alexametrics
Rabu, 4 Agustus 2021
Rabu, 4 Agustus 2021

Teknologi Microculture: RAMAH-kan Bima, GEMILANG-kan NTB

Oleh : Khairuddin Juraid Korwil Bapilu NTB 1 DPP PARTAI GOLKAR

IZZUL ISLAM, anak muda kelahiran Bima yang kini mendapat kepercayaan sebagai Dekan Fakultas Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa. Menamatkan Pendidikan S1 di Universitas Brawijaya, kemudian mengambil Magister Biotechnology di Univeritas Tokyo Jepang.

Ikut menemani Izzul yaitu seorang Magister alumni Warsaw University Polandia, kajian Environmental Protection, namanya Win Ariga Mansour Malonga, S.PI, M.Sc.

Juga bergabung Dr. Ali Budhi Kusuma, S.Si., M.Sc., ALS. Yang kerap dipanggil Alidi. Menyelesaikan Studi Magister di Birmingham University dan Doktoral di Newcastle University, United Kingdom, pada jurusan Extremophilic  Microbiology and Biotechnology.

Mereka ini generasi milenial, para punggawa Sumbawa Techno Park (STP) sekaligus pendidik dan peneliti di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), milik DR. Zulkieflimansyah.

Dari ketiga anak muda inilah gagasan dan konsep teknologi microculture bermula. Dengan penuh semangat—-berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan—-mereka memaparkan bahwa  Bima bisa menjadi daerah yang maju melalui pengelolaan dan pengolahan garam.

Saatnya kami membayar hutang pada tanah tempat kami dilahirkan dan dibesarkan, ungkapnya kala matahari tersenyum menyapa hadirnya malam.

Bahkan, hasil observasi ketiga ilmuan muda ini, tambak garam Bima, berpotensi  menyimpan mikroba ekstremofilik jenis lain yang kelak juga bisa dikembangkan untuk berbagai aplikasi bioindustri lain, tidak hanya garam.

Untuk mendapatkan garam yang berkualitas diperlukan teknologi yang tepat guna. Salah satunya dengan microculture. Teknologi ini mampu memproduksi garam dalam kuantitas yang banyak dan kualitas yang baik, serta dapat memperkaya mineral-mineral lain, agar dapat memenuhi standar garam berkualitas tinggi,sesuai kebutuhan industri.

Secara teknis,  microculture adalah metode kultivasi strains bakteri halofilik lokal yang dibudidayakan dalam skala laboratorium. Bakteri ini kemudian dikontrol pertumbuhannya dan menjadi pemicu proses biomineralisasi pada kolam kristalisasi air tua, sehingga membuat kolam kristalisasi menjadi kolam hypersaline.

Teknologi ini akan fokus pada proses hulu agar kualitas dan mineral garam bisa ditingkatkan. Hasil produksi garam microculture dalam 1 ha sekitar 5 kali lipat atau >550 ton garam setiap tahun. Kelebihan lainnya dapat berproduksi sepanjang musim tanpa terkendala iklim dan cuaca.

Secara kualitas produk yang dihasilkan sangat baik dengan kadar NaCl >95% . Menariknya, masa  produksinya relatif singkat dibandingkan pola tradisional seperti sekarang ini.

Selain itu, penerapan teknologi ini juga akan meningkatkan efisiensi lahan sehingga dapat menekan kerusakan wilayah peisisir akibat pembukaan dan penggunaan lahan karena laju pertumbuhan penduduk.

Metode ini akan mengoptimalkan ekosistem mangrove yang menjadi biofilter alami untuk mendukung proses produksi. Juga  melibatkan partisipasi masyarakat dalam membangun ekosistem pesisir yang sehat guna terciptanya pembangunan berkelanjutan.

Jangka panjang, kawasan areal tambak ini bisa dikembangkan menjadi ekonomi kreatif dengan konsep EcoEduTourims berbasis Science, sehingga garam tidak hanya sebatas Komoditas.

Mengandalkan kemurahan alam saja tidak cukup dan bukan pilihan bijak untuk menjadikan Bima sebagai Lumbung Garam Nasional. Buktinya, negara-negara Mikronesia yang memiliki laut 95 persen  dari total keseluruhan teritorinya bukanlah produsen garam.

Disinilah pentingnya intervensi teknologi dan inovasi dalam mewujudkan kemajuan demi tercapainya kesejahteraan masyarakat. Sebab kunci dari swasembada garam adalah produksi massal dengan penggunaan teknologi.

Ayn Rand, seorang Filsuf dan Novelis kelahiran Rusia berkebangsaan Amerika Serikat, berujar “Bahkan jika kabut asap merupakan resiko bagi kehidupan manusia, kita harus ingat bahwa kehidupan di alam ini tanpa teknologi adalah kematian yang besar”,

Izzul, Win dan Alidi memilih jalan sunyi untuk berbakti. Cukup sudah memaki kegelapan dan mengutuk masa lalu, sebab bayangmu pun tak nampak. Saatnya kita menyalakan lilin, berKARYA menjemput masa depan yang lebih INDAH penuh keRAMAHan nan GEMILANG. Demikian !!!

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks