LombokPost - Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB menggelar Forum Penjaringan Masukan (FPM) bertajuk Rinjani Destinasi Pendakian Berstandar Global, Selasa (22/7).
Forum ini menjadi wadah strategis untuk menghimpun pandangan berbagai pihak dalam rangka merumuskan kebijakan berkelanjutan demi masa depan Gunung Rinjani.
Salah satu pematerinya adalah akademisi yang juga pencinta alam Rocky Gerung. Dia memberikan pandangan filosofis sekaligus kritis mengenai pentingnya menyusun kebijakan pendakian Rinjani.
Kebijakan yang tidak hanya teknokratik, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai kearifan, kesadaran moral dan keterlibatan emosional terhadap alam.
“Ketika mendaki Rinjani, yang diuji bukan sekadar kekuatan otot, tapi moralitas manusia. Pendakian adalah pengalaman personal yang menyentuh dimensi eksistensial,” ujarnya.
Menurut Rocky, memahami gunung bukan hanya soal menjelajah jalur pendakian. Tetapi tentang menyatu dengan keindahan dan keamanan yang dimiliki gunung itu sendiri.
Dua aspek ini, keindahan dan keamanan, harus menjadi fondasi dalam merumuskan kebijakan Rinjani ke depan.
“Sejumlah gunung telah saya daki di Indonesia, di Eropa, namun, Rinjani adalah puncak keindahan alam semesta,” ungkapnya.
Rocky menyoroti maraknya informasi viral tentang insiden atau peristiwa di kawasan Rinjani menunjukkan adanya persoalan mendasar. Masalah yang belum ditangani secara menyeluruh, terutama terkait manajemen risiko.
Menurutnya, ada potensi besar yang belum dimaksimalkan dalam pengelolaan risiko di Rinjani. Masalah yang belakangan muncul di seputar Rinjani menunjukkan lemahnya manajemen risiko dalam pengelolaan kawasan pendakian.
Ia menekankan bahwa solusi terhadap persoalan ini tidak cukup jika hanya bersandar pada peran aparatur sipil negara (ASN). “ASN mengurus kebijakan, tetapi kebijakan tentang alam tak cukup hanya bersifat teknokratik. Kita butuh kebijakan yang lahir dari wisdom, bukan sekadar policy,” tegasnya.
Rocky mengajak seluruh pihak melihat Gunung Rinjani sebagai “ibu bumi” yang perlu dirawat dengan cinta dan kepedulian. Dalam pandangannya, kebijakan yang hendak dirumuskan harus berbasis pada ethic of care. Yakni rasa tanggung jawab emosional dan moral sebagai sesama makhluk bumi.
Filosofi ini penting dituangkan dalam bentuk buku kecil atau panduan yang mengedukasi para pendaki tentang makna spiritual dan budaya dari setiap tapak pendakian di Rinjani. “Kita ingin para pendaki tidak datang ke Rinjani hanya untuk berswafoto, tapi benar-benar merasa kembali ke rahim ibu bumi. Naik gunung itu juga melewati situs kultural, ada teologi dan ritual yang menyatu di dalamnya,” ungkapnya.
Melalui forum ini, dia menyuarakan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam proses perumusan kebijakan. Pendaki perlu memahami bahwa mereka tidak hanya melintasi jalur pendakian, tetapi juga budaya dan kehidupan masyarakat kaki gunung.
Oleh karena itu, pelibatan nilai-nilai local wisdom menjadi unsur penting dalam membangun Rinjani. Sebagai destinasi global yang berakar pada identitas lokal. “Ini satu kesatuan, dalam membuat kebijakan perihal Rinjani, mengedepankan local wishdom atau kearifan lokal itu kepada pendaki,” tandasnya.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana di kawasan wisata. Dia menyoroti bahwa NTB selama ini belum memiliki rencana kontingensi yang terstruktur untuk setiap jenis bencana. Padahal wilayah ini memiliki catatan panjang terhadap berbagai jenis risiko bencana seperti gempa, kebakaran hutan, dan kecelakaan pendakian. “Ketika kita mengundang orang ke rumah, kita harus memastikan rumah itu aman,” kata pria yang akrab disapa Miq Iqbal itu.
Menurutnya, setiap destinasi wisata strategis harus memiliki peta risiko bencana dan skenario penanganannya. Ia menilai, berbagai kejadian yang muncul belakangan ini di Rinjani harus menjadi refleksi bersama. Sekaligus menjadi catatan sejarah tentang pentingnya kesiapsiagaan yang sistematis. “Kita harus petakan potensi bencana dan siapkan SOP jelas, supaya siapa pun yang berada di situ tahu apa yang harus dilakukan jika sesuatu terjadi,” ujarnya. (yun/r6)
Editor : Jelo Sangaji