfirmasi positif Covid-19 atau virus Korona.

Melihat orang tuanya sudah tak ada, I Gusti Lanang Widyana Saputra dan adiknya I Gusti Ayu Widya Dewi masih tak percaya. Karena kedua orang tuanya meninggal selang sehari.

Mereka masih merasa terpukul meski orang tuanya telah dikebumikan 23 Agustus lalu di Pemakaman Umum Karang Jangkong. Orang tua mereka I Gusti Lananga Wiyasama, 56 tahun, dan I Gusti Ayu Adnyawati, 48 tahun, meninggal dunia di RSUP NTB.

“Saya sangat terpukul karena kami nggak nyangka. Di sini saya merasa Covid-19 ini nyata setelah melihat kedua orang tua saya dimakamkan secara bersamaan,” ujar Ayu Widya, anak kedua dari pasangan suami istri itu.

Ada hal yang mengganjal di hati kedua kakak beradik ini. Mereka merasa tidak bisa ikut berjuang merawat kedua orang tuanya semenjak dinyatakan positif Covid-19. Lantaran, kedua pasien memang tidak boleh dijenguk dan didampingi seperti pasien pada umumnya.

“Nggak bisa merawat ibu bapak saat mereka sakit. Itu yang membuat saya merasa sedih. Apalagi selama ini kami kuliah di Bali dan kakak saya di UPN Jogjakarta,” ungkapnya.

Ayu lebih merasa terpukul mengetehui ayahnya meninggal dunia terlebih dulu. Padahal, ayahnya dikatakannya segar bugar. Tidak mengalami riwayat penyakit apapun.

“Bapak saya tidak punya penyakit penyerta. Bapak sangat sehat dan menjaga pola makan serta olahraga. Saat menjaga dan merawat ibu di rumah sakit, beliau segar bugar,” tuturnya.

Semua berawal sekitar awal Agustus lalu. I Gusti Lanang Wiyasama yang merupakan pegawai Kanwil Pajak dinyatakan reaktif dari hasil rapid tes yang dilakukan di kantornya. Sehingga dia harus isolasi mandiri di rumah. Ia bekerja dari rumah.

Dua hari berselang, Lanang Wiyasama bertiga bersama istrinya I Gusti Ayu Adnyawati serta Ayu melakukan rapid tes di Laboratorium Prodia. Hasilnya non reaktif.

Rapid tes dilakukan mengantisipasi kondisi istrinya apakah terpapar Covid-19 atau tidak. Mengingat istri atau ibu Ayu memiliki riwayat penyakit bronkhitis.

“Tanggal 10 Agustus, ibu saya merasa ada kelainan di ulu hati yang membuatnya lemas. Akhirnya ibu dibawa ke RS Biomedika,” tutur Lanang Widyana Saputra kakak Ayu Widya.

Setelah dirawat di RS Biomedika, kondisi ibu mereka tak juga membaik. Pihak RS Biomedika akhirnya merujuk ibu kakak beradik ini ke RSUP NTB. Karena berdasarkan hasil CT-Scan, disinyalir ada indikasi Covid-19.

“Sore tanggal 12 dibawa ke RSUP NTB. Setelah diswab di RSUP NTB, akhirnya ia dinyatakan positif Covid-19. Ibu saya drop, kemudian diberikan ventilator. Selama dirawat di sana, bapak saya yang mendampingi,” tuturnya.

Saat mendampingi istrinya, Lanang Wiyasama dalam kondisi sehat tanpa ada keluhan penyakit apapun. Namun tanggal 15 Agustus, ayah mereka mengalami demam dan batuk gejala Covid-19.

“Tanggal 17 Agustus bapak saya dinyatakan positif berdasarkan hasil swab. Saat itu, ibu dan bapak akhirnya pakai ventilator dirawat di RSUP NTB,” tutur keduanya dengan nada sedih.

Selama dirawat di RSUP NTB, kedua anaknya tidak bisa menjenguk karena harus mematuhi standar protokoler Covid-19. Tanggal 20 Agustus, kondisi kedua orang tua mereka dikabarkan semakin drop.

“Tapi sempat video call sebelum meninggal dunia. Kondisinya stabil,” tutur kedua kakak beradik ini.

Namun Tanggal 22 Agustus, Lanang Wiyasama mendadak menghadapi kondisi kritis. Ia kemudian dinyatakan meninggal dunia sore sekitar pukul 15.00 Wita. “12 jam berselang, ibu saya yang kemudian dinyatakan meninggal dunia. Tepatnya Minggu 23 Agustus. Mereka berdua langsung dimakamkan bersamaan sesui protokoler Covid-19 di Pemakaman Karang Jangkong,” ungkapnya.

Semua kejadian menurut kakak beradik ini begitu cepat. Mereka tidak percaya kedua orang tua yang membesarkan mereka selama ini, sudah tidak ada.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Mataram Nyoman Suwandiasa membenarkan jika ada informasi suami istri yang meninggal dunia setelah dinyatakan Covid-19. Namun apakah ada yang meninggal tanpa komorbid? Ia belum bisa memastikan.

“Memang laporannya kami terima. Makanya mari kita hindari perdebatan apakah Covid-19 ini berbahaya atau tidak. Ikuti protokoler Covid-19 untuk kita menjaga diri dan menjaga orang di sekitar kita,” pintanya.

Begitu juga dengan Pihak Dinas Kesehatan Kota Mataram yang dikonfirmasi Lombok Post. Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Usman mengaku untuk memastikan penyebab kematian pasangan suami istri di Kelurahan Sapta Marga, ia harus berkoordinasi dengan pihak yang merawat di RSUP NTB.

“Nanti kami akan koordinasi dengan pihak yang merawat di sana untuk mengetahui penyebab kematiannya. Apakah ada komorbid atau tidak,” ungkap Usman.

Namun dengan kejadian ini, ia berharap masyarakat tidak lagi menyepelekan wabah Korona. Karena bagaimanapun, yang utama menurutnya adalah penerapan protokoler Covid-19. Menggunakan masker saat berada di luar rumah, rajin mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak. Virus ini akan sangat berbahaya jika masyarakat lalai dan mengabaikan protokoler Covid-19. (ton/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Antisipasi Penyebaran Covid Klaster Kampus!

KONDISI masyarakat pada era tatanan kehidupan baru (new normal) saat ini seolah-olah menggambarkan situasi masyarakat telah beradaptasi dengan tenangnya, kembalinya kehidupan normal saat ini kesadaran kita sebagai masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 sedikit demi sedikit sudah mulai abai dalam menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan dan memutus rantai penularan virus corona.

Penurunan Kasus Korona di NTB Ternyata Semu

Perubahan warna zona Covid-19 di NTB tidak menentu. Kabupaten Dompu yang sebelumnya digadang-gadang sebagai daerah percontohan kini malah masuk zona merah kasus penularan Covid-19.

Pemerintah Harus Turunkan Harga Tes Swab

TARIF uji usap atau tes swab dinilai masih terlalu mahal. Ketua DPR RI Puan Maharani pun meminta pemerintah mengendalikan tarif tes sebagai salah satu langkah pengendalian dan penanganan penyebaran Covid-19. Jumlah masyarakat yang melakukan tes mandiri akan meningkat ketika harganya lebih terjangkau.

Desa Sekotong Tengah Punya Taman Obat Keluarga

ADA budidaya tanaman obat di Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tanaman obat ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Taman Obat Keluarga Suren.

Desa Pesanggrahan Lotim, Tangguh Berkat Kawasan Rumah Pangan Lestari

Desa Pesanggrahan terpilih menjadi Kampung Sehat terbaik di Kecamatan Montong Gading. Desa ini punya Tim Gerak Cepat Pemantau Covid-19 yang sigap. Ekonomi masyarakat juga tetap terjaga meski pandemi melanda.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks