LombokPost - Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB terus berikhtiar untuk mewujudkan NTB Connected sebagai strategi utama dalam melaksanakan pembangunan daerah. Konsep ini fokus pada sektor infrastruktur fisik, mulai dari darat, laut, dan udara.
NTB Connected adalah salah satu dari sepuluh program unggulan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Wagub Indah Dhamayanti Putri yang tertuang dalam RPJMD NTB 2025-2029. Yakni pembangunan infrastruktur fisik yang mendukung industrialisasi, pariwisata, dan arus barang jasa.
Program tersebut diwujudkan dengan pembangunan jalan lintas NTB atau Trans-NTB (Lembar-Sape).
Selain itu peningkatan Pelabuhan Lembar, Badas, dan Bima. Serta pembangunan pelabuhan khusus komoditas di Pulau Sumbawa. Termasuk pemenuhan kebutuhan infrastruktur dasar seperti air bersih, rumah layak huni, jaringan Listrik, dan telekomunikasi.
Salah satu gagasan besar dalam konsep NTB Connected ini adalah rencana pembangunan jalan bypass port-to-port segmen Sengkol-Pringgabaya, sesuai rencana teknis percepatan infrastruktur dalam kerangka kerja sama Bali, NTB, dan NTT.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, proyek strategis Bypass Port to Port (P2P) ini sebagai prioritas percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas NTB.
Sejumlah proyek strategis yang dilakukan di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa telah mendapatkan atensi pemerintah pusat. Pemprov NTB akan terus memperhatikan infrastruktur untuk kelancaran pergerakan roda ekonomi dan akses sosial masyarakat.
Perbaikan ini diharapkan membawa dampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam memudahkan mobilitas harian serta meningkatkan kenyamanan dan keselamatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sadimin menegaskan, bypass port-to-port segmen Sengkol-Pringgabaya tersebut rencananya dibangun mulai dari daerah Sengkol ke Ganti sepanjang 13-14 km, Labuan Haji-Korleko sepanjang 11-12 km sehingga waktu tempuh Lembar-Kayangan bisa lebih cepat.
“Tahun 2025 ini feasibility study. Tahun 2026 penyusunan DED dan pembebasan lahan. Tahun 2027 sudah mulai konstruksi,” katanya.
Sementara itu, selama tahun 2025, Dinas PUPR NTB melaksanakan sejumlah proyek strategis daerah bidang infrastruktur jalan, jembatan, dan irigasi yang lokasinya di Pulau Lombok dan Sumbawa.
Jaringan Irigasi
Rehabilitasi jaringan irigasi Maronggek Ompleks, Kecamatan Sikur, Lotim sepanjang 3.869,94 meter yang mengairi lahan seluas 378 hektare. Rehabilitasi ini mampu meningkatkan indeks pertanaman menjadi 230 persen atau dua kali tanam padi dan satu kali palawija.
Rehabilitasi jaringan irigasi Santong, Kecamatan Kayangan, KLU sepanjang 2.140,17 meter yang mengairi lahan seluas 468,670 hektare dan mampu meningkatkan indeks pertanaman menjadi 215 persen.
Rehabilitasi jaringan irigasi Kadindi, Kecamatan Pekat, Dompu. Daerah di lereng Gunung Tambora ini kondisi lahannya sangat subur. Namun jaringan lama dimensi salurannya kurang besar dan banyak kebocoran sehingga air tidak sampai ke hilir.
Proyek ini meliputi Kadindi Atas, Kadindi Tengah, dan Kadindi Bawah dengan panjang 3.271 meter dengan luas lahan 472 hektare.
Jalan dan Jembatan
Rekonstruksi dan pemeliharaan jalan dan jembatan juga dilakukan di Pulau Lombok dan Sumbawa. Seperti ruas jalan Simpang Tano-Simpang Seteluk, Kecamatan Pototano dan Kecamatan Alas Barat, KSB.
Jalur yang menghubungkan dua ruas jalan negara, yakni Jalan Pototano – Simpang Negara dengan Simpang Negara – Taliwang sepanjang 3,8 km ini kondisi drainase rusak dan sering terjadi banjir.
Selanjutnya ruas jalan Tanjung Geres – Pohgading – Pringgabaya, Kecamatan Labuhan Haji, Lotim. Ruas jalan Tanjung Geres-Pohgading sepanjang 4,0 km ini kondisi rusak berat cukup lama.
Selain memperlancar dan memperpendek waktu tempuh, jalur ini menjadi triger pengembangan wilayah pesisir untuk mendukung kedaulatan pangan, budi daya perikanan, dan pariwisata.
Selain itu, penanganan Long Segmen ruas jalan Lenangguar – Lunyuk, km 69 sampai 71, Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa. Dua titik tebing yang kondisi tanahnya terus bergerak dan longsor karena tebingnya curam sehingga harus ditangani secara kontinyu.
Pemeliharaan ruas jalan Batu Nyale – Sengkol yang kondisinya rusak berat karena kondisi tanah dasar yang kurang baik dan posisi galian pipa air minum, sehingga pondasi lapis atas dan lapis bawahnya kurang stabil.
Penggantian Jembatan Doro O,o, Desa Doro O,o, Kecamatan Langgudu, Bima yang rusak diterjang banjir yang terjadi pada tahun 2023.
Jembatan ini adalah objek vital bagi warga dua kecamatan, yakni Langgudu dan Monta. Jadi penyangga dan ekonomi masyarakat di sektor kelautan dan pertanian.
Penggantian jembatan Selong Belanak, Jalan Pariwisata Selong Belanak – Kuta, Desa Mekar Sari Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Jalan ini rusak akibat banjir yang terjadi tahun 2024.
Jembatan ini adalah objek vital yang menghubungkan Kute dan Selong Belanak sebagai pendukung daerah pariwisata Prioritas Mandalika dan sekitarnya.
Untuk tahun 2026, Pemprov NTB mengusulkan penanganan 76 jembatan. Yakni 11 jembatan di Pulau Lombok, 12 jembatan di KSB, 16 di Sumbawa, 4 di Bima, dan 6 di Dompu.
Infrastruktur jembatan ini sangat vital untuk mensukseskan program pemerintah pusat dan daerah, seperti program MBG, ketahanan pangan, dan lainnya.
Konektivitas Laut dan Udara
Selain infrastruktur di darat, Gubernur Miq Iqbal juga juga mewujudkan komitmen dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik khususnya pada sektor transportasi penyeberangan laut dan udara.
Gubernur Miq Iqbal menegaskan pentingnya membangun standar pelayanan yang lebih baik di seluruh pelabuhan di NTB. Semua pihak, mulai dari Karantina Kesehatan, Jasa Raharja, ASDP, dan operator pelayaran harus berkolaborasi untuk membangun layanan penyeberangan yang lebih sehat, nyaman dan ramah bagi pengguna jasa.
Gubernur Miq Iqbal meminta Dishub NTB, menyusun standar layanan dan standar infrastruktur pelabuhan di seluruh NTB dan membuat rating kondisi kapal di setiap pelabuhan untuk memotivasi operator meningkatkan perawatan.
Sistem transportasi publik harus disiapkan sejak dini agar pertumbuhan pariwisata tidak menciptakan kemacetan. “Masalah kapal itu bukan muda atau tua, tapi perawatannya. Asal dirawat baik, kapal pasti layak pakai,” katanya.
Peningkatan konektivitas juga dilakukan melalui jalur penerbangan. Yang terbaru, Wings Air rute Malang (MLG)–Lombok (LOP) resmi mengudara. Hal ini menandai babak baru penguatan konektivitas udara Provinsi Jawa Timur dan NTB.
Pembukaan rute ini sebagai langkah strategis dalam mendukung sektor pariwisata, bisnis dan mobilitas masyarakat. Bahkan Lombok diproyeksikan menjadi basis penghubung penerbangan, baik domestik maupun internasional.
Saat ini, Wings Air telah membuka dan mengembangkan rute dari Lombok menuju Bima, Waingapu, Tambolaka, Labuan Bajo, Bali, Makassar serta Malang dan dalam waktu dekat direncanakan membuka rute ke Bandung.
Sejumlah jalur penerbangan dari Lombok ini menghubungkan destinasi pariwisata premium yang ada di Indonesia. Terlebih daerah Bali, NTB, dan NTT yang telah menjalin kerja sama untuk memperkuat konektivitas antardaerah. (lil/r3)
Editor : Prihadi Zoldic