Selasa, 31 Januari 2023
Selasa, 31 Januari 2023

Menuju Kampus Unggul

Oleh : Prof. Dr. H Mansur Afifi, Guru Besar FEB Unram dan Asesor LAMEMBA

Universitas Mataram (Unram) genap berumur enam puluh tahun pada 2 Oktober 2022 yang lalu. Tentu saja umur 60 tahun bukanlah usia muda tetapi juga bukan usia tua untuk ukuran perguruan tinggi.

Di dunia, misalnya, terdapat universitas dengan usia ratusan tahun seperti Universitas Heidelberg di Jerman yang didirikan pada 1386 M. Bahkan Universitas Al Azhar di Mesir berumur lebih dari 1000 tahun karena didirikan pada 975 M.

Meskipun demikian, perjalanan sepanjang 60 tahun telah menjadikan Unram sebagai kampus dengan perkembangan yang relatif pesat. Dengan mahasiswa aktif sebanyak 32.957 orang, Unram masuk kategori kampus ukuran “sedang” karena tidak termasuk dalam kelompok 10 perguruan tinggi (PT) dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Indonesia. Universitas Brawijaya menjadi PT dengan jumlah mahasiswa terbesar yaitu sebanyak 56.290 ribu orang.

Mahasiswa tersebut terbagi ke dalam 9 fakultas dan program pascasarjana dengan 68 program studi (Prodi). Mereka diasuh oleh 1.346 orang dosen dan dilayani oleh sebanyak 1.651 orang pegawai. Dengan demikian rasio antara dosen dan mahasiswa adalah 1 berbanding 38 orang. Hingga kini Unram tercatat telah memiliki alumni sebanyak 79.753 orang di mana mereka mendominasi berbagai sektor di provinsi Nusa Tenggara Barat termasuk pemerintahan, bisnis, pendidikan, kesehatan, dan keuangan.

Selain itu, alumni Unram bekerja di seluruh wilayah tanah air dan juga di mancanegara. Banyak alumni Unram yang telah mencapai puncak karir baik di birokrasi pemerintah pusat seperti pejabat eselon satu, duta besar, pejabat di lembaga internasional, komisaris dan direksi BUMN, perusahaan multi nasional, dan perusahaan swasta. Khusus untuk alumni Prodi Teknik Informatika, beberapa diantara mereka saat ini tercatat bekerja di luar negeri seperti di Singapura, Polandia, dan Inggris.

 

Akreditasi Unggul

Memasuki tahap ketiga (2021-2025) dari Rencana Jangka Panjang Unram 2011-2025, Unram berupaya melakukan penguatan daya saing di tingkat internasional agar menjadi pilihan berstudi bagi warga mancanegara. Konsekuensinya, Unram harus mampu menjadikan lebih dari separuh Prodinya terakreditasi Unggul.

Baca Juga :  Fenomena Suhu Dingin di Musim Kemarau

Persoalannya adalah hingga Oktober 2022 jumlah Prodi yang terakreditasi Unggul hanya 2 (3%) yaitu Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kedokteran. Sementara itu, terdapat 3 (5%) Prodi dengan akreditasi A yaitu Agribisnis, Ilmu Hukum, dan Peternakan. Adapun sisanya sebagian besar (70%) terakreditasi Baik Sekali dan B.

Tantangannya adalah mengubah Prodi yang terakreditasi A, Baik Sekali, dan B menjadi Prodi dengan akreditasi Unggul. Untuk menjadi Unggul diperlukan beberapa persyaratan diantaranya adalah setiap kriteria penilaian untuk akreditasi harus melampaui Standar Pendidikan Tinggi (SN Dikti) dan standar pendidikan tinggi yang ditentukan oleh masing-masing perguruan tinggi (SPTPT). Selain itu, setiap kriteria harus berdaya saing internasional yang dibuktikan dengan hasil (outcome) dari seluruh proses tridharma yang diselenggarakan oleh Prodi dan Unit Pengelola Program Studi (UPPS).

Untuk mendapatkan akreditasi Unggul bagi perguruan tinggi, lebih dari separuh Prodi Sarjana (S1) terakreditasi Unggul. Dengan kata lain, akreditasi perguruan tinggi diperoleh atau berasal dari agregasi keunggulan Prodinya. Itulah sebab mengapa peningkatan kualifikasi atau akreditasi perguruan tinggi harus dimulai dari penguatan Prodi.

Prodi akan memperoleh akreditasi Unggul apabila berdaya asing internasional dan memenuhi syarat peringkat Unggul seperti yang dipersyaratkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) dan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM).

Ini berarti program studi telah menerapkan kurikulum berstandar internasional (outcome-based education), dan memiliki dosen dengan kualifikasi minimal 50% bergelar doktor dan dengan jenjang akademik lektor, lektor kepala, dan profesor minimal 60%.

Untuk memenuhi peringkat Unggul pada kualifikasi luaran dan tri dharma, dosen harus memublikasikan karya ilmiah pada jurnal internasional bereputasi tinggi dan seminar internasional terindeks. Rekognisi karya ilmiah tersebut ditandai dengan jumlah sitasi dari setiap artikel.

Selain itu, mahasiswa harus menunjukkan daya saing internasional melalui pencapaian prestasi akademik dan non akademik pada level nasional dan internasional. Ini semua akan tercapai jika UPPS mengelola Prodi dengan tata kelola universitas yang baik (good university governance), penjaminan mutu internal yang kuat, dan kerja sama dengan institusi di level internasional.

Baca Juga :  Keluarga Dokter

 

Visi Bersama

Berdasarkan persyaratan menjadi institusi pendidikan bertaraf internasional maka nampak kesenjangan antara harapan dan realitas. Kesenjangan antara realitas dan harapan dalam terminologi Manajemen Perubahan disebut Tegangan Kreatif (Creative Tension). Tegangan kreatif adalah kekuatan yang berupaya membawa realitas dan visi menjadi satu kesatuan. Kesenjangan antara harapan dan realitas juga merupakan sumber energi, karena adanya tegangan. Jika tidak ada kesenjangan itu, maka tidak ada tindakan yang diperlukan untuk bergerak ke arah visi.

Ada dua cara untuk memecahkan tegangan yang timbul dari jurang kesenjangan antara harapan dengan realitas. Pertama, menarik realitas saat ini ke arah visi (harapan), dan ini merupakan solusi yang mendasar dan membutuhkan usaha (effort) yang besar. Kedua, menarik visi (harapan) ke arah realitas, dan tindakan ini merupakan solusi pintas.

Pilihan kita saat ini adalah menarik realitas ke arah visi karena visi sudah ditetapkan. Untuk itu diperlukan selain kerja keras, kesabaran, dan kerja sama adalah pemimpin yang mampu membiakkan perubahan (nurturing change). Seorang pemimpin harus mampu membangun dialog dalam rangka menyatukan visi bersama (shared vision) untuk menumbuhkan organsisasi yang sehat, menciptakan lembaga bermutu, dan meningkatkan kebermaknaan lembaga terhadap masyarakat dan daerah.

Selain itu, hasil dialog harus dirumuskan dalam bentuk perencanaan program dan penganggaran. Setiap kesepakatan harus diimplementasikan dalam bentuk program dan kegiatan sebagai aksi bersama (collective action). Dengan demikian, akan terjadi peningkatan kinerja secara berkelanjutan (continous improvement) sehingga visi bersama akan dapat diraih. Jika hal ini dapat dilakukan maka visi Unram menjadi kampus yang “Unggul” di tahun 2025 insya Allah akan dapat diwujudkan. Bagaimana menurut Anda?

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks