LombokPost - Eskalasi keamanan di kawasan Timur Tengah, berdampak pada sejumlah penerbangan dari dan menuju Arab Saudi. Namun demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya mengganggu penerbangan langsung (direct flight) dari Indonesia.
Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (DPD AMPHURI) Bali - Nusa Tenggara (Nusra) Zamroni Taufiq menjelaskan akibat utama justru dirasakan oleh penerbangan yang menggunakan rute transit, di sejumlah negara terdampak.
“Jadi sebenarnya saat ini yang terdampak itu adalah pesawat-pesawat yang melalui negara-negara transit,” terangnya, Senin (2/3).
Ia merinci, sejumlah bandara transit yang terdampak berada di Bandara Internasional Doha, Qatar. Bandara Internasional Kuwait, Bandar Internasional Muskat, Oman, serta dari jalur utara seperti Bandara Internasional Queen Alia di Yordania dan Bandara Internasional Kairo, Mesir.
Maskapai yang melintasi negara-negara tersebut, harus menyesuaikan kebijakan operasionalnya seiring situasi keamanan yang berkembang. Meski demikian, bagi jamaah Indonesia yang menggunakan penerbangan langsung, kondisi relatif aman.
Ia menyebut sejumlah maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Saudi Airlines, hingga Batik Air dari Kuala Lumpur masih beroperasi sesuai jadwal. “Ini kalau Indonesia, sebenarnya relatif aman kalau menggunakan pesawat-pesawat direct, seperti Lion, Garuda, maupun Saudi Airlines. Ada juga Batik Air dari Kuala Lumpur,” katanya.
Terkait jadwal keberangkatan jamaah umrah, Zamroni mengatakan travel yang menggunakan maskapai transit saat ini memiliki dua opsi, yakni pengembalian dana penuh (full refund) atau penjadwalan ulang (reschedule), khususnya bagi keberangkatan yang terdampak langsung. “Kalau itu yang keberangkatannya misalnya hari ini (Senin 2/3),” ungkapnya.
Namun untuk keberangkatan hari berikutnya (Selasa (3/2) dan seterusnya, kepastian masih menunggu perkembangan kebijakan dari otoritas setempat.
Contohnya, sistem yang diterapkan oleh Pemerintah Qatar bersifat penghentian sementara (temporary suspend) dengan evaluasi berkala. “Sistemnya tidak permanent, sehingga setiap 12 jam ada update informasi, apakah besok akan ada dibuka operasional bandara atau tidak,” jelasnya.
Terkait mekanisme refund, Zamroni menegaskan proses pengembalian dana difasilitasi oleh pihak travel, namun tidak dilakukan secara instan. “Jadi akan diproses mungkin beberapa hari, bahkan mungkin bisa beberapa minggu. Ini tergantung kebijakan masing-masing maskapai,” katanya.
Di sisi lain, situasi ini juga memunculkan pertanyaan dari sebagian jamaah umrah mengenai kepastian keberangkatan mereka. Zamroni menyebut pihaknya terus memberikan edukasi, terutama bagi jamaah yang menggunakan penerbangan langsung.
Dengan menyampaikan, bagi jamaah yang menggunakan penerbangan langsung, bahwa selama belum ada pengumuman resmi dari otoritas penerbangan terkait pembatalan, maka jadwal keberangkatan masih tetap berjalan sesuai jadwal (on schedule).
Kemudian, terkait kebijakan visa, ia memastikan hingga saat ini belum ada perubahan. Visa umrah masih dapat diterbitkan seperti biasa. Hanya saja, terdapat imbauan dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) agar menunda perjalanan umrah sebagai bentuk kewaspadaan.
Menurutnya, imbauan tersebut lebih ditujukan kepada calon jamaah yang belum melakukan pemesanan tiket, hotel, maupun pengurusan visa. Sementara bagi jamaah yang seluruh prosesnya sudah siap, pembatalan sepihak justru berisiko menimbulkan kerugian besar.
“Karena memang risikonya nanti kalau tidak berangkat, akan menjadi pembatalan sepihak. Tidak dapat refund, tidak dapat pengembalian dana,” tegasnya.
Komponen biaya terbesar dalam paket umrah adalah tiket pesawat, yang porsinya mencapai 60–70 persen dari total biaya perjalanan ibadah Umrah. “Jadi kalau misalnya kita cancel, ya sudah kebayang itu kerugian yang akan diterima. Baik itu jamaah, maupun nanti travel agent,” kata Zamroni.
Sementara itu, berdasarkan data tahun 2025 yang tercatat di Balai Kekarantinaan Kesehatan, jumlah warga NTB yang melaksanakan ibadah umrah mencapai sekitar 25 ribu orang setiap tahunnya.
Pada periode menjelang Ramadan, angka tersebut biasanya meningkat signifikan, bisa mencapai hingga 50 persen, terutama pada periode tertentu.
Namun hingga saat ini, DPD AMPHURI Bali – Nusra belum mengetahui secara rinci jumlah jamaah yang telah berangkat dari NTB di periode awal 2026 ini.
Zamroni mengimbau seluruh jamaah, khususnya yang terdampak penjadwalan ulang sejak 28 Februari, untuk aktif berkomunikasi dengan pihak travel dan maskapai terkait kepastian keberangkatan.
Adapun untuk keberangkatan mulai 3 dan 4 Maret serta seterusnya, ia memastikan selama menggunakan penerbangan langsung dari Jakarta maupun Malaysia, kondisi masih relatif aman.
“Insya Allah masih aman sampai dengan hari ini (Senin (2/3). Direct flight yang dari bandara dari Jakarta aman, maupun yang dari Malaysia, menggunakan Batik Air dan Air Asia itu masih aman sampai di Bandara Internasional King Abdulaziz,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa