alexametrics
Minggu, 9 Agustus 2020
Minggu, 9 Agustus 2020

Resolusi Mental 2020

Opini Oleh:

M. Zakiy Mubarok
Presiden KAiL ILMU

Dalam mitologi Romawi, kita mengenal Dewa Janus. Dewa ini digambarkan berwajah ganda. Depan dan belakang. Karena itu dia bertugas menjaga pintu gerbang. Agar dapat melihat dua sisi pintu gerbang pada waktu bersamaan. Melihat apa yang terjadi di luar, sekaligus apa yang terjadi di dalam. Digambarkan pula, tangan Dewa Janus memegang kunci.

Pintu gerbang yang dijaga oleh Dewa Janus, bagi masyarakat Roma, adalah simbol pintu masa lalu sekaligus masa depan. Sementara kunci yang dipegangnya, adalah simbol kesuksesan membuka pintu masa depan.

Melalui Dewa Janus, orang Romawi ingin menyampaikan pesan, bahwa perubahan adalah akumulasi dari kesadaran masa lalu, sekaligus visi tentang masa depan. Dengan penggambaran yang demikian itu,   Dewa Janus juga menjadi simbol yang merepresentasikan perubahan, transformasi atau transisi.

Narasi singkat tentang Dewa Janus itu saya nukil dari buku ‘Demokrasi di Tangan Netizen’ (2016) karya Fayakhun Andriadi DS .

Kita telah meninggalkan tahun 2019, dan memasuki tahun 2020. Pada momentum ini melirik mitologi Dewa Janus sepertinya menemukan relevansinya. Melihat kembali setapak dua tapak perjalanan kita di tahun sebelumnya, dan memproyeksikan apa yang akan kita lakukan di hari-hari panjang selanjutnya, setidaknya setahun ke depan. Di saat yang sama kita mengidentifikasi, kunci apa yang harus kita miliki untuk mencapai puncak kesuksesan hidup.

Karena itu melakukan refleksi (asketis/perenungan) atas setahun yang kita lewati, dan (mungkin) hari-hari panjang yang akan kita kerjakan, penting dilakukan. Walau sejenak. Sebab tak jarang, refleksi mampu menghadirkan kesadaran tentang nilai-nilai dalam kerangka mencapai kebahagiaan hidup.

Banyak kisah tentang kekuatan refleksi yang berujung pada hadirnya kesadaran diri tentang inti hidup yang sejati.

Salah satunya kisah ketika Sidharta Gautama yang memilih jalan asketis  (pertapaan/permenungan/refleksi) setelah terpana dengan kehidupan di luar istananya yang penuh dengan penyakit, kemiskinan, dan kekumuhan. Melalui kisahnya itu kita bisa mengambil contoh betapa permenungan/refleksi mampu menghadirkan nilai-nilai yang menjadi inti hidup manusia.

Dikisahkan, Gautama menjalani laku hidup asketis dan meninggalkan keluarganya. Dia memilih hidup miskin, dan menolak kemewahan dunia. Kenyataan hidup yang tak pernah dijalani sebelumnya. Karena sejak kecil hingga remaja, sebagai anak bangsawan, orang tuanya sengaja mengasingkannya dari aneka kekurangan dan kemiskinan.

Gautama duduk termenung (tapa brata) berhari-hari di bawah Bodhi Tree. Ia merenungkan dan mengeksplorasi cara membebaskan diri dari penderitaan hidup.

Proses asketis yang dijalani Gautama, mengantarkannya pada kesadaran, bahwa kemewahan maupun kemiskinan, bukanlah jawaban pembebasan diri dari penderitaan menuju kebahagiaan sejati.

Dengan kata lain, untuk hidup bahagia dan bebas dari penderitaan bukan disebabkan karena lingkungan. Tapi bersumber dari pikiran yang benar, perbuatan yang benar, dan jalan hidup yang benar.

Kisah Gautama dan pertemuan bathinnya dengan kesadaran tentang diri itu saya kutip dari buku “Bahagia itu Mudah dan Ilmiah” karya Denny JA yang diterbitkan oleh Kata Depan 2017.

Konon, ajaran Budha (Sidharta Gautama, red) itu telah menginspirasi metode psikologi populer “terapi kognitif” yang berkembang di Amerika Serikat sekitar 1990-an. A. Setyo Wibowo yang menyebut ini dalam pengantar buku “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring (2019).

Inti terapi kognitif adalah segala emosi yang mengganggu, sebenarnya berasal dari cara penilaian yang salah. Cara berpikir tertentu menjadi menjadi penyebab munculnya simtom-simtom yang mengganggu. Cara pandang kita yang keliru atas kejadian dalam hidup menyebabkan kita stress, gelisah, depresi, atau marah-marah tanpa alasan yang jelas.

Bagi kaum stoa (penganut aliran filsafat stoa) yang diterjemahkan Henry Manampiring dengan filosofi teras, bahagia itu sederhana. Yakni, ketika kita terbebas dari emosi atau segala perasaan yang mengganggu.

Dalam pandangan Islam, melalui Qur’an Surat As-Syam ayat 7 – 10, Allah SWT berfirman :

”Demi jiwa sorta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya, beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya”.

Melalui surat yang lain yakni Qur’an Surat Yusuf ayat 53 ditegaskan, nafsu manusia selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh-Nya.

“Dan aku tidak bisa membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Abu Usman Al Jahiz memaparkan, manusia dibedakan dalam tiga kategori. Pertama, diri yang didominasi oleh keinginan dan kesenangan. Cenderung pada kesenangan materi seperti makan, minum, tempat tinggal, dan sebagainya. Kategori ini dimiliki oleh manusia dan binatang.

Kedua, diri yang didominasi oleh amarah. Cenderung pada kejahatan, kerusakan, keberlebihan, kesesatan, keingkaran, dan sebagainya. Ketiga, diri yang didominasi oleh intelektual.

Diri yang mampu berpikir, mengingat, mengkaji, mengidentifikasi, membedakan sesuatu, dan sebagainya. Kategori ketiga ini hanya dimiliki manusia. (Ahmad Mufid AR, Mengasah Intuisi, Sebuah Perenungan Tasawuf : 2018).

Keyakinan, nilai-nilai, identitas, ekspektasi, sikap, kebiasaan, opini, dan (termasuk) pola pikir tentang diri kita, orang lain, dan hidup, oleh James Arthur Ray (Penulis Buku The Science of Success) disebut sebagai mindset. Melalui mindset kita menafsirkan (memaknai) apa pun yang kita lihat, dan kita alami dalam hidup.

Sebagai mahluk intelektual, kendati permenungan/asketisme/refleksi itu penting kita lakukan, namun demikian seperti kata Denny JA, karena peradaban sudah bergerak maju maka spekulasi filsafat hendaknya digantikan (dibarengi  istilah ini dari penulis) oleh riset ilmiah.

Pertanyaan yang sama (tentang bagaimana hidup sukses dan bahagia) dijawab tak lagi melalui renungan dan kontemplasi belaka, tapi dengan labolatorium, pemindaian otak manusia, survei opini publik, studi kasus, uji statistik, riset eksperimental, dan aneka teknik riset lainnya. Kalau meminjam bahasa Kuntowijo, selamat tinggal mitos, selamat datang realitas. Wallahu’alam Bishawab.

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dewan Lombok Barat Minta Pekerja Hiburan Malam Jalni Rapid Test

Antisipasi penyebaran covid di tempat hiburan malam bisa lebih ketat. DPRD Lombok Barat (Lobar) mengusulkan para pekerja hiburan malam untuk dirapid test. ”Ini juga masuk bagian protokol kesehatan,” kata Ketua DPRD Lobar Hj Nur Hidayah, Jumat (7/8)

Fitch Ratings Indonesia Naikkan Peringkat Bank Bukopin Jadi AA-

Peringkat Nasional Jangka Panjang Bank Bukopin dinaikkan menjadi ‘AA-(idn)’ dari ‘BBB+(idn)’

Mata Air Lombok Utara Hanya Tersisa 77 Titik

Pemerintah KLU mencatat jumlah mata air potensial hanya tersisa 77 titik. Angka potensial itu terdeteksi sangat minim, dibandingkan total 238 mata air yang sebelumnya ada.

NTB Tuan Rumah Festival Ekonomi Syariah 2020

Provinsi NTB terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) atau Festival Ekonomi Syariah Indonesia ke-7 tahun 2020. ”Provinsi NTB sekaligus menjadi koordinator penyelenggaraan festival tahun ini,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam pembukaan ISEF 2020 secara virtual, Jumat (7/8).

Layangan Nyangkut Ganggu Jaringan Listrik Lombok

MATARAM-Akhir-akhir ini layang-layang kerap mengganggu aktivitas warga. Layangan putus banyak nyangkut di jaringan listrik PLN. Akibatnya listrik harus dipadamkan. ”PLN mencatat beberapa kali gangguan listrik yang disebabkan oleh layang layang,” kata Manager PLN UP3 Mataram Dony Noor Gustiarsyah, Jumat (7/8).

Tahun ini NTB Butuh Rp 8,3 Miliar Tangani Kekeringan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dana penanganan kekeringan tidak pernah sedikit. Tahun ini, BPBD NTB kembali mengusulkan dana hingga Rp 8,3 miliar lebih untuk atasi bencana kekeringan. ”Ini sedang kami usulkan mudahan dananya tersedia,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahmadi, Jumat  (7/8).

Paling Sering Dibaca

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Idola Baru Wisatawan, Bukit Pal Jepang Terapkan Sistem Booking Online

Begitu dibuka, Bukit Pal Jepang Desa Sapit, Kecamatan Suela, jadi incaran wisatawan. Dalam sebulan, bukit dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut itu sudah didaki 3.550 wisatawan. Ibarat tengah berpuasa, inilah waktunya berbuka, setelah selama pandemi Covid-19 menahan dahaga akan sepinya wisatawan.

TGB Dukung Mohan, Bang Zul Jagokan Selly di Mataram

Jika Bang Zul (panggilan akrab H Zulkieflimansyah) mendukung pasangan Hj Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan (paket Salaman). Maka tidak dengan TGB. Pria yang berkuasa selama 10 tahun di NTB itu memilih mendukung pasangan H Mohan Roliskana-TGH Mujibburahman (pasangan Harum).
Enable Notifications.    Ok No thanks