LombokPost - Sebanyak 88 kejadian bencana alam melanda NTB, di awal tahun 2026, tepatnya dalam kurun waktu 1 Januari hingga 28 Februari 2026.
Data tersebut diungkapkan Kepala Pelaksana BPBD NTB Sadimin, yang menyebut banjir, sebagai bencana paling dominan selama dua bulan pertama tahun ini.
“Dari 88 kejadian bencana di wilayah NTB. Banjir menjadi yang paling sering, dengan 49 kejadian,” ujar Sadimin, Selasa (3/3).
Selain banjir, tercatat 29 kejadian cuaca ekstrem, 8 kejadian tanah longsor, serta 2 kejadian gelombang pasang atau abrasi. Sementara itu, untuk jenis bencana gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, erupsi gunungapi, dan tsunami, pada periode tersebut tidak terdapat kejadian.
Dampak dari rentetan bencana tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan memengaruhi ribuan warga. Sadimin menjelaskan, selama dua bulan pertama tahun 2026, tercatat 5 orang meninggal dunia dan 9 orang mengalami luka-luka.
Tidak ada laporan korban hilang dalam periode ini. Sementara jumlah warga terdampak mencapai 69.918 jiwa. “Korban jiwa tercatat lima orang meninggal dunia dan sembilan orang luka-luka. Tidak ada korban hilang. Total masyarakat terdampak sebanyak 69.918 jiwa,” jelasnya.
Kerusakan pada sektor perumahan juga cukup signifikan. BPBD NTB mencatat 444 unit rumah mengalami kerusakan, yang terdiri dari 25 rumah rusak berat, 40 rumah rusak sedang, dan 379 rumah rusak ringan.
Selain itu, sebanyak 19.561 unit rumah dilaporkan terendam akibat banjir. Tak hanya rumah warga, sejumlah fasilitas pelayanan dasar turut terdampak. Tercatat 29 fasilitas pendidikan, 5 fasilitas kesehatan, 5 perkantoran, 1 pasar, dan 2 fasilitas peribadatan mengalami dampak akibat bencana. Kerusakan juga terjadi pada sarana dan prasarana vital.
Sebanyak 12 unit jembatan mengalami kerusakan, 5.345 meter jalan terdampak, 18 meter tanggul rusak, 14 jaringan listrik terganggu, serta 700 meter jaringan air bersih mengalami kerusakan.
Di sektor sosial ekonomi, bencana yang terjadi turut memengaruhi lahan pertanian dan usaha masyarakat. Data BPBD NTB menunjukkan 1.406 hektar sawah terdampak, 60 hektar tambak atau kolam mengalami kerusakan, serta 17 unit pertokoan atau warung ikut terdampak.
Sadimin mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana, mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi memicu kejadian serupa.
“Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi dari BPBD dan BMKG guna mengantisipasi dampak bencana maupun potensi kerugian dalam perencanaan kegiatan ke depan. Selain itu, masyarakat juga diharapkan tetap menjaga kesehatan,” pungkasnya.
Editor : Marthadi