Tak sedikit para rombongan itu menggelar tikar, membuka bekal, duduk lesehan sembari mengobrol di bawah pohon yang rindang. Beberapa diantaranya bahkan membuka lapak untuk berjualan.
"Kultur masyarakat kita (NTB) kan seperti itu, masih suka lihat yang ramai-ramai, ini juga tidak bisa kita abaikan," ucap Anggota Komisi II Bidang Perekonomian DPRD NTB Made Slamet, Kamis (28/7/2022).
Menurutnya, hal ini semestinya dipahami pihak Angkasa Pura Bandara Lombok. Fenomena tersebut dapat dijadikan peluang bisnis dengan menyediakan both-both khusus bagi rombongan.
"Selama lokasinya tidak ganggu penerbangan pesawat, saya rasa perlu ada lokasi khusus bagi mereka. Saya pribadi sangat setuju ketika Bandara Lombok mendapat manfaat lain dari (fenomena) ini," terangnya.
Politisi PDI-P ini pun tak menampik, ramainya Bandara Lombok oleh rombongan antar-jemput sudah terjadi cukup lama sejak hadirnya bandara. Ini menunjukkan karakteristik masyarakat sangat kental antara satu dengan yang lain.
"Kasihlah mereka ruang, ditata rapi. Lain halnya dengan Bandara di Jakarta yang memang harus steril. Kalau disini kan hutang budinya sangat kental," ucap anggota DPRD NTB Dapil Kota Mataram ini.
Anggota DPRD NTB Dapil Lombok Tengah H Achmad Puaddi FT mengatakan, menjadi dilematis bagi Angkasa Pura Bandara Lombok. Satu sisi, dia memiliki tanggung jawab dalam memproteksi penumpang pesawat. Namun, sisi lainnya tradisi masyarakat lebih suka beramai-ramai sebagai wujud jiwa sosial kekeluargaan yang tinggi.
"Kenyataannya yang jemput dan yang antar bukan saudaranya, tetapi tetangga atau kenalan. Dan ini sudah jadi tradisi," ucapnya.
Langkah yang harus dilakukan saat ini, sambungnya, mencari solusi namun tidak mematikan tradisi tersebut. Kini, selain disediakan lapak-lapak bagi pedagang juga disediakan titik lokasi bagi pengunjung yang akan mengantar penumpang pesawat.
"Sekarang dipikirkan oleh Angkasa Pura dimana lokasi yang dianggap tidak mengganggu penumpang yang datang atau pergi dari kerumunan rombongan ini," kata mantan Ketua DPRD Lombok Tengah ini.
Adik kandung dari mantan Bupati Loteng HM Suhaili FT ini berharap, apa yang menjadi standar operasional prosedur Angkasa Pura mesti dihormati. Mengingat yang memanfaatkan jasa Bandara Lombok bukan hanya warga NTB saja.
"Jangan sampai berdampak pada angka kunjungan wisatawan yang sedang kita promosikan," pungkasnya.
Terpisah, Humas PT Angkasa Pura I Bandara Lombok Arif Haryanto mengatakan, pihaknya telah sering mengimbau para pengunjung hingga pedagang asongan liar yang berada di sekitar area landside bandara.
"Spanduk larangan sudah dipasang, bahkan ada petugas sweeping yang melakukan penertiban para pedagang asongan liar yang menawarkan barang dagangannya dengan berkeliling," katanya.
Diakui, untuk mensterilkan lokasi ini agak sulit dilakukan karena sudah menjadi tradisi dan kearifan lokal masyarakat setempat. Pihak bandara sebenarnya tak melarang mereka untuk berkunjung, hanya saja diharapkan tidak membuang sampah sembarangan di sekitar bandara.
"Tempat sampah sudah kami siapkan di sejumlah titik, serta pengunjung diharapkan menggunakan kendaraan yang sesuai peruntukkannya ketika berkunjung," tandasnya. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida