alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Meskipun Ada Hujan di Puncak Kemarau, Kekeringan Masih Mengancam NTB

Suci Agustiarini Prakirawan BMKG-Stasiun Klimatologi Lombok Barat

KEMARAU 2020 ini terasa cukup berbeda. Puncak musim kemarau di Juli-Agustus yang sejatinya kering dengan hujan yang sangat sedikit tidak begitu terasa di beberapa wilayah di NTB. Beberapa hari yang lalu dibeberapa wilayah di NTB terpantau terjadi hujan bahkan dengan intensitas lebat.

Bagi beberapa komunitas, anomali ini mungkin menjadi anugerah di tengah-tengah kemarau seperti berkurangnya potensi pembentukan titik panas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, namun juga bagi komunitas yang lain seperti nelayan mampu mengganggu aktivitas pernelayanan mereka. Disisi lain, dibeberapa wilayah juga sudah berada pada kondisi kekeringan. Jomplangnya kondisi ini tentunya merupakan suatu kondisi yang tidak lumrah terjadi.

 

Kondisi Iklim Terkini di NTB

 

Gejolak dinamika atmosfer tentunya mengambil peran penting terjadinya anomali-anomali iklim yang terjadi belakangan ini. Berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh BMKG beberapa parameter iklim baik yang berskala lokal hingga global yang berkontribusi dalam pembentukan awan-awan hujan di NTB menunjukkan adanya anomali-anomali yang cukup mendukung terbentuknya hujan di puncak musim kemarau ini meskipun tidak merata, diantarany aktifnya ENSO pada katagori La-Nina lemah, adanya intervensi angin baratan di lapisan udara atas, adanya wilayah-wilayah tekanan rendah disekitar NTB, hangatnya perairan di sekitar wilayah NTB dan kelembaban udara yang cendrung lebih basah dibandingkan dengan normalnya/kebiasaanya.

Kondisi-kondisi tersebut tentunya masih dapat berubah-ubah. Pada dinamika atmosfer berskala global seperti ENSO, perubahan kondisnya mampu terjadi dalam durasi waktu yang lama. Meskipun pada akhir-akhir ini terpantau pada La Nina yang dapat meningkatkan pembentukan awan hujan di NTB namun dampak yang dirasakan belum begitu terasa.

Hal ini disebabkan oleh kondisi La-Nina yang kemunculannya baru saja terjadi. Semetara itu parameter lain yang cendrung bersifal lokal hingga regional dimana kejadiannya sangat mudah berubah seperti angin, kelembaban, dan tekanan udara yang mengambil peran yang lebih dominan dalam peningkatan hujan di puncak musim kemarau ini.

Curah hujan yang terjadi pada pertengahan Agustus 2020 lalu secara umum memiliki intensitas yang rendah yang terjadi hampir diseluruh wilayah NTB, namun di sebagian wilayah di Lombok Barat yaitu di Kecamatan Gerung, Gunung Sari, Kediri, Sebagian Lombok Tengah yaitu Batukliang Utara dan Peringgarata, Sebagian Lombok Timur yaitu di kecamatan Lenek Duren, Pringgasela, dan di Lenangguar Kabupaten Sumbawa terjadi hujan dengan intensitas 50 – 100 mm/dasarian atau dalam katagori menengah. Akibat adanya gangguan atmosfer tersebut sebagian besar wilayah NTB pada dasarian II Agustus lalu sifat hujannya berada pada katagori Atas Normal.

Di samping itu, perlu diperhatikan juga terdapat beberapa wilayah yang telah tidak mengalami hujan dengan durasi yang Panjang yaitu >60 hari. Bahkan disebagian wilayah Dompu hujan tidak pernah terjadi lagi sejak 3 bulan terakhir ini.

 

Kekeringan Meteorologis NTB Terkini

 

Dalam istilah kebencanaan Kekeringan didefinisikan sebagai kurangnya ketersediaan air dalam memenuhi kebutuhan air dalam bebrbagai aspek kehidupan seperti, air bersih untuk minum dan mandi, air untuk pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Dalam hal ini BMKG melakukan monitoring kekeringan akibat berkurangnya salah satu sumber air di muka bumi ini yaitu curah hujan.

Kekeringan seperti itu disebut sebagai Kekeringan Meteorologis. Monitoring Kekeringan Meteorologis BMKG didasari oleh analisis Kejadian Hari Tanpa Hujan yang selalu diupdate dalam waktu 3 kali dalam sebulan yaitu setiap tanggal 10, 20 dan diakhir bulan. Berdasarkan hasil monitoring terakhir, sejak Kemarau datang sedikitnya 41 kecamatan di NTB telah tidak terjadi Hujan >1 Bulan bahkan 22 diantaranya Hari Tanpa Hujan termonitoring>60 hari atau lebih dari 2 bulan lamanya.

Wilayah-wilayah tersebut diantaranya Jerowaru, Sambalia di Lombok Timur, Praya Timur di Lombok Tengah, Wawo, Belo, Soromandi, Madapangga di Bima, Moyo Utara, Buer, Rhee, Batulanteh, Lape, Moyohilir, Sumbawa, Utan, Terano, Plampang Orongtelu di Sumbawa, Pajo, Kilo, Manggalewa dan Huu di Dompu.

 

Peringatan Dini Kekeringan Iklim Ekstrem di NTB

 

Selain monitoring Kekeringan, BMKG juga tentunya memberikan Peringatan Dini Kekeringan yang juga dikeluarkan 3 kali dalam sebulan. Dalan informasi ini, level peingatan dibagi kedalam 3 katagori yang secara berturut-turut tingkat kebahayaanya yaitu Waspada, Siaga dan Awas. Peringatan ini didasarkan pada monitoring hari tanpa hujan berturut-turut dan peridiksi curah hujan hingga dua dasarian berikutnya.

Wilayah dengan hari tanpa hujan yang panjang dan dengan prediksi curah hujan yang rendah tentunya akan berpotensi mengalami kekeringan. Semakin parah kekeringan yang mungkin terjadi maka wilayah tersebut akan diperingati pada level tertinggi yaitu Awas.  Faktanya kekeringan masih mengantai bahkan mengancam dibeberapa wilayah di NTB.

Peringatan Dini Kekeringan yang dikeluarkan BMKG pada update terakhir menyebutkan sebagian wilayah di sebagian wilayah Dompu, Sumba, dan Bima berada pada level SIAGA hingga AWAS, sementasa itu sebagian wilayah Lombok Timur dan Lombok Utara berada pada level WASPADA dingga SIAGA.

Melihat masih adanya ancaman kekeringan di beberapa wilayah di NTB, kita sebagai masyarakat yang pintar tentunya dapat melakukan berbagai langkah anitisipasi untuk mengurangi dampak buruk yang mungkin timbul akibat kekeringan tersebut. Satu diantaranya yaitu bijaksana dalam penggunaan air sesuai dengan yang dibutuhkan, guna keberlangsungan pemenuhan air bersih khusunya untuk minum agar terhindar dari dehidrasi.

Selain itu juga tidak membakar lahan atau sampah sembarangan, mengingat saat kekeringan titik-titik panas yang ada dibawah permukaan tanah mudah tersulut dan dapat menyebabkan kebakaran semak, lahan hingga hutan, bagi petani perlu memperhatikan sistem irigasi yang baik terlebih pada beberapa hari yang lalu terjadi hujan dibeberapa wilayah yang dapat menyuplai ketersediaan airnya selama periode musim kemarau ini. (*)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks