alexametrics
Senin, 26 Oktober 2020
Senin, 26 Oktober 2020

Ada Apa dengan Pulau-pulau Kecil?

Oleh: Rosiady H. Sayuti, Ph.D. Ketua Prodi Sosiologi Universitas Mataram

SAYA diundang oleh Ketua LPPM Unram, Dr. Muhammad Ali dalam diskusi untuk merevisi Rencana Induk Penelitian Universitas Mataram lima tahun ke depan. Salah satu bagian yang cukup alot diskusinya adalah ketika mendiskusikan fokus penelitian di Unram. Mengapa harus ada fokus?

Karena sebagaimana lazimnya di dunia perguruan tinggi, mesti ada lahan kajian yang menjadi fokus dan kemudian menjadi ciri khas dari suatu Universitas. Dulu namanya Pola Ilmiah Pokok.  Katakanlah Universitas Udayana, Bali, terkenal dengan kajian budayanya. Universitas  Nusa Cendana di NTT terkenal dengan kajian-kajian lahan keringnya, Universitas Pattimura di Ambon dengan kajian kelautannya.

Memang tidak semua Universitas berhasil dengan bendera yang mereka kibarkan.  Atau dengan kata lain, belum bisa terkenal dengan brandingnya itu. Mengapa demikian? Karena banyak faktor. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah masih sangat sedikit peneliti di kampus tersebut yang mengarahkan judul penelitiannya ke fokus yang sudah di tetapkan.

Banyak yang tidak faham akan makna  research branding atau fokus penelitian yang nota bene akan berkontribusi kepada kinerja dan kesohoran suatu universitas di dunia akademik.  Di lain fihak, para reviewer yang menyeleksi proposal-proposal penelitian dari para dosen di lingkungan kampus tersebut tidak dibekali oleh pimpinan bahwa yang boleh diluluskan hanyalah proposal-proposal yang sesuai dengan RIP di Universitas yang sudah ditetapkan.

Saya diundang oleh Ketua LPPM karena mungkin saya dianggap berpengalaman dalam menentukan komoditas unggulan di Pemprov, ketika saya menjadi Kepala Bappaeda NTB beberapa tahun yang lalu. Memang menjadi pengalaman dan sekaligus pelajaran yang sangat berharga bagi saya, ketika terlibat dalam diskusi untuk menentukan komoditas unggulan NTB.

Bahwa akhirnya sampai pada keputusan Sapi, Jagung, dan Rumput Laut yang ditetapkan, itu setelah melalui proses perdebatan yang sangat panjang. Rekan-rekan kepala dinas yang hadir dalam acara tersebut, tentu punya ego sectoral masing-masing. Masing masing mengusulkan komoditas yang berada di bawah kantornya. Mereka juga menyadari bahwa ketika telah ditetapkan komoditas unggulan, maka prioritas anggaran pasti akan mengikutinya.

Dan ternyata, diskusi untuk menentukan fokus penelitian di LPPM Unram juga berlangsung seru. Meski tidak sealot ketika saya memimpin diskusi yang saya ceriterakan di atas. Yang disepakati untuk menjadi fokus penelitian di Unram lima tahun ke depan – tentu setelah disetujui Senat – adalah Pariwisata dan Pulau-Pulau Kecil. Artinya adalah, semua penelitian yang diajukan oleh para dosen di Unram lima tahun ke depan harus mengacu ke tema ini.

 

Mengapa Pariwisata dan Pulau-pulau Kecil?

 

Untuk pariwisata, penjelasannya sederhana. Daerah kita ini adalah daerah tujuan pariwisata tingkat nasional, bahkan menjadi salah satu destinasi wisata dunia.  Oleh karena itu menjadi wajar, fokus penelitian dan juga mungkin nanti pengabdian masyarakat civitas academika di Unram harus merujuk ke sektor pariwisata.

Tema kedua adalah pulau-pulau kecil.  Tema ini sesungguhnya secara tersurat sudah menjadi locus penelitian di Unram sejak tahun 2000 an. Coba cek di Rencana Induk Penelitian Unram beberapa tahun silam.  Di situ secara eksplisit disebutkan bahwa visi penelitian di Unram adalah penelitian yang bersangkutan dengan  pulau-pulau kecil.  Baik infrastruktur maupun social humanioranya.

Mungkin karena waktu itu sosialisasinya kurang, dan teknologi informasi tidak secanggih sekarang, maka visi penelitian terkait pulau-pulau kecil ini tidak banyak disentuh.  Akibatnya branding unram sebagai pusat penelitian pulau-pulau kecil tidak dapat diwujudkan.  Publikasi jurnal terkait pulau-pulau kecil ini sedikit sekali yang terpublikasi.  Akibatnya kemudian, Unram tidak memiliki “bendera” seperti beberapa Universitas yang saya sebutkan di atas.

Dari segi kuantitas dan kualitas, kegiatan penelitian di Unram tidak kalah dengan berbagai univeritas di tanah air.  Ini dapat dilihat dari capaian rangking Universitas Mataram secara nasional beberapa tahun terakhir ini.   Namun ketika orang ingin lebih jauh menanyakan, apa fokus penelitian yang ada di Unram, sekarang, kita tidak bisa dengan tegas dapat menjawabnya.

 

Pulau-pulau Kecil

 

Menjadikan pulau-pulau kecil sebagai ‘bendera penelitian’ sesungguhnya juga tidak mudah-mudah amat. Harus ada sekelompok dosen yang memiliki concern ke arah sana. Harus ada dukungan anggaran yang memadai untuk melaksanakan penelitian di pulau-pulau kecil.  Entah itu dari Fakultas Pertanian, Peternakan, Ekonomi, Hukum, Teknik, Sospol, Keguruan, Kedokteran, dan lain-lain.

Khusus untuk kedokteran, kalau kita buka visi misi pendirian Fakultas Kedokteran 2001/2002 lalu, disana jelas dikatakan bahwa dokter yang akan dihasilkan dari Fakultas Kedokteran Unram ini adalah dokter yang memiliki sensivitas dengan masyarakat di pulau-pulau kecil.  Artinya adalah, disamping kompetensi kedokterannya yang hebat, para dokter dari Unram ini faham lika liku kehdiupan dan karakteristik masyarkat kepulauan atau pulau-pulau kecil. Termasuk lika liku penyakit dan kesehatannya.

Menjadikan pulau-pulau kecil dengan segala karakteristiknya menjadi  unggulan dalam melaksanakan penelitian untuk kita di NTB memang cukup menarik. NTB memiliki lebih dari 200 pulau-pulau kecil, baik yang berpenduduk maupun yang tidak memiliki penghuni. Ini kalau kita mengacu kepada ketentuan atau definisi pulau-pulau kecil, sesuai UU No 27 thn 2007 juncto UU No. 1 thn 2014 Tentang Pengelolaan Pesisir dan  Pulau Kecil.   Indonesia menyepakati bahwa pulau kecil luasan fisiknya lebih kecil atau sama dengan 2000 km per segi.

Dengan memfokuskan kegaiatan penelitian dan pengabdian masyarakat para dosen dan peneliti di Unram ke pariwisata dan pulau-pulau kecil, maka ke depan Unram akan lebih dikenal lagi dengan “brand” tersebut. Kolaborasi penelitian dengan fihak luar akan terfokus ke situ.   Pada waktunya akan terlahir para pakar yang ahli dalam bidang pariwisata dan juga berbagai bidang kajian yang berbasis di pulau-pulau kecil.

Akan lahir pula teknologi dan inovasi yang dapat bermanfaat secara langsung bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat di pulau-pulau kecil maupun masyarakat di sekitar wilayah destinasi wisata. Dari perspektif sosiologi maupun ilmu sosial lainnya akan terlahir berbagai model bangunan sosial maupun model rekayasa sosial yang akan menjadi pedoman bagi para pelaku pembangunan untuk mengantarkan masyarakat di wilayah pulau-pulau kecil maupun masyarakat di wilayah pariwisata menuju ke kehidupan yang lebih sejahtera. Wallahu a’lam bissawab. (*)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Nyoman: Gonta Ganti Kendaraan Tidak Masalah, yang Penting Rasanya

“Baru di motor Forza 250 CC ini saya rasakan sama sekali tidak ada getarannya ketika sudah kita berkendara dan sangat cocok dengan kondisi kesehatan saya yang memiliki penyakit jantung. Sebelumnya pernah saya memakai sepeda motor  jenis lain namun karna ada getarannya sangat terasa membuat saya tidak nyaman,” aku Nyoman.

Warga Antusias Hadiri Peresmian Rumah Besar Relawan HARUM Ampenan

Ratusan warga tumpah di jalan Saleh Sungkar, Dayen Peken Ampenan Kamis (22/10) sore kemarin. Warga hadir menyambut kedatangan pasangan H Mohan Roliskana – TGH Mujiburrahman (HARUM). Kedatangan pasangan ini untuk meresmikan Rumah Besar Relawan HARUM Ampenan.

Satgas Covid-19 : Masyarakat Harus Taat 3M Ketika Liburan

Kebijakan yang dibuat pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 dinilai cukup baik. Tantangan selanjutnya adalah pengawasan terhadap implementasi di lapangan. Khususnya terkaitpenerapan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak.

Tiga Bank Syariah Digabung, Bersiap Jadi yang Terbesar di Nasional

”Mengawal dan membesarkan tidak hanya sampai legal merger, tapi juga memastikan hadirnya bank syariah nasional terbesar ini benar-benar dapat memberikan manfaat bagi orang banyak dan membawa nama Indonesia ke kancah global sebagai pusat ekonomi syariah dunia,” katanya.

Honda Genio Makin Fashionable

”Tampilan Honda Genio yang semakin atraktif mewakilkan ekspresi anak muda,” ujar Thomas. 

UN Diganti, Pemerintah Didorong Intensifkan Sosialisasi

”Supaya apa yang kurang dan kendala yang muncul, bisa segera dievaluasi,” ujar dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris dan Pasca Bahasa FKIP Unram ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.

52 Ribu UMKM NTB Bakal Dapat Bantuan Presiden Rp 2,4 Juta

Pemprov NTB mengusulkan 52.661 UMKM sebagai penerima bantuan presiden (banpres) produktif. ”Data ini terus kita perbarui sampai minggu kedua bulan September,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB H Wirajaya Kusuma, pada Lombok Post, kemarin (23/8).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...
Enable Notifications    Ok No thanks