alexametrics
Rabu, 21 April 2021
Rabu, 21 April 2021

Malukah karena Pernah Positif Terinfeksi Covid?

Oleh:

Anto Dwi Purwanto, SE, MM

Seorang ASN di Kota Mataram

MALU? Mungkin itu pertanyaan balik berupa sindiran jika ada yang menanyakan kepada saya apakah saya malu karena saya pernah positif terinfeksi Covid-19. Sengaja saya memberi tiga tanda tanya pada kata malu tersebut untuk menekankan bahwa pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan. Untuk apa saya harus malu jika pernah terpapar Covid-19, toh itu bukan penyakit yang memalukan.

Siapa pun bisa saja terkena dan terpapar Covid-19. Presiden, ketua umum partai, artis terkenal sampai rakyat kecil yang tinggal di desa pun bisa saja terpapar Covid-19. Bahkan bintang sepakbola terkenal sekelas Cristiano Ronaldo pun sampai pernah terpapar Covid-19. Kita tahu Ronaldo selalu menjaga pola makan dengan makanan yang terjaga gizinya. Dia pun adalah duta nutrisi dari perusahaan nutrisi terkenal, Herbalife. Pun kenyataannya, dia terpapar Covid-19. Bahkan Ronaldo sampai harus menjalani uji usap beberapa kali baru dinyatakan negatif Covid-19.

Jumat, 1 Januari 2021, menjadi awal dari kisah ini. Berita positif terinfeksi itu disampaikan bagian layanan tes Covid-19 di Rumah Sakit Annisa, Kabupaten Blitar saat saya mengambil hasil rapid test antigen. Saya memang harus melakukan tes antigen sebagai syarat berangkat kembali ke Kota Mataram setelah cuti selama sepekan. Saat itu perasaan saya sudah tidak karu-karuan. Karena saya mengkuatirkan istri dan ketiga anak saya. Tapi saya berusaha tenang, sambil berpikir keras mengapa saya bisa terpapar Covid-19. Dimana? Kok bisa? Saya berusaha terus menjawab pertanyaan itu.

Sejak pandemi Covid-19 di bulan Maret tahun lalu, saya sekuat tenaga menjaga prokes 3M. Pun pada saat saya melakukan perjalanan “pulkam” tiga bulanan untuk menengok keluarga. Memang beberapa hari sebelum melakukan tes antigen, saya dan istri sempat mengalami demam, batuk, dan penciuman yang mulai berkurang. Dan karena saya tidak berpikiran macam-macam, maka saya cukup mengkonsumsi obat seperti biasanya yaitu obat penghilang demam dan batuk. Beberapa hari kemudian saya merasakan demam dan batuk sudah mulai hilang, dan pada 1 Januari 2021 itulah saya melakukan tes antigen sebagai persyaratan untuk kembali ke Mataram.

Kemudian besoknya, tanggal 2 Januari 2021, dengan perasaan sedih dan perasaan bersalah karena telah membawa penyakit ini ke keluarga saya, saya dan keluarga yaitu istri dan ketiga anak melakukan uji usap (tes swab PCR) dengan hasil pada sore harinya yang menyatakan saya dan anak pertama positif Covid-19 berdasarkan uji usap. Rasa menyesal dan bersalah campur aduk menerima kenyataan hasil uji usap ini. Dalam hati ingin agar saya saja yang positif, jangan istri dan anak-anak saya. Saya masih bersyukur istri dan 2 anak yang lain negatif.

Pihak Rumah Sakit Annisa Kabupaten Blitar segera mengontak Tim Satgas Covid Puskesmas Wlingi Kabupaten Blitar. Dan tidak lama kemudian, saya dihubungi oleh Tim satgas Covid-19 Puskesmas Wlingi dan diberitahu jika saya dan anak pertama harus dikarantina untuk menghindari risiko penularan kepada keluarga yang lain.

Bisa dibayangkan bagaimana rasa berkecamuk di dalam hati saya dan tentunya anak pertama saya menerima kenyataan bahwa kami tidak bisa isolasi mandiri di rumah, tetapi harus isolasi di gedung karantina. Sejak awal pandemi Covid-19 ini, kami hanya mendengar dari berita TV dan berita media massa bagaimana saat idul Fitri tahun lalu orang-orang yang nekat mudik harus dikarantina di aneka tempat seperti gedung karantina, sekolah, balai desa, dan belakangan yang dikarantina harus masuk rumah sakit Wisma Atlet dan hotel yang disulap jadi tempat karantina. Sekarang saya mengalami sendiri karantina Covid-19 ini, dan bersama anak pertama pula.

Singkat cerita, keesokan harinya Ahad, 3 Januari 2021, saya dan anak pertama dijemput dua orang Tim Satgas Covid-19 Puskesmas Wlingi berbaju hazmat dengan mobil ambulans. Tentunya untuk mengantarkan kami berdua ke Gedung Karantina Covid-19 Kabupaten Blitar yang berlokasi di Local Education Center Garum, Kabupaten Blitar.

Menjalani Karantina

Selama 10 hari, saya dan anak sulung menjalani masa karantina. Mengapa hanya 10 hari saja kami dikarantina? Berdasarkan Revisi ke-5 Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian No. HK.01.07/Menkes/413/2020 tanggal 13 Juli 2020, di salah satu poinnya disebutkan bahwa untuk pasien positif Covid-19 dengan gejala ringan dan gejala sedang, tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR setelah selesai isolasi.

Dinyatakan selesai isolasi harus dihitung 10 hari sejak tanggal onset/swab pertama, dengan ditambah minimal tiga hari di rumah, setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan. Di dalam benak, saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya nanti dikarantina di gedung karantina. Jika selama ini hanya melihat dan mendengar dari berita, tapi kini benar-benar harus menjalaninya.

Lalu apa saja yang kami lakukan di gedung karantina ? Selama dikarantina di pusat karantina, kami ibarat atlet yang berada di pusat diklat. Makan tiga kali sehari plus buah, snack, vitamin, susu, dan air mineral dijamin. Setiap pagi setelah sarapan, tim Satgas Covid-19 memeriksa tensi (tingkat tekanan darah) dan saturasi (tingkat oksigen dalam darah) kami, dan menanyakan keluhan yang mungkin kami alami dan akan segera diberi obat setelah dikonsultasikan oleh dokter.

Setelah pengecekan kesehatan, kami diwajibkan ikut senam bersama di bawah panas sinar matahari pagi jam 09.00 selama satu jam. Selesai senam, kami mandi dan beristirahat seperti biasa. Di gedung karantina ini, ada 24 kamar dan 48 tempat tidur. Satu kamar diisi oleh dua orang dengan tetap menjaga 3M. Terdapat 16 kamar mandi untuk kami gunakan mandi dan mencuci pakaian sekedarnya. Keadaan ini sepertinya jauh jika dibandingkan dengan pusat karantina di Jakarta. Di Jakarta, pusat karantina berada di Wisma Atlet atau hotel-hotel yang ditunjuk pemerintah, agak sedikit nyaman. Sebab, satu kamar dihuni satu orang. Tapi bagi kami tidak mengapa. Toh kami semua yang di sini adalah orang yang sudah positif. Dan ini sudah merupakan kerja keras yang telah dilakukan oleh Pemerintah.
Alhamdulillah tiga hari awal saya di sini saya merasa baik-baik saja walaupun terkadang napas terasa agak berat dan gereges disertai batuk muncul kembali. Semua yang masuk di gedung karantina ini adalah OTG (orang tanpa gejala) dan dengan gejala ringan. Untuk yang bergejala berat akan langsung diisolasi kerumah sakit.

Di gedung karantina ini kita bersosial-berbaur bercanda, bersendagurau, berusaha menciptakan keadaan senyaman mungkin sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan imun dengan tetap menerapkan 3M. Setelah tiga hari berikutnya, saya merasa tubuh sudah mulai membaik. Rasa meriang dan batuk yang muncul lagi saat di karantina sudah tidak ada. Selama masa karantina, pasien sembuh, pulang, dan pasien baru, silih berganti. Selama dikarantina, saya juga mengkonsumsi vitamin tambahan, susu tambahan, wedang jahe, dan ikhtiar dari para penyintas Covid-19 yang banyak ditemukan di internet. Seperti minum minyak kayu putih dan menghirup embun air panas pun saya lakukan.

Setelah sepuluh hari dikarantina, saatnya saya dan anak sulung saya sudah boleh kembali pulang ke rumah. Saat pulang tersebut, kami dibekali surat keterangan sudah menjalani karantina selama 10 hari dengan status sehat dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala dengan tetap menjaga 3M.

Surat keterangan tersebut diberikan dalam tiga rangkap, dengan tujuan untuk kami sendiri, puskesmas kecamatan, dan Ketua RT. Kembali kami berdua dijemput oleh Tim Satgas Covid-19 Puskesmas Wlingi untuk diantar pulang ke rumah. Saat pamitan, tim satgas menerangkan bahwa kami di rumah tetap harus menambah masa isolasi selama tiga hari dengan tetap menjaga 3M, dan menerangkan bahwa saat kami pulang ini, virus Korona di tubuh kami sudah mati dan jikapun maih terdeteksi, itupun hanya sisa fragmen virus yang sudah mati.

Sebagai penutup dari kisah pengalaman ini, saya dapat menyatakan bahwa benar apa yang disampaikan oleh Pemerintah bahwa virus Korona benar-benar ada. Tetapi kita juga tidak boleh panik berlebihan. Kuncinya adalah mengikuti anjuran Pemerintah dengan menerapkan protokoler kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), yang saat ini menjadi 5M (menjauhi kerumunan dan mengurangu mobilitas). Jika pun kita ditakdirkan terpapar Covid-19, tidak boleh panik karena itu akan menurunkan imun tubuh kita.

Percayalah bahwa jika kita memiliki imun dan antibodi kuat, virus Korona akan kalah oleh antibodi kita yang kuat. Gejala terpapar virus Korona mirip dengan flu yaitu demam, batuk, dan berkurangnya indera penciuman. Untuk menghadapi gejala ini, ikuti anjuran dokter untuk meminum obat-obatan penghilang gejala utama yaitu penghilang deman dan batuk, ditambah dengan mengkonsumsi buah-buahan, vitamin, istirahat yang cukup, dan usaha lainnya dari para penyintas Covid-19. Jika tidak bergejala atau bergejala ringan cukup melakukan isolasi mandiri di rumah dengan menjaga 3M terhadap anggota keluarga lainnya. Untuk isolasi mandiri di gedung karantina pun bukan sesuatu yang menakutkan dan menyeramkan, karena kenyataannya saya merasa seperti seorang atlet yang masuk karantina pusat pendidikan yang akan dipersiapkan untuk bertanding. (*)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks