Rabu, 8 Februari 2023
Rabu, 8 Februari 2023

Genjot Kualitas Garam NTB, Dislutkan Gandeng Universitas Trunojoyo Madura

MATARAM–Meski produksi garam melimpah di NTB, sayangnya kualitas garam lokal masih sangat rendah khususnya produksi garam dari Kabupaten Bima. Guna mendorong kualitas garam, Pemprov NTB akan menyebarkan tiga titik di Kabupaten Bima dengan menggunakan panel darat.

Dengan meningkatkan kualitas garam ini, maka nilai jual garam jadi lebih tinggi. Terlebih kebutuhan garam tidak hanya untuk industri tapi ada juga untuk kecantikan seperti tempat SPA.

“Tahun ini dicanangkan agar di Kabupaten Bima  bisa dibangun pada tiga titik dengan 33 unit sistem panel. Nanti produksi garam NTB tetap tinggi meskipun dalam kondisi hujan sekali pun,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB Muslim, Jumat (28/4/2022).

Program ini, kata dia, akan direalisasikan setelah Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah. Diharapkan dengan teknologi ini, paling tidak teknologi yang dirancang oleh Pemprov NTB bisa mendorong rasa penasaran para petani. Jika teknologi ini layak dan produksinya bagus, maka ke depan penerapan teknologi produksi garam bisa masif dilakukan.

Baca Juga :  Kemendagri Coret Pasal ASN NTB Wajib Beli Garam Daerah

“Contoh Kabupaten Bima sudah dapat dana cukup besar tiap tahun. Tetapi karena aspek pembinaannya kurang optimal sehingga industrialisasi garam masih menjadi harapan dan masih perlu ditingkatkan,” terangnya.

Sebagai langkah awal yang bisa dilakukan Pemprov NTB, yakni melakukan kerjasama dengan Universitas Trunojoyo Madura menggunakan sistem mekanik. Dimana garam yang sebelumnya tidak berkualitas bisa diubah agar memenuhi standar industri.

“Saat ini kita sedang inisiasi kerjasama dengan Universitas Trunojoyo.  Jadi mesin yang kita buat akan dimodifikasi dengan membawa tenaga ahli mereka datang ke NTB,” katanya.

Dengan datangnya para ahli tersebut, sambung Muslim, bisa memberi contoh kepada masyarakat agar tidak hanya sekadar mereflekasi teknologi saja. Namun masyarakat harus ada contoh yang dilihat, sehingga mereka mau gerak cepat.

Baca Juga :  Ada yang Mundur, BKD NTB Usulkan NIP untuk Pelamar CPNS Ranking Dua

“Supaya masyarakat bisa melihat dari jarak dekat agar pola pikir mereka berubah. Sehingga kualitas garam kita jauh lebih baik,” tutur Muslim.

Perlu diketahui, produksi garam NTB pada tahun 2020 sebesar 160 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhannya hanya 46 ribu, sehingga terjadi surplus dari ketersediaan garam yang ada.

Meski pasokan garam NTB berlimpah, tetapi banyak kendala yang dihadapi. Salah satunya garam yang dimiliki belum bisa diserap oleh pasar akibat rendahnya produksi kualitas garam. Berikut tekstur juga kurang berkualitas, warnanya kurang putih dan ketika diolah cenderung menjadi ampas.

“Karena kondisi NaCl-nya masih rendah. Sehingga ketika diolah kebanyakan jadi ampas. Upaya yang bisa pemprov sekarang adalah bagaimana mengedukasi masyarakat nelayan. Agar jangan sampai baru umur 4 hari garam sudah dipanen. Idealnya umur garam itu dipanen adalah umur 10 hari,” tandasnya. (ewi/r10)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks