alexametrics
Rabu, 25 November 2020
Rabu, 25 November 2020

Budaya Industri dan Industrialisasi di NTB

Oleh: Rosiady Sayuti, Ph.D. Ketua Prodi Sosiologi Universitas Mataram

KETIKA dikukuhkan menjadi Ketua Dewan Riset Daerah NTB pada 29 September 2020 yang lalu, seorang kawan sesama alumni Diklatpim II LAN RI Kampus Jatinangor 2013 berseloroh, “wah ini sekda melantik sekda.” Saya dan Lalu Gita Aryadi memang satu Angkatan Diklatpim II tahun 2013 yang lalu.

Usai pengukuhan saya menyampaikan program kerja DRD dalam jangka pendek dan jangka menengah.  Salah satunya adalah, mengadakan webinar berseri selama sisa tahun 2020 ini dengan tema yang relevan dengan kebutuhan daerah.

Pada seri pertama, bersamaan dengan acara pengukuhan, kami mendiskusikan persoalan pariwisata dan budaya, yang menjadi faktor pendorong utama perekonomian daerah.  Pada seri ke dua, pekan lalu, 15 Oktober 2020, temanya adalah Industrialisasi dan UMKM.  Tema yang sangat tepat dalam rangka menggali pemikiran para pakar dan respons masyarakat terkait dengan program unggulan Pemprov NTB dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menurunkan angka kemiskinan.

Sebab, menurut pandangan Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah, M.Sc. yang alumni Fakultas Ekonomi UI dan menyelesaikan doktornya di  Department of Economics University of Strathclyde UK di bidang Ekonomi Industri tahun 2001, hanya dengan meningkatkan nilai tambahlah para petani dan para pelaku ekonomi di sektor primer lainnya, dapat meningkat pendapatannya. Peningkatan nilai tambah itu tidak lain caranya adalah melalui program industrialiasi.

 

Paradigma Pembangunan Pertanian

 

Paradigma dalam pembangunan ekonomi pertanian sudah lama mengalami perubahan.  Kalau dulu, petani kita minta melakukan proses produksi terlebih dahulu, dengan berbagai teknologi yang kemudian disalurkan lewat para penyukuh pertanian di lapangan.   Sekarang ini sudah berbeda.  Para penyuluh diminta untuk melaksanakan survey pasar terlebih dahulu, komoditas pertanian apa yang dibutuhkan oleh pasar, seberapa banyak, kualitas seperti apa, dan seterusnya, baru kemudian penyuluh kembali ke petani, untuk mengarahkan mereka menanam komoditas pertanian sesuai dengan kebutuhan pasar.  Dengan demikian, resiko gagal pasar alias barangnya tidak terjual menjadi kecil.

Tahap berikutnya dari proses pembangunan pertanian adalah industrialisasi.  Artinya, petani diharapkan untuk tidak menjual barang mentah, yang dalam istilah penyuluh itu panen-jual.  Begitu dipanen, kemudian langsung dijual. Bahkan yang sering kita dengar adalah sistem ijon.  Artinya, petani menjual hasil panennya, sebelum masa panen tiba.  Ini hal yang lumrah bagi petani, karena didesak oleh kebutuhan sehari-hari dan pada saat yang sama didesak pula oleh para pengijon, yang merayu mereka, demi untuk mendapatkan harga murah, dan tentu ujungnya adalah keuntungan yang besar bagi pengijon.

Dengan industrialisasi, diharapkan petani akan mendapat nilai tambah.  Secara sederhana saja dapat dihitung, kalau satu sisir pisang apabila dijual secara langsung mungkin harganya atau keuntungan yang diperoleh tidak akan lebih dari 25.000 rupiah.  Dengan mengolahnya menjadi pisang goreng, atau olahan pisang lainnya, mungkin uang keuntungan yang dapat diraih bisa dua atau tiga kali lipatnya.

Sesungguhnya masyarakat juga sudah mengetahui hal itu. Namun mengapa mereka masih lebih suka menjualnya dalam bentuk bahan mentah, bukan bahan yang sudah diolah? Itulah yang namanya budaya.  Masyarakat petani belum memiliki budaya industri.  Masih kental dengan budaya pertanian, yang prinsipnya panen-makan (subsisten) atau panen-jual (komersial).

Tidak terfikir oleh mereka untuk menabung atau berinvestasi. Tidak sampai pada pola fikir (mindset) bahwa sesungguhnya produk pertanian yang dihasilkan akan dapat menghidupi mereka sepanjang tahun, sampai musim panen berikutnya.  Bahkan kalau nilai tambah yang diperoleh tinggi, penghasilannya akan dapat ditabung dan diinvestasikan.  Sehingga tidak hanya untuk menyambung hidupnya sampai dengan masa panen tahun berikutnya, tapi justru akan dapat berkembang menjadi skala usaha yang dapat mereka invstasikan di luar sektor pertanian.

Dalam konteks industrialisasi yang menjadi Program unggulan Pemerintah Provinsi NTB ini, arahnya adalah ke peningkatan nilai tambah.  Untuk mendapatkan nilai tambah itulah dilahirkan mesin-mesin industri yang skalanya bervariasi, mulai dari skala kecil, bahkan mungkin mikro, skala menengah dan mungkin saja mengarah ke skala yang besar. Berskala  besar di sini dapat dimaknakan  dari dua sisi. Pertama adalah dari segi mesinnya.  Mesin yang diciptakan dipergunakan untuk menghasilkan produk berskala besar, artinya per jam dapat mengolah sekian ton bahan mentah.

Kedua, mesinnya tetap berskala kecil dengan hasil olahan yang jumlah outputnya kecil, volume yang diolah dan dihasilkan juga tidak banyak, tapi dikelola oleh banyak rumah tangga. Ini yang disebut Industri kecil, atau industri skala rumah tangga.  Untuk kondisi saat ini, jenis industri ini yang layak untuk dikembangkan di NTB.    Alasannya ada dua, ketersediaan bahan baku, dan pangsa pasar yang berkaitan dengan jumlah penduduk.

Suatu ketika saya jumpa dengan seorang professional yang bekerja di sebuah pabrik pakan ternak.  Kami mendiskusikan bagaimana caranya, apa yang harus difasilitasi dari pemerintah daerah agar si pemilik pabrik mau membangun pabrik pakan di NTB. Apakah lahan,  bangunan, atau insentif yang lain? Ternyata jawabannya:

“Pak, di NTB itu tidak layak untuk kita membangun pabrik pakan ternak dengan skala besar seperti yang ada di Pulau Jawa.”

“Alasannya?” tanya saya. “ada dua,” katanya melanjutkan;

“pertama bahan baku kita tidak cukup memadai. Kita masih harus datangkan dari luar.” Kilahnya.  “Tapi yang lebih penting untuk Pak ketahui,” katanya

“daya serap pasar di NTB atau katakanlah di Nusa Tenggara ini, masih jauh dari daya serap pasar di Jawa. Sangat kecil dibandingkan dengan volume produksi yang dapat dihasilkan pabrik pakan seperti yang ada di Jawa.” Pungkasnya.

Karena itu, pilihan yang paling tepat untuk NTB adalah industrI skala rumah tangga.  Tapi dengan pelaku yang banyak, dengan rumah tangga yang terlibat banyak, maka sesungguhnya tujuan industrialisasi itu dapat juga tercapai.  Meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Yang menjadi persoalan untuk pengembangan industri skala rumah tangga ini adalah bagaimana mempersiapkan masyarakat , sehingga jumlah mereka yang terlibat menjadi banyak. Untuk pakan ternakpun, bisa dibangun yang skala rumah tangga yang menghasilkan produk pakan dengan volume satu sampai lima ton per kali proses.

 

Membangun budaya industri

 

Menurut sejarahnya, bangsa-bangsa yang sekarang maju dengan industrinya, konon mulai dengan industri skala rumah tangga juga.  Pada skala ini, sesungguhnya yang dihajatkan adalah membangun budaya industri di masyarakatnya.  Merubah pola fikir masyarakat dari pola fikir pertanian ke industri tentu tidak mudah.  Harus ada mesin yang bernama social engineering atau rekayasa sosial, yang bekerja dalam waktu lama agar pola fikir tersebut dapat berubah.  Ada proses perubahan pemahaman tentang untung rugi dalam proses produksi. Juga tentang potensi yang dapat bahkan harus dimanfaatkan agar terjadi peningkatan penghasilan petani.

Di dalam ilmu sosiologi, ada teori diffusi inovasi yang menjelaskan tahapan yang harus dilalui dalam proses penggunaan teknologi di masyarakat.   Menurut Everett M. Rogers, dalam bukunya Diffusion of Innovations (1964), ada lima tahapan yang harus dilalui oleh sebuah inovasi untuk terdiffusi, atau dapat dipergunakan oleh masyarakat.  Tahapan tersebut dimulai dari tahap pemberian pemahaman atau knowledge transfer, dimana calon pengguna diberikan pemahaman tentang teknologi yang diperkenalkan.  Kemudian diikuti oleh tahap persuasi, dimana masyarakat diajak untuk mencermati untung ruginya penerapan suatu teknokogi. Langkah selanjutnya adalah tahap pengambilan keputusan, apakah mereka bersedia atau tidak untuk menerapkan teknologi yang diperkenalkan. Baru kemudian tahapan implementasi dan terakhir adalah konfirmasi. Kelima tahapan inilah yang disebut dengan proses rekayasa sosial.  Proses yang harus dilalui untuk menjamin terbentuknya sebuah budaya industri di masyarakat.

Ketika budaya industri  sudah terbentuk, maka menjadi tidak sulit ke depannya, untuk mengajak masyarakat beralih dari berbagai praktek berusaha yang konvensional atau tradisional kea rah praktek usaha yang berbasis teknologi.  Atau untuk menggunakan mesin-mesin yang akan mendatangkan nilai tambah. Melalui proses inilah kemudian gema industrialisasi itu akan menjadi primadona yang akan mengubah wajah NTB yang sekarang menjadi Center of Excellence industrialisasi pertanian di Kawasan Timur Indonesia, seperti yang disampaikan oleh Pak Gub ketika memberikan orasi ilmiah di hadapan para Kepala OPD di Bappeda NTB awal tahun 2019, dimana saya menjadi moderatornya. Wallahu a’lam bissawab. (*)

           

 

 

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Belajar dari Pengalaman Langsung Kesembuhan Penyintas COVID-19

Pola makan dengan asupan makanan tinggi kalori dan tinggi protein merupakan treatment yang dianjurkan saat terkena COVID-19. Hal ini berguna untuk meningkatkan imunitas tubuh.

XL Axiata Raih Dua Penghargaan Internasional

PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) kembali berhasil mendapatkan penghargaan tingkat internasional.

Dewan Mataram Minta Pembagian Bantuan JPS Usai Pilkada

-Sejumlah anggota dewan meradang. Bukan karena tak setuju dengan bantuan JPS tahap enam. Tapi, mereka khawatir JPS ini ditunggangi kepentingan politik jelang Pilkada Kota Mataram 9 Desember mendatang.

Vividerm Sunblock Buatan Lombok yang Berhasil Go International

Sunblock atau pelindung kulit yang diproduksi Iwin Insani diklaim ramah lingkungan. Tidak memakai bahan kimia dan tidak merusak terumbu karang.

HARUM Tata Pesisir Mataram, Dorong Potensi Kelautan dan Pariwisata

Potensi besar dalam sektor kelautan di Mataram berbanding lurus dengan tantangan yang dihadapi. Keberadaan nelayan dari muara Meninting di Utara hingga  pesisir Mapak di selatan menyisakan sejumlah  persoalan yang membutuhkan solusi komprehensip. Terutama menyangkut kesejahteraan nelayan dan penataan kawasan.

Kasus Dana Desa Sesait, Jaksa Temukan Indikasi Kerugian Lain

Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram menemukan indikasi kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi penggunaan dana desa Sesait, Kabupaten Lombok Utara (KLU). ”Kita ada temukan indikasi kerugian negara selain dari hasil temuan Inspektorat (KLU),” kata Kajari Mataram Yusuf, kemarin (22/11).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.
00:06:43

VIDEO : Polisi Bongkar Pabrik Sabu di Pringgasela Lotim

Peredaran gelap narkoba di Provinsi NTB benar-benar mengkhawatirkan. Pera pelakunya menggunakan beribu macam cara. Bahkan sudah ada yang memproduksi barang haram itu di daerah ini. Polisi sudah berhasil membongkarnya.

Korona Meningkat, Libur Panjang Akhir Tahun Ini Bisa Dibatalkan

Pemerintah mempertimbangkan untuk memperpendek atau meniadakan sama sekali libur panjang pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun 2020 ini jika penerapan protokol kesehatan pada liburan Maulid Nabi akhir Oktober lalu dianggap tidak efektif.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Otak Pabrik Sabu Lotim Buronan Interpol, Kabur dari Brunei-Malaysia

Terbongkarnya pabrik sabu sekala rumahan di Pringgasela, Lombok Timur (Lotim) menyeret nama MY alias Jenderal Yusuf. Nyatanya Yusuf bukan penjahat “kaleng-kaleng”. Dia kini mendekam di Lapas Mataram pernah berurusan dengan Interpol.
Enable Notifications    OK No thanks