alexametrics
Jumat, 25 September 2020
Jumat, 25 September 2020

Butuh Waktu Lama Pulihkan Industri Pariwisata Lombok-Sumbawa

Mimpi industri pariwisata untuk bisa mendapat kunjungan wisatawan agaknya masih jauh. Sebab, Pemerintah Indonesia masih memberlakukan pemeriksaan ketat bagi mereka yang baru datang dari luar negeri. Jangankan warga negara asing, warga negara sendiri juga mendapat perlakuan serupa.

———————————————–

 

SETIAP negara memberlakukan prosedur yang berbeda-beda kepada para pendatang yang masuk ke wilayahnya. Meskipun demikian, tujuannya tetap sama. Mencegah potensi orang datang dengan membawa penyakit Covid-19.

Kontributor koran ini, Bobby Arifin yang baru saja kembali dari tugas liputan di Amerika Serikat mengungkapkan sejumlah perbedaan tersebut.

Saat mendarat di bandara San Fransisco 8 Agustus lalu, Bobby tidak mendapati prosedur yang teramat ketat sebagaimana yang dia bayangkan tentang pemeriksaan kesehatan.

’’Hanya ada pemberitahuan, semua wajib menggunakan masker yang menutup mulut dan hidung. Juga menjaga jarak aman sekitar dua meter,’’ terangnya.

Beberapa kota di AS yang dia kunjungi juga tidak didapati prosedur yang rumit di luar menjaga jarak dan memakai masker. Hanya saja, saat mendarat di New York, memang ada pemeriksaan lebih. Karena Gubernur New York meminta ada karantina terhadap pendatang dari zona merah.

Bobby diminta mengisi formulir online yang berisi detail keberadaan dia 14 hari belakangan. Kemudian diberikan nomor identifikasi yang sewaktu-waktu dicek oleh petugas di kota tersebut.

’’Semuanya serba mudah, dan proses karantina mandiri dipercayakan kepada penumpang tersebut,’’ lanjutnya. Masing-masing individu dipercaya untuk melakukan yang terbaik menjaga kesehatan pribadi dan orang di sekelilingnya.

Ketika dia kembali ke Indonesia Kamis (27/8) lalu, prosedurnya benar-benar berbeda. Dia dan para penumpang lain langsung digiring ke jajaran kursi pemeriksaan yang sudah disiapkan. Deretan kursi itu dipisahkan antara yang membawa dan tidak membawa hasil tes PCR. Awalnya, Bobby masuk ke deretan kursi PCR.

’’Namun karena PCR swab saya bertanggal 6 Agustus dianggap Kadaluwarsa (masa berlaku swab 14 hari), saya harus pindah ke bagian NON PCR,’’ lanjutnya.

Di ruangan itu, dia menjalani pengukuran suhu tubuh dan saturasi oksigen. Juga mengisi lembar kuning yang diisi dengan data kondisi kesehatannya. Karena tidak membawa hasil tes PCR yang menyatakan negatif Covid-19, Bobby wajib menjalani karantina. Dia kemudian disodori 10 pilihan hotel yang berbayar. Ada pula pilihan yang gratis di Wisma Atlet dan Wisma Pademangan.

Karantinanya tidak berlaku 14 hari. Karena saat karantina, penumpang akan dites PCR. Bila hasilnya dinyatakan negatif, dia boleh keluar. Awalnya, Bobby memilih salah satu hotel berbiaya Rp 3,8 juta. Namun, karena tidak ada jaminan hasilnya keluar dalam 3 hari, dia urungkan. Akhirnya dipilihlah hotel yang lebih murah namun bisa menggaransi hasil swab keluar dalam 2 hari.

Pengalaman senada dialami Sugiman. Dia dan rekan-rekannya sesama Buruh Migran Indonesia (BMI) di Papua Nugini juga wajib menjalani karantina. Karena tidak membawa hasil swab PCR.

’’Yang saya bawa itu surat keterangan Sehat dari Papua Nugini,’’ terang pria asal Tulungagung, Jatim, itu.

Dia juga diberi pilihan apakah mau menginap di hotel berbayar atau Wisma Pademangan yang gratis. Dia memilih menginap di hotel. Salah satunya karena tes PCR di Wisma atlet atau Pademangan tidak bisa dipastikan kapan hasilnya keluar. Sementara di hotel dia diberi kepastian.

’’Kami ingin cepat bertemu keluarga,’’ lanjut pria 52 tahun itu. Lagipula, biaya menginap di hotel dibayar oleh perusahaan tempat dia bekerja.

Baik Sugiman maupun Bobby menyarankan agar pemeriksaan di bandara lebih baik lagi. Sebisa mungkin, sejak awal turun dari pesawat ada petugas yang menanyakan siapa saja yang membawa hasil tes PCR. Mereka yang membawa hasil tes PCR diarahkan ke tempat layanan yang berbeda dengan yang tidak membawa hasil tes. Jangan sampai mereka yang membawa hasil tes masuk ke area penumpang tanpa tes.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta Anas Ma’ruf menyatakan bahwa mereka yang dari luar negeri dan tidak membawa PCR dengan hasil negatif maka akan dikarantina. Pemerintah menyiapkan Wisma Atlet Pademangan sebagai tempat isolasi mandiri. Tak dikenakan biaya apapun bagi yang menginap di Wisma Atlet Pademangan.

Pilihan lainnya adalah di hotel. Satgas Covid-19 pusat yang menetapkan hotel sebagai tempat isolasi. Ada berbagai pilihan. “Berbayar,” katanya.

Pemilihan tempat karantina ini tidak dipaksakan. Jadi mereka yang harus isolasi bebas memilih mana yang akan ditempati. Apakah Wisma Atlet Pademangan atau hotel-hotel yang sudah ditetapkan. “Baik di Wisma Pademangan maupun di hotel karantina, ada petugas TNI maupun Kemenkes,” ujar Anas.

Setelah keluar dari bandara, Anas menyampaikan, masyarakat menjadi tanggungjawab satgas karantina. Satgas tersebut terdiri dari TNI, Polri, unsur kesehatan, dan unsur lainnya. “KKP Soetta bertugas melakukan skrining kekarantinaan kesehatan di kedatangan international di terminal kedatangan luar negeri,” tuturnya.

 

Genom Utuh Virus Korona

 

Sementara itu, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menyusun urutan sekuens genom utuh (whole genome sequencing/WGS) virus SARS-CoV-2. Penemuan ini bisa jadi sumber informasi untuk melemahkan virus asal Tiongkok itu.

Tim tersebut berasal dari Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Biologi, dan Pusat Penelitian Infromatika LIPI. Urutan sekuens genom utuh yang berhasil ditemukan itu berasal dari dua sampel virus Korona dari Indonesia. LIPI menyebutkan ini merupakan WGS pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi Oxford Nanopore.

Anggota tim riset WGS dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Anggia Prasetyoputri menuturkan SARS-CoV-2 adalah virus yang memiliki materi genetik. Sehingga memungkinkan mengalami perubahan atau mutasi dengan cepat. ’’Dari hasil WGS beberapa sampel virus yang ada di Indonesia, telah ditemukan adanya mutase pada 12 sekuens SARS-CoV-2,’’ katanya kemarin (30/8).

Dia mengatakan mutasi pada virus korona itu terjadi pada bagian nukleotida. Perubahan pada bagian ini menyebabkan berubahnya asam animo yang disandinya. Terjadinya mutasi pada virus korona perlu diteleti lebih dalam. Khususnya apakah mutasi itu berpengaruh pada tingkat infeksinya terhadap manusia. Termasuk juga adanya potensi perubahan gejala yang timbul pada pasien Covid-19.

Anggia mengatakan urutan WGS adalah temuan yang penting. Sebab dapat memberikan beberapa informasi kepada para peneliti. ’’Seperti informasi bagaimana membangun, menjaga, serta melemahkan virus tersebut,’’ katanya. Dengan adanya kode genetik virus korona itu, juga bermanfaat untuk penanganan pasien positif Covid-19. Kemudian juga untuk pengembangan vaksin yang lebih sesuai untuk masyarakat Indonesia.

Di sisi lain, tiga hari belakangan jumlah kasus harian Covid-19 meninggi meskipun kemarin sempat turun. Rata-rata di angka 3.000 an. Jumat (28/8) lalu ada 3.003 kasus baru. Kemudian, Sabtu (29/8) terdapat 3.308 kasus baru. Dan kemarin, tercatat ada 2.858 kasus baru. Artinya ada 9.169 kasus baru dalam tiga hari atau rata-rata 3.056 kasus baru per hari.

Pada periode yang sama, jumlah kasus sembuh masing-masing 2.325, 1.902, dan 1.383. total 5.610 pasien yang sembuh dengan rata-rata 1.870 kesembuhan per hari. Alhasil, persentase kasus aktif belum bergerak dari kisaran 22 dan 23 persen. Pun demikian dengan jumlah pasien meninggal yang persentasenya masih tetap di angka 4,3 persen.

Di saat yang sama, jumlah tes PCR masih belum beranjak dari kisaran rerata 30 ribuan. Sepekan terakhir, rata-rata specimen yang dites berjumlah 26.795. Dari jumlah tes itu, rata-rata jumlah orang yang dites sebanyak 17.919 per hari.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengakui, target 30 ribu tes perhari memang cukup berat untuk dicapai saat ini. ’’rata-rata sekitar 20-25 ribu tapi pernah juga mencapai 30 ribu,’’ terangnya. Kondisi tersebut karena memang terbatasnya kemampuan laboratorium yang ada di tanah air.

Tantangan utamanya adalah SDM. ’’SDM laboratorium yang emmang pada saat ini bekerja di laboratorium jumlahnya tidak banyak,’’ lanjutnya. itu memerlukan mobilisasi SDM lab yang lebih banyak sehingga jam operasionalnya bsia ditingkatkan. Selain itu, pengiriman sampel dari faskes menuju lab juga harus diatur agar tidak terjadi antrean panjang.

Saat ini, tutur Wiku, variasi alat di laboratorium juga cukup banyak karena tidak berasal dari satu kementerian/lembaga, melainkan ada 12 K/L yang mengelola hampir 300 lab. Karena itu, penyediaan reagen juga harus cepat dan tepat sesuai kebutuhan. Contact tracing juga akan ditingkatkan dan menggandeng laboratorium swasta untuk ikut dalam tes PCR. (byu/lyn/wan/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Pilwali Mataram, HARUM satu SALAM dua MUDA tiga BARU empat

Pengundian nomor Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram berjalan di bawah protokol Pandemi Covid-19 dengan ketat, pukul 19.00 wita-selesai semalam.

Catat, Kampanye Undang Massa Bisa Dipidana

Seluruh calon kepala daerah yang akan berlaga dalam Pilkada serentak di tujuh kabupaten/kota di NTB telah ditetapkan, kemarin (23/6). Hari ini, para calon kepala daerah tersebut akan melakukan pengundian nomor urut. Kampanye akan dimulai pada 26 September. Seluruh kandidat harus hati-hati berkampanye di masa pandemi. Sebab, mengundang massa dalam kampanye bisa dikenakan pidana.

Dua Sopir Bupati Lotim pun Positif Tertular Covid-19

PELACAKAN kontak erat Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy yang positif terinfeksi Covid-19 masih terus dilakukan. Hingga kemarin, dari kontak erat yang telah menjalani uji usap atau swab, dua orang sopir Bupati Sukiman telah dipastikan positif Covid-19.

Dua Jempol untuk Penanggulangan Covid-19 Desa Bentek Lombok Utara

Desa Bentek meraih juara satu Kampung Sehat di Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Berada di pintu masuk Kecamatan Gangga, desa ini memang dua jempol. Bidang kesehatannya oke. Bidang ekonominya mantap. Sementara bidang ketahanan pangannya juga menuai decak kagum. Pokoknya top!

Disdag Kota Mataram Gelar Pasar Rakyat, Warga Antusias

”Kami berterima kasih pada pihak Disdag karena kebutuhan rumah tangga bisa diakomodir sekaligus di sini dengan harga terjangkau,”  kara Nasrullah, lurah Pagutan Barat.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Tertular Korona di Luar Daerah, Bupati Lotim Sempat Drop

Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy menjadi kepala daerah pertama di NTB yang positif terinfeksi Covid-19. Pemimpin Gumi Patuh Karya dua periode tersebut menjalani uji usap (swab) pada Senin (21/9) di RSUD dr Raden Soedjono Selong.
Enable Notifications    Ok No thanks