alexametrics
Jumat, 27 November 2020
Jumat, 27 November 2020

Perangkat Digital vs Kesehatan Mata: Lawan atau Kawan?

dr. Monalisa Nasrul, SpM Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, Dokter Mata RS Universitas Mataram, Sekretaris PERDAMI (Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia) Cabang NTB

TIDAK dapat dielakkan, pandemi Covid-19 yang melanda seluruh penjuru dunia telah berjalan hampir 8 bulan lamanya. Sebagai konsekuensinya, kita diperkenalkan dengan cara hidup baru yang meliputi social/physical distancing di semua lini kehidupan untuk mencegah penyebaran virus ini. Terjadi perubahan mendasar pada pola hidup sehari-hari.

Hampir semua kegiatan pindah ke rumah, interaksi dan komunikasi berpindah ke sistem online. Sekolah, bekerja, belanja, berobat, hiburan, bahkan jalan-jalan pun sekarang dilakukan dari rumah. Melalui apa? Apa lagi kalau bukan perangkat digital seperti gawai (handphone), tablet, komputer, televisi dll.

Beberapa hasil survey tentang durasi penggunaan perangkat digital selama pandemi melaporkan terdapat peningkatan cukup besar pada durasi penggunaan perangkat digital selama pandemi COVID-19 di hampir seluruh penjuru dunia. Kemdikbud masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sampai saat ini sehingga terjadi peningkatan durasi penggunaan gawai sebesar dua kali lipat dibandingkan sebelum PJJ.

Begitu pun para pekerja, walaupun saat ini banyak kantor yang sudah memberlakukan jam kerja seperti normal. Tetap saja, peningkatan screen time juga terjadi akibat kebutuhan masyarakat akan hiburan dan koneksi dengan keluarga dan teman.

 

Tanda dan Gejala

 

Sebuah studi (belum dipublikasikan) oleh PERDAMI NTB dan FK Unram yang dilakukan pada bulan Mei 2020 mencatat sebanyak 79,2% responden mengalami keluhan pada mata. Sejak pandemi berlangsung, 58.9% responden menyatakan keluhannya makin berat. Sebesar 81.9% responden pada studi tersebut menggunakan perangkat digital selama 6-8 jam setiap harinya.

Jumlah kunjungan atau konsultasi ke dokter mata terkait gangguan mata akibat penggunaan perangkat digital dilaporkan meningkat. Keluhan seperti mata perih, berair, pegal, seperti ada yang mengganjal di mata, sakit kepala dan makin buram untuk melihat jauh merupakan keluhan yang paling sering diutarakan. Keluhan lain seperti nyeri tengkuk, lengan atas, punggung dan bahu serta gangguan tidur juga bisa merupakan akibat penggunaan perangkat digital yang berlebihan. Kumpulan gejala ini sering disebut juga dengan digital eye strain, computer vision syndrome dan sindroma mata kering.

 

Bagaimana Cara Kita Menjaga Kesehatan Mata terkait Penggunaan Perangkat Digital?

Pertama, batasi waktu pemakaian perangkat digital. Para ahli merekomendasikan lama/durasi pemakaian perangkat digital secara terus menerus hanya selama 20 menit. Setelah 20 menit, mata harus diistirahatkan dengan mengalihkan pandangan dari perangkat digital selama 20 detik. Mata bisa diistirahatkan dengan menatap objek yang berada lebih dari 6 meter dari kita seperti ke halaman atau kebun.

Hal ini dilakukan berulang-ulang setiap 20 menit. Bila sudah menggunakan perangkat digital selama 2 jam, istirahat selama 15 menit dengan peregangan sederhana atau berjalan. Tindakan-tindakan di atas sangat sederhana, namun berdampak besar untuk mencegah kelelahan otot mata yang berujung pada keluhan-keluhan di atas yang tentu saja tidak kita inginkan.

Kedua, gunakan monitor yang lebih besar. Menggunakan gawai untuk pembelajaran jarak jauh bagi para siswa akan memberikan stress berlebih pada mata dibandingkan dengan memakai komputer/laptop/ tablet. Mata akan dipaksa untuk bekerja lebih berat saat menatap huruf-huruf yang lebih kecil. Sehingga bila terpaksa menggunakan gawai, perbesarlah ukuran huruf pada gawai Anda.

Ketiga, ingatkan diri Anda untuk berkedip saat sedang menggunakan perangkat digital. Normalnya mata mengedip 12-14 kali per menit agar mata tetap lembab dan penglihatan jernih. Namun, saat menggunakan gawai, frekuensi berkedip menjadi hanya sebanyak 5-7 kali per menit. Hal ini memicu terjadinya mata kering dan keluhan tidak nyaman pada mata.

Keempat, sesuaikan intensitas cahaya dari layar perangkat digital (brightness) dengan kondisi pencahayaan ruangan. Bila ruangan agak gelap, kurangi kecerahan layar monitor, begitu juga sebaliknya. Namun, hindari menggunakan layar dengan pencahayaan yang terlalu terang karena akan membuat sel-sel penerima cahaya di mata dan otot mata semakin mudah lelah. Luangkan waktu untuk mengatur intensitas cahaya di layar perangkat digital Anda karena hal kecil ini bisa menjaga mata tetap nyaman selama beraktivitas.

Kelima, posisikan badan secara ergonomis selama menggunakan perangkat digital. Jarak antara mata dengan perangkat digital minimal 30 cm dan layar berada lebih rendah dari mata. Duduk tegak dengan punggung bersandar pada kursi serta menggunakan meja dengan ketinggian yang sesuai. Posisikan kaki agar menapak dengan nyaman di lantai.

Atur letak layar monitor agar tidak memantulkan cahaya lampu atau sinar dari jendela. Posisi ini bisa menghindari kita dari gangguan sakit lengan, tengkuk, bahu, punggung bahkan tulang belakang.

 

Apabila Sudah Ada Keluhan pada Mata, Apa yang Bisa Dilakukan?

Istirahatkan mata secara total dari menggunakan perangkat digital, kompres mata dengan air dingin selama 5-10 menit sebanyak 3-4 kali sehari. Terdapat tetes mata berupa pelembab mata yang dijual bebas di apotik, namun, sangat berhati-hatilah dalam membeli obat tetes mata karena ada obat tetes mata yang bisa mengakibatkan gangguan serius pada mata bila digunakan tanpa resep dokter.

Bila keluhan mata menetap lebih dari 3 hari, segera periksakan diri ke Fasilitas Kesehatan terdekat. Bisa jadi mata Anda membutuhkan bantuan obat-obatan tambahan atau kacamata selain melakukan pencegahan seperti pada poin 1 sampai 5. Dengan menaati protokol pencegahan infeksi COVID-19, fasilitas Pelayanan Kesehatan tetap aman untuk dikunjungi pada kasus-kasus mendesak (urgent).

Selamat Hari Penglihatan Sedunia, 8 Oktober 2020. Hope in Sight. Jaga kesehatan mata karena mata adalah jendela dunia. (*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Mandiri Syariah Launching Fitur E-mas di Mandiri Syariah Mobile

Berdasarkan tren dan kebutuhan customer tersebut, kami melakukan inovasi produk layanan digital berbasis emas melalui fitur e-mas di MSM,” jelas Syafii.

Rumah Ditandai, Ratusan Penerima PKH Mendadak Mengaku Mampu

Langkah yang dilakukan Dinas Sosial Kota Mataram cukup ampuh untuk memverifikasi data penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Setelah melakukan labelisasi di rumah warga penerima PKH, ratusan warga mendadak menyatakan diri sebagai keluarga mampu alias memutuskan keluar dari program PKH.

Makmur : Warga Mataram Pemilih Cerdas

Kritik terhadap jalannya debat Pilkada Kota Mataram yang telah terlaksana dua kali datang dari sejumlah pihak. Banyak yang menilai debat monoton, datar bahkan ada yang mensinyalir debat sebagai sebuah konspirasi.

Ini Dia Morikai, Masker Wajah dari Daun Kelor Bikin Wajah Kinclong

Nurul Rahmadani begitu kreatif. Perempuan jebolan Agri Bisnis Universtas Mataram ini memanfaatkan daun kelor sebagai bahan kosmetik. Terutama masker wajah.

Peluang Raih Hati Pemilih Mataram di Debat Terakhir

Sejauh ini, beberapa lembaga survei mengunggulkan H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (Harum). Elektabilitas pasangan ini disebut jauh meninggalkan tiga pasangan lain.

HARUM Buka Ruang Kreatif untuk Pemuda MATARAM

Gelombang revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan fundamental pada berbagai tatanan kehidupan global. Hal ini ditandai dengan semakin berkembangnya kreativitas dan inovasi berbasis pemanfaatan teknologi informasi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Kisah Sukses Juragan Lobster NTB : Sekali Panen Rp 1 Miliar

Budi daya lobster sungguh menjanjikan. Inilah hikayat mereka-mereka yang hidupnya berbalik 180 derajat karena lobster. Sekali panen, ratusan juta hingga Rp 1 miliar bisa...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Rumah Ditandai, Ratusan Penerima PKH Mendadak Mengaku Mampu

Langkah yang dilakukan Dinas Sosial Kota Mataram cukup ampuh untuk memverifikasi data penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Setelah melakukan labelisasi di rumah warga penerima PKH, ratusan warga mendadak menyatakan diri sebagai keluarga mampu alias memutuskan keluar dari program PKH.

Akta Kelahiran Anak Kini Bisa Dibuat tanpa Buku Nikah

Akta kelahiran anak kini bisa dibuat tanpa melampirkan buku nikah atau akta nikah orang tua. “Sekarang ada namanya SPTJM (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak) pernikahan sebagai syarat buat akta kelahiran,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kota Mataram Chairul Anwar.
Enable Notifications    OK No thanks