alexametrics
Rabu, 4 Agustus 2021
Rabu, 4 Agustus 2021

Industrialisasi Hiburan dan Paradoksitas Dunia Anak

Oleh: Fatin Fauziah Mahasiswa UIN Mataram

Di era tahun 90 an, anak-anak, nyaris tidak banyak tersentuh oleh pengaruh-pengaruh negatif, khususnya dari media. Kehidupan sosial saat itu, cenderung sangat ramah terhadap perkembangan jiwa anak.

Tidak ada tontonan yang dapat merusak mental. Sajian media, nyaris tidak ada yang menampilkan tontonan ekstrem, kekerasan atau menafikkan moral. Bahkan lebih banyak menampilkan unsur-unsur pendidikan.

Namun seiring dengan perkembangan global, media mainstream bermunculan tak terbendung. Beragamnya media, mempengaruhi konten yang ditampilkan. Ini wajar mengingat globalisasi tidak bisa terhindar dari industrialisasi. Konten media tentunya akan mengikuti keinginan mayoritas konsumen. Media lantas berubah menjadi bisnis hiburan ansih. Sehingga konten-konten berbau edukasi, kerap kalah bersaing, karena dianggap melenceng dari unsur menghibur.

Industrialisasi media, mempengaruhi industri lainnya, terutama yang terkait dengan hiburan. Kita bisa lihat bagaimana sajian hiburan offline, juga mementingkan bisnis, dibanding misi-misi sosial dan pendidikan. Seperti misalnya pertunjukan orgen tunggal, juga mau tak mau harus mengikuti keinginan konsumen.

Sajian lagu yang ditampilkan, tidak lagi hanya mementingkan kualitas musik atau suara biduan. Tapi lebih banyak menampilkan konten yang memuaskan nafsu manusiawi. Lagu-lagu berjenis dangdut koplo misalnya, nyarus menjadi sajian utama. Padahal banyak lagu dangdut koplo yang liriknya terlalu vulgar.

Tampilan biduan yang seksi juga menjadi sebuah keharusan. Tak ayal, masyarakat tidak lagi mendapat suguhan musik berkualitas, namun suguhan yang sudah keluar dari makna musik sesungguhnya.

Ironisnya, atraksi seperti ini ditampilkan dalam ruang publik secara bebas. Penikmatnya tidak lagi memandang usia. Anak-anak bisa dengan bebasnya menyaksikan sajian yang sebenarnya belum boleh mereka nikmati. Masyarakat sudah terlanjur menganggap sajian seperti ini sebagai sesuatu yang lumrah, sehingga bebas disaksikan siapa saja. Dalam hal ini, industrialisasi media dan bisnis hiburan sudah berkolaborasi menciptakan pandangan umum masyarakat dalam memahami sebuah konten.

Kebanyakan masyarakat tidak sadar, bahwa banyak sajian, termasuk hiburan, yang sesungguhnya belum layak diakses anak-anak. Namun media mainstream telah mengubah cara pandangan masyarakat dalam memahami sebuah konten. Pola ini dipupuk bertahun-tahun, sehingga secara tidak sadar, masyarakat menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Masyarakat tidak lagi bisa membedakan mana tampilan yang baik dan mendidik dan mana tampilan yang merusak. Munculnya sikap apatis, juga membuat tampilan-tampilan seperti ini mendapat tempatnya, sehingga bisa ditunjukkan ke ruang publik secara bebas, nyaris tak terbendung.

Kondisi ini tentu sangat merugikan terutama bagi perkembangan jiwa anak. Industri telah melahirkan paradoksitas yang komplek. Anak-anak tidak lagi mendapatkan dunia yang layak yang mendukung pertumbuhannya. Mereka terus digerogoti konten-konten hiburan yang tidak mendidik.

Tentunya jika dibiarkan, hal ini dapat membahayakan pertumbuhan mental anak-anak. Saat ini, anak-anak dengan bebasnya menyanyikan lagu-lagu yang liriknya sangat dewasa. Secara tidak sadar, lirik-lirik tersebut dianggap biasa, sehingga pada akhirnya menjadi bahasa pergaulan sehari-hari.

Lihat saja, begitu mudahnya anak-anak menyatakan rasa sukanya pada lawan jenis dengan bahasa orang dewasa. Bahkan dalam pergaulannya mereka tidak segan-segan mengungkapkan kalimat-kalimat yang belum semestinya diucapkan. Bahkan sampai melontarkan kalimat yang berbau pornografi, atau kekerasan.

Jangan anggap kata-kata yang dilontarkan hanya sebatas kata-kata biasa yang nantinya bisa menguap dan menghilang begitu saja. Apa yang anak-anak biasa ucapkan, nantinya akan mematri dalam otak dan jiwanya. Kata-kata kotor atau vulgar tersebut akan memengaruhi cara pandang mereka dalam pergaulan. Apalagi sebelumnya mereka juga banyak menyaksikan adegan-adegan “hiburan” yang tidak layak disaksikan.

Lantas apa yang bisa dilakukan? Tentu saja dibutuhkan tindakan menyeluruh untuk membatasi konten-konten online dan offline yang merusak anak-anak. Pemerintah seharusnya bisa lebih ketat lagi dalam upaya menyaring konten tidak layak anak. Ruang-ruang publik yang ramah bagi anak harus diperluas.

Hiburan yang bisa disaksikan publik dan anak harus dibatasi dengan regulasi khusus yang diterapkan secara efektif. Masyarakat juga harus terlibat aktif dalam membangun opini yang bisa membatasi ruang gerak industrialisasi media dan hiburan yang terlalu bebas. Sikap apatis dan tidak peduli harus dijauhkan. Munculkanlah sikap empati terhadap anak. Bukan hanya dengan memberikan perhatian, tapi juga menjauhkan mereka dari akses apapun yang dapat mengganggu perkembangan mentalnya.

Yang paling penting adalah peran keluarga. Pendidikan moral dan agama harus dikedepankan, sehingga bisa menjadi benteng bagi anak untuk menangkis serangan media mainstream yang tak bermoral. Ingat, kehidupan bangsa ini ke depan tergantung bagaimana cara mendidik anak-anak saat ini. (*)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks