alexametrics
Senin, 18 Januari 2021
Senin, 18 Januari 2021

Jalan Baru Industrialisasi ala Bang Zul

Oleh:

H Ahsanul Khalik, M.H.
Kepala Dinas Sosial NTB

BEBERAPA hari belakangan ini muncul gugatan, pertanyaan, serta keraguan akan narasi besar Gubernur NTB H Zulkieflimansyah atau yang karib disapa Bang Zul, tentang industrialisasi yang sejak kepemimpinannya menjadi fokus utamanya.

Tudingannya, Bang Zul dianggap tidak melakukan apa-apa. Bahkan cenderung mendomplengkan nama “Industrialisasi NTB” pada berbagai inovasi yang dilakukan oleh para insan kreator industri.

Bang Zul diam saja dan tidak mau meladeninya. Tepat apa yang dikatakan Imam Syafi’i: “Qul bima syi’ta fi masbati ardhiy. Fa sukuwtiy ‘anil laiymiy jawabun. Ma Ana ‘adimul jawab, walakin ma minal asadi an tujibal kalab” (Katakanlah sekehendak hatimu dalam mencela kehormatanku. Sebab diamku terhadap para pencela merupakan jawaban. Bukannya aku tidak mampu menjawab tantangan kalian. Namun, tidaklah pantas seekor singa memenuhi undangan bertarung seekor anjing).

Anggapan bahwa Bang Zul belum berbuat apa-apa dan hanya omong besar tentang industrialisasi adalah prasangka yang boleh saja benar bagi orang yang belum mengenal sepak terjang Bang Zul. Benar sentilan syair Arab klasik, “An-nasu a’dauw ma jahiluw” (Orang cenderung membenci hal-hal yang belum diketahui). Kejahilan pikiran itulah yang menyebabkan lahirnya narasi ketidaksukaan.

Simsalabim berdiri perusahaan/manufaktur besar di NTB mungkin itu yang dimaksudkan industrialisasi. Saya kira ini adalah kerancuan berpikir dan lompatan bertindak yang kurang tepat karena dengan anasir yang demikian, maka kita hanya akan menjadi penonton padahal kita terlalu besar hanya menjadi penggembira. Karenanya, literasi industrialisasi adalah jalan tempuh yang dilakukan oleh Bang Zul. Bukan hari ini, bukan kemarin, bukan tahun lalu tapi Bang Zul sudah menginisiasinya jauh sebelum berpikir dan atau menjadi Gubernur NTB.

Literasi industrialisasi inilah pertama yang dilakukan Bang Zul. Sebut saja misalnya dengan membangun SMK Al-Kahfi pada tahun 2014: sebuah SMK berbasis pesantren dan mendekatkan santrinya dengan praktik industrial. Sejak berdiri, Al-Kahfi telah banyak melakukan terobosan. Seperti mengembangkan Kawasan Ekonomi Masyarakat pegunungan sekitar Batu Alang dan sudah mengelola Air Siap Minum (Arsinum) RO Al-Kahfi.

Untuk jangkar industrialisasi yang lebih besar, Bang Zul menginisiasi pembentukan Universitas Teknologi Sumbawa yang diharapkan sebagai centre of science and technology di Kawasan Indonesia Bagian Timur. Tak tanggung-tanggung, Bang Zul merekrut tenaga-tenaga pengajar terbaik lulusan dalam dan luar negeri; mengirim dosen dan mahasiswa UTS untuk menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi pilihan di Amerika, Jepang, Inggris, Jerman dan sebagainya.
Bang Zul juga menginisiasi terbentuknya Science Techno Park (STP) Sumbawa yang dihajatkan untuk peningkatan kapasitas SDM dan Iptek dalam rangka pengembangan klaster-klaster industri, inkubasi bisnis dan teknologi yang akan mendukung sektor pertanian, kelautan, dan lainnya yang menjadi potensi dan kekuatan NTB.

Setidaknya, STP telah berhasil membuat biogas dari sampah organik sebagai energi terbarukan, pengadaan bibit kurma dengan jenis kelamin tertentu bagi perkebunan di Kabupaten Dompu dengan luas lahan 100 hektar (investor dari Brunei), teknologi pemijahan, dan budidaya teripang.

Untuk menjawab kekurangan sumberdaya manusia di bidang operator alat berat, Bang Zul pada tahun 2016 menginisiasi terbentuknya Akademi Olat Maras (AKOM); Program Studi Diploma Satu Teknik Alat Berat. AKOM merupakan upaya untuk menyediakan tenaga kerja terdidik dan siap pakai dalam operator alat berat yang saat ini dirasakan masih kurang.

Demikian halnya dengan Science, Technology, dan Industrial Park (STIPark) NTB, yang merupakan teknopark milik provinsi pertama di Indonesia, yang diarahkan sebagai pusat inkubasi bisnis, pelatihan, inovasi, pengembangan teknologi, bahkan sasaran marketnya bagi siapapun yang ingin menekuni bisnis bidang permesinan, industri olahan, industri kreatif, IT, dan software development. SMK-SMK di NTB juga ditantang untuk melahirkan inovasi-inovasi teknologi yang akan dibantu pemasarannya oleh Pemprov NTB.

Karenanya, visi yang ditawarkan oleh Bang Zul tentang industrialisasi berbasis high tech bukanlah gagasan simsalabim yang langsung bisa dirasakan secara instan. Ide besar Bang Zul tentang industrialisasi adalah visi besar tentang halaman depan NTB 10-20 tahun ke depan. Industrialisasi yang terjadi di Barat sampai hari ini misalnya adalah proyeksi panjang yang dimulai dengan mekanisasi yang terjadi pada periode antara tahun 1750-1850 yang dikenal dengan Revolusi Industri.

Tapi bukan berarti karena terjebak pada narasi teoretis tentang industrialisasi, lalu kita tidak melakukan apa-apa. Bang Zul misalnya kerapkali mengatakan, “A journey of thousand miles, should be started by a single step” (Jalan panjang selalu harus dimulai dengan langkah pertama) dengan ‘memotong’ cara berpikir konvensional tentang industrialisasi.

Jadi, industrialisasi, sekali lagi, tidak melulu berbicara industri besar dengan mesin-mesin canggih. Praktik industrialisasi ala Bang Zul adalah mendekatkan masyarakat dengan perilaku industrial melalui edukasi dengan dihadirkannya berbagai tingkat pendidikan untuk mendukung tersedianya thinkers and operators, pelatihan dan training UMKM-IKM di NTB, pendistribusian mesin-mesin yang diproduksi oleh IKM lokal NTB, digitalisasi produk-produk UMKM-IKM, kemudahan investasi, promosi produk UMKM NTB di berbagai daerah dan luar negeri, serta yang teranyar adalah lahirnya Perda yang memberikan perlindungan kepada UMKM lokal dengan keharusan bagi pegiat dunia usaha untuk memprioritaskan produk UMKM.

Pun pemerintah, Pemprov NTB, tidak harus membangun pabrik. Tapi salah satunya adalah pihak swasta dengan mengarus-utamakan pengusaha lokal, IKM lokal, dan kreator-inovator muda NTB di mana Pemda memberi ruang, mengakomodasi, menggencarkan pemakaian, serta membantu pemasaran di tingkat regional, nasional, bahkan memperkenalkan ke pasar internasional, juga adalah bagian dari industrialisasi. Langkah ini memang nampak sederhana tapi bukankah langkah panjang selalui dimulai dengan langkah kecil dalam skala simple industrialization.

Kita, karenanya, harus membebaskan pikiran kita sejenak dari definisi lama yang mengandaikan industrialisasi sebagai produksi massal yang berbasiskan high tech dan mesin besar yang memang dikritik oleh Bang Zul sehingga industrialisasi menjadi nampak berat dan rumit. Memperkenalkan teknologi untuk lahirnya industrialisasi di negara berkembang seperti di negara kita memang tak semudah membalikkan telapak tangan.

Kita sudah lama dicecoki seakan-akan teknologi itu barang mewah dan hanya monopoli negara-negara maju. Itu tidak salah, tapi itu adalah stereotype pengembangan teknologi di negara maju. Di negara berkembang, termasuk seperti di NTB, dapat diawali dengan mekanisasi dengan inovasi sederhana dengan sentuhan sedikit teknologi untuk meningkatkan produktivas pelaku usaha.

Harapannya, para pelaku usaha lokal dapat mengembangkan usahanya secara profesional sehingga ke depan akan lahir industri kerakyatan yang maju dengan kualitas produk yang sama baiknya dengan industri besar serta harga yang kompetitif sehingga kelak mereka mandiri dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Yang dibutuhkan sekarang adalah Pemerintah mau mengerti dan menghargai serta pasar yang mau menerima produk kreator-inovator dari NTB. Kalau sudah ada yang mau membeli dan menghargai, maka mereka akan terpacu untuk memperbaiki kualitas produksinya.

Industrialisasi sederhananya adalah upaya kita untuk tidak lagi menjual barang mentah. Tapi mencoba mengolahnya di NTB menjadi produk-produk bernilai tambah lebih tinggi, yang harapannya akan memunculkan industri-industri turunan lainnya. Menurut hemat saya, NTB sudah memulainya. JPS Gemilang dengan mengakomodasi produk-produk UMKM lokal yang diolah dengan mesin-mesin produk IKM lokal adalah pertanda baik bahwa NTB di bawah kepemimpinan Bang Zul sudah on the right track menuju industrialisasi.

Industrialisasi, penguasaan sains dan teknologi adalah keniscayaan bagi sebuah bangsa dan peradaban untuk naik kelas dan NTB sedang beranjak belajar naik kelas. “It is better to light a candle than to curse the darkness”. Lebih baik menyalakan sejumput lilin daripada terus mengomel mengutuk kegelapan. (*)

Berita Terbaru

Enable Notifications   OK No thanks