alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Prof. Jamaluddin, Islam Sasak dan Melayu

Oleh: Rosiady Sayuti, Ph.D. Ketua Prodi Sosiologi Universitas Mataram

SAYA merasa sangat beruntung berkesempatan untuk menghadiri secara langsung pengukuhan Guru Besar Professor Jamaluddin, MA di Auditorium UIN Mataram tanggal 5 September yang lalu.

Beliau adalah kawan baik saya, yang sepengetahuan saya adalah Guru Besar Pertama  atau mungkin satu-satunya Guru Besar di Bidang Sejarah dan Kebudayaan Islam dari UIN Mataram, yang menggali dengan sangat harti-hati sejarah dan peradaban Islam di Bumi Seribu Mesjid ini.

Berbagai referensi yang kita jadikan rujukan terkait dengan sejarah Lombok ataupun sejarah Islam di Lombok umumnya berasal dari luar negeri.  Sebutlah misalnya, Alfons van der Kraan, denga bukunya Lombok: Conquest, Colonization, and Underdevelopment 1879-1940;  terbit 1980; kemudian  J.P. Freijss dengan publikasinya bertajuk Reizen naar Managari en Lombok in 1854-1856, yang terbit tahun 1860, ataupun John Ryan Bartholomew dengan bukunya Alif Lam Mim: Reconciling Islam, Modernity and Tradition in an Indonesian Kampung, terbit 1999. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Imron Rosyidi dengan judul Alif Lam Mim, Kearifan Masyarakat Sasak, diterbitkan oleh Penerbit Tiara Wacana.

Sebagai seorang putra Lombok, Prof. Jamal tentu memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dalam rangka ‘membuka tabir’ sejarah Islam di Lombok. Dick van Der Meij, guru Prof Jamal dari Belanda yang merupakan salah satu pemerhati sejarah Islam di Lombok, mengatakan dalam Pengantarnya pada Buku “Sejarah Islam Lombok: Abad XVI-XX” karya sang professor yang dibagikan ketika pengukuhan tersebut menyatakan bahwa “Islam di Lombok untuk kebanyakan sarjana Islam masih merupakan sebuah buku tertutup.”

Artinya, apa yang ada sekarang atau selama ini terkait dengan sejarah Islam di Lombok masih sangat terbatas yang dipublikasi.  Atau dengan bahasa yang lain, kajian tentang sejarah islam di Lombok masih sangat minim.  Itulah saya kira sebabnya, mengapa persoalan Islam Waktu Telu di Lombok bagian utara, misalnya, masih juga menjadi perdebatan. Baik terkait definisinya, maupun karakteristik dan sebagainya.

Yang menarik dari Pidato Pengukuhan Professor Jamal menurut saya adalah uraiannya yang menjelaskan hubungan antara Islam di Lombok dengan Islam di Sumatra atau antara Islam Sasak dengan Islam Melayu.  Isu ini menjadi menarik, karena selama ini, kita memahami bahwa Islam di Lombok atau Islam Sasak ini disebarkan pada mulanya oleh Sunan Prapen, seorang Sunan dari Kerajaan Majapahit.

Itu artinya, Islam di Lombok ini dipengaruhi dengan sangat siginifikan oleh Islam Jawa, dengan segala karakteristiknya.  Belum ada referensi yang menyatakan, sebelum Prof. Jamal, – bahwa sesungguhnya Islam di Lombok ini banyak memiliki kesamaan dengan Islam Melayu.

Berbagai tradisi yang bernuansa Islam seperti barzanji, pembacaan hikayat, dan bahkan mauludan, menurut Prof. Jamal lebih mirip dengan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam Melayu, ketimbang dibandingkan dengan tradisi keislaman masyarakat Islam Jawa. Mengapa demikian?

Itulah yang diteliti secara mendalam oleh Prof. Jamal.  Dari berbagai temuannya itu, salah satu yang menarik menurut saya adalah bahwa Sunan Prapen yang sangat tekenal dalam proses penyebaran Islam di Lombok pada abad ke 16 M ternyata tidak sendirian.  Beliau ditemani oleh banyak tokoh yang berpengaruh dan berasal dari kalangan yang juga tidak sembarangan, seperti  Patih Mataram, Arya Kertasura, Jaya lengkara, Adipati Semarang, Tumenggung Surabaya, Tumenggung Sedayu, Tumenggung Anom Sandi, Ratu Madura, dan Ratu Sumenep.

Salah seorang yang juga ikut dalam rombongan Sunan Prapen dalam mengislamkan Lombok kala itu adalah seorang dai yang diutus oleh Penguasa  Kerajaan Palembang bernama Haji Duta Samudra. Haji Duta Samudra ini adalah tokoh Melayu pertama yang aktif dalam menyebarkan agama islam di Lombok bersama sama dengan Sunan Prapen.  Tokoh dari suku  Melayu  lain yang juga di bawa oleh Sunan Prapen menyebarkan Islam di Gumi Sasak ini adalah Datuk Ribandang.

Oleh Sunan Prapen, Datuk Ribandang ini diperintahkan untuk menyebarkan islam tidak hanya di Pulau Lombok, tapi juga ke Pulau Sumbawa dan bahkan juga ke Makassar. Datuk Ribandang ini adalah seorang ulama dari Minang yang pernah berguru di Giri.

Bukti lain yang dipergunakan oleh Prof Jamal untuk menunjukkan hubungan pengaruh Islam Sasak dengan Islam Melayu adalah dengan meneliti corak dan karakteristik batu nisan.  Dalam temuannya disimpulkan bahwa batu nisan yang ada di Makam Selaparang, salah satunya adalah batu nisan dengan corak dan karakteristik yang sama dengan batu nisan yang ada di Aceh. Corak batu nisan yang lain di makam tersebut adalah batu nisan yang berasal dari Majapahit (Jawa), Madura, dan Makassar.

Dengan ini, Prof. Jamal ingin menegaskan bahwa karakteristik dan corak keberagamaan Islam masyarakat di Lombok, ternyata, tidak hanya dipengaruhi oleh kultur masyarakat Jawa yang dibawa oleh Sunan Prapen, tapi juga dipengaruhi oleh corak keislaman masyarakat Melayu.  Bahkan untuk hal-hal tertentu, corak Melayu ini lebih dominan pengaruhnya, hingga hari ini.

Di bagian lain dari orasinya, Prof. Jamal juga menyiggung hubungan diplomatik dan perdagangan yang terjalin dan intens antara Kerajaan Selaparang (yang sebelumnya bernama Kerajaan Lombok) di Lombok dengan kerajaan-kerajaan di Sumatra, khususnya Aceh dipenghujung utara Pulau Sumatra dan Palembang di bagian selatannya.

Berbagai narasi dan artifak yang mendukung temuan ini beliau paparkan dalam buku dan berbagai publikasi dalam bentuk jurnal yang telah diterbitkan. Dalam bidang perekenomian ini, salah satu yang menarik adalah temuan mengenai kiprah Prabu Anom, salah seorang Raja Selaparang yang membuat Pasar Global di salah satu Gili yang ada di Lombok.  Terkait dengan temuan ini, penulis ingat ketika harus membuat naskah akademik terkait dengan rencana pembangunan Global Hub di Lombok Utara.

Menurut para sesepuh yang terlibat dalam FGD yang diselenggarakan untuk itu, diceriterakan bahwa menurut penuturan nenek moyang mereka, Pelabuhan Carik yang ada sekarang sesungguhnya sudah pernah ada di masa lampau dan menjadi Pelabuhan Internasional. Artinya, di pelabuhan tersebut terjadi transaksi perdagangan antara masyarakat lokal dengan para pelaku bisnis dari mancanegara. Wallahu a’lam bissawab. (*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

14 Ribu UMKM Lombok Utara Diusulkan Terima Banpres

Jumlah UMKM KLU yang diusulkan menerima bantuan presiden (Banpres) Rp 2,4 juta bertambah. Dari sebelumnya hanya 4. 890, kini tercatat ada 14 ribu UMKM. ”Itu berdasarkan laporan kabid saya, sudah 14 ribu UMKM yang tercatat dan diusulkan ke pusat,” ujar Plh Kepala Diskoperindag KLU HM Najib, kemarin (18/9).

Cegah Penyimpangan, Bupati Lobar Amankan 640 Dokumen Aset Daerah

Dinas Arsip dan Perpustakaan Lombok Barat (Lobar) terus mencari dokumen-dokumen aset milik pemkab. ”Kalau arsip (dokumen) hilang, aset daerah juga melayang,” kata Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Lobar H Muhammad Yamil.

Penuh Sampah, Warga Dasan Geres Turun Bersihkan Sungai

Pola hidup bersih digalakkan warga di Lingkungan Dasan Geres Tengah. Salah satunya melalui program sungai bersih. ”Kita ciptakan lingkungan bersih dan asri,” kata Lurah Dasan Geres Hulaifi, kemarin.

Perintah Menteri, RT Wajib Bentuk Satgas Penaganan Covid-19

Upaya menekan penyebaran virus COVID-19 masih harus gencar. Salah satu kebijakan baru yang digagas adalah mewajibkan membentuk satgas penanganan COVID-19 hingga level kelurahan, dusun atau RT/RW. Satgas tersebut nantinya bertugas mengawal pelaksanaan kebijakan satgas pusat di lapangan.

Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

SELAMA berminggu-minggu “kegiatan tidak berarti ini” dilaksanakan tanpa ada maksud apa-apa kecuali biar sampah tidak menumpuk. Namun keberartian “kegiatan tidak berarti ini” justru menjadi simpul efektif dari kebersamaan dan rasa senasib sepenangungan seluruh komponen yang ikut bergotong royong.

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.
Enable Notifications    Ok No thanks