alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Kedai Kopi dan Buku

Oleh: Wiwik Kurniati Pustakawan MTSN 1 Mataram

SEORANG pria jangkung duduk santai di bawah tenda kecil. Ada tiga kursi kecil di sana. Dan sebuah meja. Di atasnya ada secangkir kopi hitam. Kopi Tambora. Sesekali ia menyeruput kopi. Namun pandangannya tak lepas dari sebuah buku tua. “Tangan Kecil” karya Amien Rais, cetakan tahun 90-an.

Tenda tersebut berdiri di halaman sebuah rumah di Ampenan, Kota Mataram. Bentuk rumah itu, memang seperti umumnya rumah biasa. Namun rumah itu sudah difungsikan sebagai sebuah kedai kopi. Itulah Kedai Kalikuma. Kedai ini menyediakan kopi beraneka jenis. Bukan itu saja. Ribuan eksemplar buku juga tersedia. Biasa dibaca sepuasnya. Gratis. Tentu saja, tidak untuk kopinya.

Konsep kedai kopi yang menyediakan buku ini, memang bukan hanya diterapkan Kedai Kalikuma. Beberapa kedai kopi di Mataram juga menerapkan konsep yang sama.

Pemilik Kedai Kalikuma Aba Du Wahid, memang sengaja menerapkan konsep kedai kopi dan buku ini. Saat mengenyam pendidikan di Australia, dosen IAIN Mataram itu, kerap menikmati duduk di kedai kopi yang menyediakan banyak buku bacaan. Menurutnya di Australia, dan banyak negara lain, kedai kopi dan buku sudah sangat umum. Masyarakat di sana kerap menghabiskan waktunya dengan ngopi sembari menikmati buku di café-café tersebut.

Karenanya saat kembali ke Indonesia, ia ingin menerapkan konsep tersebut. Baginya bisnis, akan sangat bagus jika dipadukan dengan edukasi. Memang, di Mataram khususnya, sudah ada beberapa café yang menyediakan buku-buku bacaan. Ia ingin menambah satu lagi. Di Kedai Kalikuma.

Belakangan  justru café ini sudah beralih fungsi. Tidak lagi menjadi kedai penyedia kopi dan makanan kecil. Tapi menjadi sebuah perpustakaan utuh. Ribuan judul buku tersedia di sana. Bahkan “cabang” baru di bangun, di Kota Bima. Kali ini lengkap dengan gedung megah , di atas lahan hampir 32 are . Direncanakan perpustakaan baru ini juga akan mengadopsi konsep café buku. Namun tidak ansih bisnis. Café hanya sebagai penunjang perpustakaan independen megah tersebut.

Membangun café yang di dalamnya juga tersedia buku bacaan, mestinya didorong agar menjadi trend tersendiri. Cara ini sangat efektif untuk menjaring minat masyarakat untuk membaca buku. Terutama kelompok milenial. Di mana mereka merupakan sasaran utama dalam mendorong minat baca. Sebab, jika membaca sudah menjadi trend dikalangan milenial, maka akan lebih mudah meningkatkan minat baca masyarakat secara umum.

Café, atau kedai kopi, memang intinya menyediakan kopi, minuman, atau makanan kecil. Namun tentu saja, di café, orang bukan sekadar ingin makan atau minum. Ada yang ingin duduk berkumpul bersama keluarga atau temannya. Ada juga yang hanya sekadar ingin duduk menyendiri, bersantai, menghabiskan waktu.

Daripada hanya duduk menganggur, mereka tentu ingin melakukan aktivitas tertentu. Kebanyakan memang mengutak-atik handphone. Apalagi hampir di semua café atau kedai kopi, tersedia wifi gratis. Namun, apabila di sana tersedia buku bacaan menarik, tentu ada saja pengunjung yang akan meluangkan waktunya untuk membaca. Akan sangat baik, jika ada café yang berani ekstrem. Melarang pelanggannya membuka handphone selama di dalam café. Tentu pengunjung di café tersebut, akan menghabiskan waktunya dengan membaca.

Diakui atau tidak, minat baca masyarakat Indonesia, masih tergolong rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca.

Membaca belum menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia. Berbeda dengan sejumlah negara lain, dimana minat baca masyarakatnya sangat tinggi. Mereka bisa membaca di mana saja. Apalagi di tempat-tempat yang nyaman. Seperti di café, taman, pantai dan lainnya.

Tak heran, sejumlah café, atau kedai di negara-negara tersebut, dipenuhi pelanggan yang duduk sembari membaca koran atau buku. Mereka bisa berjam-jam di café tersebut. Buku yang dibacanya, tidak disediakan café, namun dibawa sendiri dari rumah.

Tidak salah memang jika konsep ini ingin ditiru di Indonesia. Meski tentu hasilnya, untuk saat ini, tidak seperti yang terlihat di negara-negara tersebut. Minat baca masyarakat kita yang rendah, membuat buku yang disediakan di café hanya menjadi pajangan. Nyaris tidak pernah disentuh oleh pelanggan.

Namun, bukankah merintis sesuatu butuh perjuangan. Termasuk dalam menarik minat penikmat kopi untuk membaca. Sehingga mereka bisa menghabiskan waktunya berjam-jam di café dengan membaca sembari menyeruput kopi. Mengajak mereka untuk menikmati bacaan memang bukan perkara mudah. Tapi bisa dilakukan. Minimal dengan menyediakan buku-buku bacaan, yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Trend, memang kerap kali harus diciptakan. Namun kebanyakan trend yang berkembang, muncul tiba-tiba, tanpa direncanakan. Bisa jadi, membaca di café atau kedai kopi ini, ke depannya bakal menjadi trend tersendiri. Jika itu yang terjadi, tentu manfaatnya akan sangat luar biasa. Akan banyak warga yang bakal ikut “terjebak” dalam trend positif ini. Virus membaca akan menular ke mana-mana.

Membangun minat baca masyarakat (termasuk pada para penikmat kopi) memang bukan perkara mudah. Harus ada upaya massif untuk mendorong masyarakat agar mau membaca. Dan ini bukan hanya tugas pemerintah. Elemen masyarakat lainnya, juga punya tanggungjawab yang sama untuk mendorong minat baca masyarakat. Salah satunya bisa saja melalui café yang menyediakan buku-buku bacaan menarik.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan perpustakaan umum sebagai penyedia buku-buku bacaan menarik. Konsep-konsep baru, yang bisa mendukung fungsi perpustakaan, juga harus didorong. Sehingga masyarakat punya alternatif tempat untuk menikmati buku-buku bacaan yang diinginkannya. Konsep café buku ini tentu salah satu yang bisa diterapkan. Ke depan bisa saja berkembang lebih jauh lagi. Misalnya rumah sakit atau puskesmas yang juga menyediakan buku, atau mal bahkan pasar yang juga menyediakan lokasi khusus untuk membaca. Intinya di mana saja masyarakat berkumpul, di sana tersedia buku bacaan bermutu.

Konsep-konsep baru ini tentunya akan memperkaya konsep-konsep yang sudah ada, yang mana tujuannya mengajak masyarakat untuk membaca. Bukankah sebelumnya sudah ada taman bacaan, atau perpustakaan keliling. Tentu saja pemustaka dan stakeholders lainnya jangan hanya terpaku pada konsep itu saja. Inovasi-inovasi baru untuk membangun minat baca masyarakat harus terus lahir.

Konsep-konsep baru ini tentu saja jangan hanya dibidani oleh pemerintah. Masyarakat, bahkan pengusaha juga bisa melahirkan konsep baru, yang bahkan inovasinya bisa melampaui batas. Café buku salah satunya. (*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

2021, Pemkot Mataram Usulkan 400 Formasi CPNS

Pemkot Mataram mengusulkan 400 formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2021. Jumlah tersebut hasil kalkulasi dari kebutuhan pegawai daerah ini pada tahun 2020 dan 2021.

VIDEO : Pilwali Mataram Dianul-Badrun Maju ke Tahap Verfak

Bakal pasangan calon (Bapaslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota H Dianul Hayezi-H Badrun Nadianto yang maju melalui jalur perseorangan melaju ke tahap verifikasi faktual (Verfak). “Dari hasil Vermin (verifikasi administrasi) syarat dukungan pasangan DR (Dianul-Badrun) sudah melebih target. Lanjut ke tahap verfak,” kata Ketua KPU Kota Mataram M Husni Abidin, Selasa (4/8).

Kisah Baitul Askhiya Sekarbela (1) : Semua Berawal dari 12 Dermawan

Apa yang dilakukan 97 dermawan ini patut diteladani. Kehadiran mereka yang tergabung dalam Yayasan Peduli Umat Baitul Askhiya telah meringankan beban ratusan orang.

Libur Korona Semakin Panjang, Anak-anak Lupa Pelajaran Sekolah

"Kita sudah lupa (pelajaran)," kata Rio, salah satu anak di Pagutan, Kota Mataram saat ditanya, apakah ia masih ingat materi pelajarannya di sekolah.

Lulus 2018, Pelantikan 262 CPNS Mataram Tertunda Karena Korona

Sebanyak 262 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang lulus pada tahun 2018 lalu harus bersabar. Sebab, pelantikan mereka harus ditunda karena wabah Korona.

Di NTB, Keluarga Kini Boleh Ikut Pemulasaraan Jenazah Pasien Korona

Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana Putra mendatangi RSUD Kota Mataram, Senin (3/8) lalu. Ia melihat bagaimana proses pemulasaran jenazah pasien Covid-19 yang dilakukan pihak rumah sakit.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Tertangkap di Bandara Lombok, Satpam Selundupkan Sabu dari Batam

Pria asal Batam berinisial AK, 47 tahun dibekuk tim khusus Ditresnarkoba Polda NTB, Minggu (2/8). Pria yang bekerja  sebagai satpam itu ditangkap setelah turun dari pesawat di Bandara Internasional Lombok (BIL).

NTB Waspada, Penularan Korona Terdeteksi di Usaha Rumahan

Penularan virus Korona di NTB kian tidak terkendali. Transmisi lokal kian merajalela. Hampir tidak ada ruang yang bebas dari penularan virus. Bahkan rumah pun mulai tidak aman. Terutama bagi mereka yang membuka usaha di rumah.

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...
Enable Notifications.    Ok No thanks