alexametrics
Rabu, 4 Agustus 2021
Rabu, 4 Agustus 2021

Kurban untuk Qurban

Oleh:

Maesarah, M.Pd.I

Direktur Pesantren Seni Ma’shum Institute dan Waka.

Humas MAN 1 Lombok Barat

 

KURBAN (ejaan Indonesia) dan  Qurban (ejaan arab)  adalah  kata serapan dari bahasa Arab yang berasal dari kata qarraba, yuqorribu, qurbanan yang artinya dekat. Bentuk pelaksanaannya dalam Syariat islam adalah penyembelihan hewan seperti unta, sapi/kerbau, kambing atau domba pada hari Iduladha (hari raya suci ummat islam selain idul fitri  ) yang jatuh pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah (Kalender Islam) dan pada tahun ini bertepatan dengan hari selasa 20 juli 2021 dan dan berlanjut pada tiga hari sesudahnya.

Penyembelihan hewan qurban ini, adalah simbol memperingati ketaatan Nabi Ibrahim kepada sang Khalik, terhadap perintah untuk menyembelih putra tercinta satu-satunya yang telah ditunggu kelahirannya sejak lama, dialah Nabi Ismail yang kemudian Allah, Swt memerintahkan untuk mengganti keikhlasan tersebut dengan korban seekor domba, peristiwa qurban inilah yang diperingati setiap tahun oleh seluruh umat Islam sebagai rasa cinta dan sarana untuk bertaqarrub kepada sang pencipta.

Iduladha juga di sebut sebagai Lebaran Haji, karena jamaah haji sedang melaksanakan wukuf di Padang Arofah dan ini merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah haji. Karena haji tanpa Wukuf di Padang Arofah maka belum sempurna ibadah haji yang dilakukan, walaupun para jamaah haji Indonesia kembali harus menelan pil pahit kesabaran, untuk tahun kedua tidak bisa melaksanakan rukun Islam kelima ini, akibat dampak sistemik pandemi Covid-19 yang tidak hanya melanda Indonesia tapi juga di seluruh belahan dunia tak terkecuali Saudi Arabia tempat bagi dilaksnakannya ibadah haji.

Jika disederhanakan maka ada tiga tujuan kurban yaitu : 1). Qurban untuk kerabat, 2).  Qurban untuk akrab, 3). Qurban menuju takarrub.

Pertama, Qurban untuk kerabat. Nawaitu (Motiv) utama kurban bukanlah terutama terletak  pada penyembelahan hewan itu sendiri, namun kerelaan hati untuk berderma berupa daging mentah hasil kurban kepada para kerabat yang berhak menerimanya, lalu daging mentah  ini diolah sesuai dengan keinginan masing-masing penerimanya, sebuah gambaran pentingnya ketulusan untuk berbagi sekaligus saling menghargai dalam rangka memperkokoh kekerabatan itu sendiri yaitu dengan membiarkan aspirasi positif para kerabatnya, hal ini tidak bisa muncul dengan sendirinya, tanpa medium  yang salah satunya bernama kurban, yang dilambari kebesaran jiwa.

Yang kedua, hubungan kekerabatan yang baik harus mampu menumbuhkan kehangatan dan keakraban yang muncul dari interaksi yang saling memahami dan meng-arifi serta saling menguntungkan, di tengah adanya kecenderungan kehidupan berbangsa kita akhir-akhir ini yang saling menegasikan (meniadakan/menidakkan) antara individu yang satu dengan individu yang lain, antara satu komunitas dengan komunitas yang lain dan tidak jarang antara keyakinan agama yang satu dengan keyakinan agama lainnya. Hal diperparah lagi dengan kecenderungan berdigital kita yang tidak kunjung bijak, khususnya di era gadget (HP) dimana orang bisa bersua secara fisik namun tidak bertawajjuh (bertatapan) karena sibuk dengan telepon pintarnya masing-masing, silaturrahmi kemanusiaan yang dialogis, menjadi barang yang sangat mahal hari-hari ini.

Ketiga adalah Kurban menuju Taqarrub, Proses keakraban seorang ayah bernama Ibrahim dan seorang anak bernama Ismail bersumber dari kesabaran dan kerelaan dalam hubungan hidup yang dinamis dan syarat ujian. Artinya jalan menuju keakraban bukanlah jalan tol kebersamanan dalam suka saja, namun jalan panjang berliku, penuh onak dan duri yang memantik kesiapan diri untuk tetap  berkerabat dalam duka. Terlebih di masa pandemi Covid -19 yang belum menunjukan tanda-tanda akan usai, tidak kurang telah berdampak massif dan sistemik dan telah sukses mengganggu hingga meruntuhkan pri kehidupan kita. Gangguan kesehatan fisik, kesehatan jiwa dan mental hingga hancurnya sendi-sendi ekonomi khusunya bagi kalangan menengah ke bawah, telah berhasil menguji dan memantik kepedulian kita kepada sesama, rasa simpati hingga empati wajib di tunjukkan, salah satunya melalui perintah kurban bagi yang mampu melaksanakannya untuk selanjutnya mendistribusikan harapan dan kebahagian dengan simbol daging tersebut itu  kepada para kerabat yang berhak menerimanya.

Perintah kurban terasa semakin relevan menjadi titian menuju perbaikan hubungan kepada sesama manusia (hablun minannas)  menuju Taqarrub (Proses kedekatan) dengan Allah, Hablu minallah sebagai sebuah harapan dan modal bersama menuju kemenangan khususnya dalam mengahadapi common enemy (musuh  bersama ) makhluk, yang bernama Covid-19. Semoga…(*)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks