alexametrics
Senin, 26 Oktober 2020
Senin, 26 Oktober 2020

“Senggigi Telah Kembali”

Tulisan Bagian Pertama Oleh Saiful Ahkam Mahfudz Kadis Pariwisata Lombok Barat

JUDUL ini meminjam quote dari pegiat pariwisata hebat milik Nusa Tenggara Barat bernama Taufan Rahmadi. Beliau ini mantan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Saya membaca quote ini sebagai caption sebuah foto indah miliknya di akun media sosial miliknya. Foto itumenjabarkan keindahan matahari terbenam (sunset) di Pantai Senggigi.

Quotenya, saat itu menjadi salah satu tantangan hebat buat saya dan para sahabat di Dinas Pariwisata Lombok Barat ketika beberapa hari sebelumnya kami mengafirmasi sebuah tagar yang kami gagas bersama salah seorang pegiat lainnya, abang saya Agus Hariyanto. Orang terakhir ini adalah Ketua DPD Asosiasi Experience Learning Indonesia (AELI) NTB.

Tagar itu adalah #AyoKembaliKeSenggigi. Saya dengan sengaja tidak terlalu mengikuti kaidah biasa dalam penulisan hastag atau tagar. Biasanya hastag oleh media sosial selalu dengan huruf kecil semua. Saya lebih memilih berbeda dengan pola penulisan mainstream dengan membuat hastag dengan huruf besar di kata awal.

Saya sendiri selalu kurang menyukai hal-hal yang berbau mainstream dan selalu ingin membuat sesuatu secara out of box. Dalam banyak hal, gaya dan pemikiran out of box menurut hemat saya membuat saya merasa lebih nyaman dalam menjalankan ativitas, termasuk bekerja.

Dalam memandang tugas saya hari ini pun, saya tidak mau larut dalam mainstream. Ketika lebih banyak  orang larut dalam “kegalauan dan bahkan kegundahan khawatir” atas akibat pandemik Covid 19, kebetulan saya ditugaskan di dunia yang baru buat saya dan sedang terdampak hebat akibat Covid 19, saya lebih memilih “berdamai” dan merumuskan secara awal protokol kesehatan di tempat wisata.

Saya tidak memilih menulis buku untuk meningkatkan profil saya secara pribadi, tapi saya memilih yang lebih implementatif dan dapat dipandu secara nyata oleh seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan pekerjaan baru saya.

Saya lebih memilih larut dalam melihat dan mendengar keadaan nyata Kawasan Senggigi saat ini dan kondisi pandemik global akibat Covid 19. Saya banyak mendengar, baik dari pelaku travel atau guide, pengusaha transportasi, para generale manajer hotel, pemilik dan pengelola restaurant, atau bahkan para Kepala Dusun di Kawasan Senggigi.”Senggigi ini mau mati”. “Senggigi mati suri”, dan seterusnya.

Sesungguhnya banyak variabel mengapa Senggigi seperti saat ini. Ada variabel yang muncul akibat pola pembangunan kepariwisataan kita yang kerap tidak berkelanjutan, baik oleh pemerintah maupun investor. Ada pula variabel dari image pelaku yang menginteraksikan antara kondisi antar destinasi.

Kondisi kepariwisataan nasional sudah sangat berkembang. Banyak daerah selain NTB telah begitu berbenah, lebih terpromosikan, lebih menjanjikan sebagai pemuas para wisatawan. Akhirnya Senggigi saat ini bukan lagi menjadi alternatif tunggal pasca Pulau Bali. Saya bisa menyebutkan Wakatobi dan Raja Ampat di wilayah Timur Indonesia seiring menggeliatnya kepariwisataan Labuan Bajo di NTT.

Banyuwangi yang menjelma menjadi destinasi favorit selain berkembangnya industri rekreasi di Kota Batu Jawa Timur. Atau luar biasanya perkembangan DI Jogjakarta dengan industri rekreasi, desa wisata, maupun wisata kulturalnya yang masih menjadi magnet wisatawan, terutama domestik. Jangan tanya pula tentang geliat tempat-tempat wisata konvensional Indonesia seperti Puncak Bogor, Danau Toba, Tana Toraja, bahkan Pulau Bali sendiri.

Itulah kondisi perkembangan kepariwisataan secara nasional. Saya menyebut hampir semua destinasi skala nasional. Padahal menempatkan Senggigi berdampingan dengan aneka destinasi tersebut mungkin adalah sekedar romantika masa lalu di era 90-an awal di mana Senggigi masih menjadi favorit yang terselip di antara daftar tempat wisata yang layak dikunjungi.

Bagaimana dengan kawasan Lombok-Sumbawa? Barangkali peralihan atensi dan animo para wisatawan atau pelaku pariwisata juga mempengaruhi kondisi di Senggigi. Berkembangnya Tiga Gili di KLU, terkini berkembangnya minat ke kawasan Sembalun, serta atensi penuh pemerintah/ pelaku/ industri/ bahkan media terhadap Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika yang akan menjadi tuan rumah MotoGP 2021, telah banyak mendegradasikan image dan kunjungan wisatawan tentang Senggigi.

Saat ini barangkali tidak berlebihan jika banyak pelaku menyebut Senggigi hanya menjadi perlintasan ke tiga Gili (Trawangan-Meno-Air) milik Kabupaten Lombok Utara. Walau belum apa-apa, Senggigi bahkan disebut sudah menjadi bayang-bayang kedigdayaan industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kuta Lombok Tengah. Yang terakhir ini sungguh lucu, belum apa-apa sudah dibayang-bayangi oleh ketakutan oleh pikiran yang seakan-akan telah menjadi opini publik.

Benar Senggigi mengenaskan. Barangkali, di hampir sebagian besar destinasi di Lombok Sumbawa, maka Senggigi-lah yang kemudian dianggap telah sangat ”terpuruk”. Kenyataannya Senggigi telah lama ditinggalkan oleh para investornya (saya lebih suka menyebutnya sebagai spekulan tanah).

Senggigi akhirnya banyak meninggalkan bangkai beton bangunan, baik berupa bangunan hotel yang tidak tuntas bangun, hotel atau ruko yang tutup serta rimbunan semak belukar yang hanya menjadi rumah bagi ular atau binatang lainnya. Bahkan pemerintah pun berkontribusi terhadap hal tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Semua afirmasi terhadap keyataan itu bukan untuk melahirkan pertanyaan salah siapa? Karena secara inheren sesuai sifat manusia, sesuatu yang baru pasti berakibat kepada yang lama. Lahirnya banyak destinasi baru berimplikasi terhadap detinasi yang lama. Kesibukan semua pihak dengan pembangunan sebuah kawasan yang baru selalu berdampak terhadap degradsi atau penurunan atensi terhadap kawasan yang lama.

Itu variabel yang ada di Senggigi. Demikian pula dengan perkembangan investasi, maka semua pihak harus secara terbuka membedahnya secara mendalam. Investasi tidak akan mudah datang bila tidak diawali dengan “percaya” dan “kenyamanan”. Animo dan atensi hanya dapat dipertahankan bila selalu ada hal yang baru di Senggigi. Dan seterusnya sebagai konklusi atas fakta-fakta afirmatif tadi.

Namun, ruang dan waktu yang sedemikian panjang serta ukuran-ukuran harapan di masa depan harus dilokalisir secara lebih mikro untuk pemetaan jalan keluar. Maka suasana tiga tahun terakhir khusus untuk kalangan pelaku, penting menjadi langkah pijak untuk menetapkan jalan keluar jangka pendek, menengah, atau bahkan jangka panjang.

Di tiga tahun terakhir ini serangkaian bencana membuat Senggigi semakin terpuruk. Recovery Bencana Alam Gempa Bumi tahun 2018 belum tuntas di tahun 2019, harus berlanjut lagi dirasakan oleh mereka di sepanjang tahun 2020 akibat pandemik global Covid 19.

Seluruh persoalan tersebut membawa hikmah tersendiri buat semua pihak, terutama di kalangan pelaku langsung yang menghirup nafas setiap hari di kawasan ini. Setelah berdiskusi lama dengan mereka, maka rasa “senasib sepenanggungan” yang disuarakan bersama namun secara tidak bersama (parsial) harus menjadi energi yang direspons oleh pemerintah.

Sebagai “kuli” yang mewakili pemerintah, saya bersama para sahabat di Dinas Pariwisata harus segera meramu energi itu untuk menjadi suara dengan nada yang melahirkan keindahan harmoni berupa semangat dan kebersamaan.

Barangkali sangat sepele ketika jajaran Dinas Pariwisata harus mengambil sedikit fungsi penjaga kebersihan dan mengurus sampah. Barangkali kegiatan “Ayo Bersih-Bersih” Tempat Wisata yang menjadi agenda mingguan tidak mampu menjadi obat mujarab yang akan membuat sampah beton berpindah fungsi menjadi kemanfaatan. Namun kegiatan “unik” ini bermakna sederhana sesederhana cara pandang ketika gagasan ini dimulai.

Dinas Pariwisata Lombok Barat hanya ingin ikut hadir sebagai jawaban atas perhatian pemerintah terhadap masalah sampah yang entah bagaimana cara mengatasinya. Dinas Pariwisata bukan Dinas Lingkungan Hidup yang harus mengalirkan gagasan implementatif tentang pola daur ulang atau 3R. Dinas Pariwisata hanya ikut urunan tenaga membantu para pahlawan sampah, baik dari NGO maupun Komunitas Peduli lainnya dari pada selalu menjadi sasaran kritik dan cemooh. (*/bersambung)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Nyoman: Gonta Ganti Kendaraan Tidak Masalah, yang Penting Rasanya

“Baru di motor Forza 250 CC ini saya rasakan sama sekali tidak ada getarannya ketika sudah kita berkendara dan sangat cocok dengan kondisi kesehatan saya yang memiliki penyakit jantung. Sebelumnya pernah saya memakai sepeda motor  jenis lain namun karna ada getarannya sangat terasa membuat saya tidak nyaman,” aku Nyoman.

Warga Antusias Hadiri Peresmian Rumah Besar Relawan HARUM Ampenan

Ratusan warga tumpah di jalan Saleh Sungkar, Dayen Peken Ampenan Kamis (22/10) sore kemarin. Warga hadir menyambut kedatangan pasangan H Mohan Roliskana – TGH Mujiburrahman (HARUM). Kedatangan pasangan ini untuk meresmikan Rumah Besar Relawan HARUM Ampenan.

Satgas Covid-19 : Masyarakat Harus Taat 3M Ketika Liburan

Kebijakan yang dibuat pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 dinilai cukup baik. Tantangan selanjutnya adalah pengawasan terhadap implementasi di lapangan. Khususnya terkaitpenerapan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak.

Tiga Bank Syariah Digabung, Bersiap Jadi yang Terbesar di Nasional

”Mengawal dan membesarkan tidak hanya sampai legal merger, tapi juga memastikan hadirnya bank syariah nasional terbesar ini benar-benar dapat memberikan manfaat bagi orang banyak dan membawa nama Indonesia ke kancah global sebagai pusat ekonomi syariah dunia,” katanya.

Honda Genio Makin Fashionable

”Tampilan Honda Genio yang semakin atraktif mewakilkan ekspresi anak muda,” ujar Thomas. 

UN Diganti, Pemerintah Didorong Intensifkan Sosialisasi

”Supaya apa yang kurang dan kendala yang muncul, bisa segera dievaluasi,” ujar dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris dan Pasca Bahasa FKIP Unram ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.

52 Ribu UMKM NTB Bakal Dapat Bantuan Presiden Rp 2,4 Juta

Pemprov NTB mengusulkan 52.661 UMKM sebagai penerima bantuan presiden (banpres) produktif. ”Data ini terus kita perbarui sampai minggu kedua bulan September,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB H Wirajaya Kusuma, pada Lombok Post, kemarin (23/8).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...
Enable Notifications    Ok No thanks