alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

Pasien Positif Korona di NTB Boleh Isolasi Diri di Rumah

MATARAM-Pasien Covid-19 di NTB kini bisa isolasi mandiri di rumah. Mereka bisa lebih santai sembari menunggu proses penyembuhan di rumah sakit.

”Pasien yang sudah dirawat dan melewati fase pertama itu diizinkan pulang untuk isolasi mandiri di rumah,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi dalam keterangan persnya, kemarin (29/6).

Namun, tidak sembarang pasien diizinkan isolasi mandiri. Mereka yang isolasi mandiri hanya khusus untuk yang bergejala ringan dan tidak membutuhkan tindakan medis.

Selain itu, ada beberapa syarat yang harus mereka penuhi. Antara lain tidak memiliki penyakit penyerta (komorbid), rumah memenuhi syarat, dan tidak ada kelompok rentan di dalam keluarga. ”Juga persetujuan dari lingkungan sekitar,” katanya.

Eka menyebut, cukup banyak pasien yang sudah isolasi mandiri di rumahnya. Tapi 50 persen pasien yang seharusnya bisa melaksanakan isolasi mandiri di rumah dapat penolakan warga.

”Kita berharap peran serta masyarakat dan dukungan bagi warga mereka yang harus melakukan isolasi mandiri,” harapnya.

Menurutnya, isolasi mandiri di rumah membuat pasien lebih santai dan tidak stres sehingga imunitasya bagus. ”Ini bisa mempercepat proses penyembuhan,” jelasnya.

Ia menjamin, mereka yang sudah diizinkan isolasi mandiri tidak berbahaya. Pihak rumah sakit sudah memperhitungkan sampai akhirnya diizinkan pulang.

 

Rapid Test Gratis

 

Tidak hanya itu, rapid test dan tes swab pun bisa dilaukan secara mandiri. Warga yang membutuhkan bisa mendatangi beberapa fasilitas kesehatan. Seperti rumah sakit, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Mataram, dan klinik mitra KKP.  ”Di tempat itulah warga bisa melakukan rapid test yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk berpergian ke luar NTB,” katanya.

Tarif rapid test rumah sakit memang beda-beda. Hal itu disebabkan mereka menggunakan merek alat rapid test tidak sama, sehingga terdapat perbedaan harga. ”Karena yang dipakai tidak sama, harga belinya juga bervariasi,” jelasnya.

Ia berharap, dengan keluarnya alat rapid test “RI-GHA” harga alat lebih murah, sehingga beban warga bisa lebih rendah.

Dalam pesan yang beredar di grup-grup WhatsApp, tarif RS Mutiara Sukma Rp 285 ribu, RS Harapan Keluarga Rp 420 ribu, RS Biomedika Rp 479 ribu, RS Siloam Rp 485 ribu, Laboratorium Prodia Rp 250 ribu, RSI Siti Hajar Rp 400 ribu, RSUD Mataram Rp 400 ribu, RS Unram Rp 400 ribu, dan Laboratorium Hepatika Rp 90 ribu.

Pihak RS Unram dan RSUD Mataram mengakui tarif mereka Rp 400 ribu. Namun mereka tidak tahu tarif di tempat lain. ”RS lain saya tidak tahu, untuk RS kota benar,” kata Kabid Pelayanan Medis RSUD Mataram dr Emirald Isfihan.

Sedangkan harga tes swab di RS Unram mencapai Rp 1,3 juta. Harga tes mahal karena peralatan yang digunakan juga mahal. ”Harga alatnya di atas Rp 1 miliar, operasionalnya juga mahal, harus pake APD lengkap,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Unram dr Hamsu Kadriyan.

Tapi rapid test bagi siswa, santri, dan mahasiswa yang belajar ke luar daerah gratis. Gubernur mengeluarkan surat edaran Gubernur NTB Nomor 900 Tahun 2020 tentang Pembebasan Biaya Rapid Test Covid-19 bagi Pelajar, Santri, dan Mahasiswa di NTB.

Dalam surat itu, bupati dan wali kota diminta menanggung biaya rapid test Covid-19 pelajar dari daerah masing-masing. ”Hasil rapid test tersebut sebagai syarat pembelajaran di sekolah atau universitas tujuan,” kata Gubernur NTB H Zulkieflimansyah, dalam edaran tersebut.

Pelaksanaan rapid test disesuaikan dengan jadwal pembelajaran yang dikeluarkan Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Teknis pelaksanaan diserahkan ke masing-masing pemda.

Pelajar, santri, dan mahasiswa yang tes datang dengan membawa kartu pelajar atau kartu mahasiswa. Pemeriksaan dilakukan secara berkelompok yang diakomodir pewakilan sekolah atau universitas. ”Bupati dan wali kota menunjuk fasilitas kesehatan yang melaksanakan rapid test,” kata gubernur.

Sementara itu, Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi dalam rilisnya tadi malam mengungkapkan, kasus pasien positif di NTB mencapai 1.234 orang. Dengan perincian 818 orang sudah sembuh, 62 meninggal dunia, serta 354 orang masih dirawat.

Kemarin ada tambahan 21 kasus baru terkonfirmasi positif, delapan tambahan sembuh baru, dan satu kasus kematian baru.

Pasien yang meninggal dunia adalah pasien nomor 1.220, atas nama Ny. M, perempuan, usia 54 tahun, penduduk Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. ”Pasien memiliki penyakit komorbid,” jelasnya.

 

Kasus Tertinggi, Tes Terendah

 

Sementara itu dari Jakarta, kendati menjadi provinsi dengan pertumbuhan kasus positif tertinggi di Indonesia, Jawa Timur mencatatkan kecepatan tes yang memprihatinkan. Yakni sekitar 1.428 tes per satu juta penduduk.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Jubir Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto kemarin (29/6), Angka tes yang dilakukan oleh Jatim adalah yang paling rendah diantara 5 Provinsi yang menjadi pusat pertumbuhan kasus positif. “Pemeriksaan laboratorium PCR (di Jatim,Red) harus ditingkatkan lebih masif lagi,” jelas Yuri kemarin.

Berdasar penjelasan Yuri, beberapa Provinsi yang pertumbuhan kasusnya lebih rendah dari Jatim memiliki kecepatan tes yang jauh lebih baik. Sumatera Barat dengan 7.168 tes per 1 juta penduduk. Sumatera Selatan 2.889 orang per 1 juta penduduk.

Provinsi Bali mencatatkan 7.151 tes per 1 juta penduduk. Kalimantan Selatan 2.281 tes per 1 juta penduduk. Serta Sulawesi Selatan yang mencapai 5.021 tes per 1 juta penduduk. Sementara Provinsi DKI yang juga memiliki pertumbuhan kasus positif tinggi namun masih di bawah Jatim mencatatkan total 21.406 tes per 1 juta penduduk.

Yuri mengungkapkan. Secara Nasional, angka tes spesimen mencapat 2.779 per 1 juta penduduk. “Kalau dilihat ada di kisaran 2 ribu. Dibandingkan dengan Jepang misalnya yang 3.484 per 1 juta penduduk,” jelas Yuri.

Sementara itu, Yuri menjelaskan Case Fatality Rate (CFR) atau prosentase kematian kasus Covid-19 rata-rata dunia saat ini berada di angka 5,01 persen. Angka CFR indonesia sedikit lebih tinggi yakni 5,15 persen. ”Namun masih lebih rendah dari Jepang yakni 5,33. 23 Provinsi angka kematiannya dibawah angka rata-rata kematian dunia,” jelas Yuri.

Sementara angka kesembuhan rata-rata dunia berada pada 54,15 persen. Angka kesembuhan nasional berada di bawah angka tersebut yakni 41,48 persen.

Sementara itu, Yuri mengatakan penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 per Senin kemarin (29/6) totalnya menjadi 55.092 orang setelah kasus baru bertambah sebanyak 1.082 orang. Kemudian untuk pasien sembuh menjadi 23.800 orang setelah kasus sembuh bertambah sebanyak 864 orang. Selanjutnya untuk kasus meninggal menjadi 2.805 dengan penambahan 51 orang.

Yuri mengatakan, Kalau kita lihat distribusi sebarannya, maka Jawa Timur tetap yang tertinggi dengan melaporkan 297 kasus baru.  Tapi diimbangi dengan melaporkan 171 kasus sembuh.

”Jawa Tengah 198, kasus baru, dengan 43 sembuh. Sulawesi Selatan, 188 kasus, dengan 52 sembuh, DKI Jakarta, melaporkan 125 kasus baru, dan 254 kasus sembuh. Kalimantan Tengah, 47 kasus baru, dan 49 kasus sembuh,” imbuhnya. (ili/JPG/r6)

 

Syarat Pasien Bisa Isolasi Mandiri

  • Tidak memiliki penyakit penyerta, seperti hipertensi, diabetes, jantung, dan TBC.
  • Rumah isolasi layak. Punya ruang khusus, luas, dan sirkulsi udara bagus.
  • Tidak ada keluarga kelompok rentan, seperti ibu hamil, bayi, balita, dan lansia
  • Persetujuan dari lingkungan tempat isolasi

 

Sumber: Dinas Kesehatan NTB

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Kuliah ke Luar Daerah, Warga Mataram Harus Bebas Korona

Warga Kota Mataram yang kuliah di luar daerah cukup banyak. Kemarin kata dia, sekitar 50 mahasiswa mengajukan permintaan melakukan rapid test. Dari jumlah tersebut tidak ada yang hasilnya reaktif.

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Di Kediri Lobar, Ibu Rumah Tangga Diduga Jual Narkoba

WM, 28 tahun, warga asal Kediri Selatan ditangkap Satres Narkoba Polres Lobar. Ia bersama kedua rekannya MA dan MU diduga menjadi penjual dan penyalahguna narkotika jenis sabu. Bahkan, WM alias Dewi ini diketahui sebagai penjual obat penenang tanpa izin pihak instansi kesehatan.

Pariwisata Lesu, Pengusaha Travel Lombok Bertahan lewat Promo

Agen travel perjalanan wisata terus berupaya bertahan dalam ketidakpastian Pandemi Korona. Sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak akibat turunnya kunjungan wisatawan. ”Kami upayakan tetap bangkit seiring dengan penerapan new normal yang sedang digaungkan,” kata Kukuh Laro, pemilik Duta Lombok Transport.

Berdayakan UMKM Lokal, Bappeda NTB Tunggu Pergub

Pergub Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga kini belum rampung. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB masih menunggu kelanjutan masukan dan revisi dari gubernur. ”Sampai hari ini (kemarin,Red) kita belum terima. Jika sudah ada, akan langsung kita jadikan landasan dalam memberdayakan UKM/IKM,” kata Kepala Bappeda NTB Amry Rakhman, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2020).

Investasi Triwulan II di NTB Turun, Pencapaian Pertambangan Tertinggi

Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) menyampaikan data realisasi investasi sementara periode triwulan II tahun 2020 hanya mencapai Rp 788 miliar. Jumlah ini menurun dari triwulan sebelumnya Rp 2,1 triliun.

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks