alexametrics
Rabu, 23 September 2020
Rabu, 23 September 2020

Korona dan Kisah Abu Ubaidah Meminta Mati Sahid dalam Memerangi Wabah

Sebuah Opini dari : Muslih Syuaib

Pagi tadi saya mendengar ceramah Ust Firanda Andirja di NUSA TV. Disebutkan wabah semacam korona ini pernah terjadi di Syam pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA.

Muslih Syuaib

Ada satu cerita yang menarik bagi saya. Yakni ketika Gubernur Syam saat itu Abu Ubaidah bin Jarrah RA (salah satu dari 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijanjikan masuk surga), yang justru meminta agar diwafatkan oleh wabah tersebut karena menginginkan syahid. Akhirnya beliaupun meninggal akibat wabah tersebut.

Posisinya kemudian digantikan Muadz bin Jabal RA. Sama seperti Abu Ubaidah ra, Muadz bin Jabal Ra juga memohon sahid karena wabah tersebut. Bahkan doanya diumumkan ke masyarakatnya, dan berharap bukan hanya ia yang meninggal akibat wabah, tapi juga keluarganya. Keinginan itu pun terkabul.

Posisi Muadz kemudian digantikan Amru Bin Al-Ash RA. Namun Amru Bin Al-Ash  memerintahkan warganya naik ke atas gunung di dalam kota Syam untuk menghindari wabah tersebut. Dan akhirnya wabah ini pun berangsur-angsur menghilang.

Saya tidak punya kapasitas menjadikan ini rujukan apakah kita boleh berdoa meminta mati sahid dengan cara terkena wabah semacam korona. Para ulama yang punya kapsitas dan kewenangan itu. Saya hanya meneruskan sebuah kisah sejarah. Dan mencoba belajar dari itu semua.

Abu Ubaidah dan Muadz bin Jabal boleh saja meminta sahid akibat wabah tersebut. Namun saya yakin mereka bukan pasrah, tapi tetap berusaha menghindari terjangkit wabah tersebut sembari mencegah penularan ke seluruh warga kota. Sama seperti keduanya dan para sahabat lainnya yang berdoa meminta sahid di medan perang, tapi tidak menyodorkan dirinya untuk ditombak musuh. Mereka tetap melawan dengan senjatanya, bahkan mengenakan pakaian zirrah.

Sedangkan Amru Bin Al-Ash, saya yakin tidak takut dengan wabah tersebut. Bahkan bisa saja beliau juga menginginkan kematian seperti dua sahabatnya itu. Tapi berusaha agar tidak terjangkit wabah, hukumnya wajib. Sehingga beliau memerintahkan warganya untuk menghindari wabah dengan cara naik ke atas gunung.

Tentunya, seperti kata Ust Firanda Andirja, mereka tetap berada di dalam kota Syam, yang merupakan epicentrum wabah. Karena Rasulullah SAW melarang kaum muslimin masuk atau keluar dari daerah wabah.

Iman saya hanya sebutir pasir bila dibanding iman Abu Ubaidah dan Muadz bin Jabal , di mana mereka justru meminta mati syahid dengan cara terjangkit wabah. Tapi kisah ini, sedikit menghilangkan kecemasan saya terhadap virus korona.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalaupun mati akibat virus ini, syahid sudah menanti. Asalkan kita tidak menyongsongnya, tapi tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarinya.

Kini kekhawatiran saya adalah sampai menularkan virus ini ke orang lain. Bisa saja akibat kecerobohan saya, virus ini menjangkiti seorang ulama seperti Ust Firanda Andirja atau ulama-ulama lainnya.

Bisa jadi saya menjadi penyebab sakitnya seorang wali kota, gubernur, atau presiden yang saat ini menjadi panglima terdepan dalam memimpin negara ini dari serangan korona. Atau bisa saja saya menularkan wabah ini pada seorang perawat atau dokter yang tengah berjuang menyelamatkan nyawa saudara-saudara kita yang lain.

Atau mungkin menularkan pada pak Ahmad, tukang sampah di kompleks rumah saya yg menjadi satu-satunya tulang punggung keluarganya. (*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dorong Pertumbuhan Ekonomi, NTB Promosikan Peluang Investasi

Ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Bank Indonesia. ”Pasti ujungnya juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji.

Efek Pandemi, Transaksi Valas di NTB Melorot 90 Hingga Persen

”Hingga kini pandemi telah memukul telak seluruh kegiatan usaha penukaran valuta asing (kupva) di money changer hingga 90 persen,” kata Darda Subarda, pemilik Money Changer PT Tri Putra Darma Valuta, kepada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Silky Pudding Drink Lombok, Minuman Kekinian Satu-satunya di Lombok

Minuman ini hadir dengan delapan varian rasa, yakni Red Island, Choco Dream, Magical Blue, dan Beauty Sunset. Juga Baby Queen, Sweet Choco, Deep Purple dan terakhir ada Snlight Choco. “Harganya hanya Rp 13.000 per cup,” kata Ramadarima, pemilik Silky Pudding Drink Lombok.

Sumbawa Gelar Simulasi KBM Tatap Muka

”Masing-masing kecamatan, ada perwakilan atau piloting, minimal dua sekolah yang kami tunjuk,” kata Sahril.

Disdik Kota Mataram Berharap Bantuan Kuota Dimanfaatkan Maksimal

”Kami belum tahu persis, makanya kami akan tunggu petunjuk berikutnya,” ujarnya, pada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Saatnya Kota Mataram Dipimpin Arsitek

“Tidak bisa kita mengharapkan perubahan, kalau masih memberikan kepemimpinan pada orang yang sama,” kata Ketua Partai Gelora NTB HL Fahrurrozi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks