alexametrics
Jumat, 18 September 2020
Jumat, 18 September 2020

Industrialisasi Peternakan Menuju NTB Gemilang

Oleh:

Muhammad Yani, S.Pt, M.Si

ASN pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB

 

PADA saat sekarang ini, kita Bangsa Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional. Pemerintah telah berupaya melakukan berbagai kegiatan, termasuk salah satu di antaranya adalah mendorong laju perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini belum begitu mengembirakan. Akhir tahun 2019 pertumbuhan ekonomi hanya tercapai 5,1 persen dari target 5,3 persen.

Sektor pertanian merupakan sektor yang mendapatkan perhatian cukup besar dari pemerintah dikarenakan peranannya yang sangat penting dalam rangka pembangunan ekonomi jangka panjang maupun dalam rangka pemulihan ekonomi bangsa. Dengan pertumbuhan yang terus positif secara konsisten, sektor pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional (Antara, 2009).

Selain itu Pertumbuhan laju industri merupakan andalan pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomian di Indonesia. Perekonomian di Indonesia tidak akan berkembang tanpa dukungan dari peningkatan perindustrian sebagai salah satu sektor perekonomian yang sangat dominan di jaman sekarang.

Rowland B. F. Pasaribu mengatakan, sektor industri diyakini sebagai sektor yang dapat memimpin sektor-sektor lain dalam sebuah perekonomian menuju kemajuan. Produk–produk industrialisasi selalu memiliki “dasar tukar” (terms of trade) yang tinggi atau lebih menguntungkan serta meciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan produk–produk sektor lain. Hal ini disebabkan karena sektor industri memiliki produk yang sangat beragam dan mampu memberikan manfaat yang tinggi kepada pemakainya serta memberikan marjin/keuntungan yang lebih menarik. Oleh sebab itu industrialisasi dianggap sebagai ‘obat mujarab’ (panacea) untuk mengatasi masalah pembangunan ekonomi di negara berkembang.

Menurut Meier (1995), transformasi struktural dari ekonomi agraris perdesaan berpendapatan rendah ke ekonomi industri perkotaan dengan pendapatan per kapita lebih tinggi melibatkan fenomena industrialisasi dan pembangunan pertanian. Sedangkan Arifin (2005) menyatakan industrialisasi mencakup proses peningkatan nilai tambah, sampai pada koordinasi dan integrasi vertikal antara sektor hulu dan sektor hilir.

Di NTB sektor pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan) merupakan salah satu sektor utama dengan share terbesar dalam PDRB di NTB untuk Triwulan I tahun 2019 yaitu 23,41 dan menyerap 864 ribu tenaga kerja dengan persentase 36 persen (Laporan BI NTB. 2019).

Sementara itu Dalam berbagai kesempatan, Gubernur NTB Dr. H. Zulkiflimansyah selalu menegaskan keyakinannya bahwa pengangguran dan kemiskinan akan bisa dikurangi dengan industrialisasi. Sebab, industrialisasi memungkinkan hadirnya peningkatan produktivitas. Komoditas yang tumbuh dari tanah-tanah di NTB, bisa menghasilkan nilai tambah berlipat ganda berkat industrialisasi.

Konsep industrialisasi yang dimaksudkan Gubernur juga tidak selalu harus berupa hadirnya teknologi yang terlalu rumit atau berupa mesin-mesin besar. Justru, yang akan didorong adalah lahirnya teknologi sederhana yang bisa mengolah hasil pertanian di NTB menjadi aneka produk olahan. Setelah diolah, nilai komoditas NTB ini, tentu saja akan jauh lebih besar.

 

Proses mengolah produk ini juga pasti membutuhkan tambahan tenaga kerja. Dalam skala satu atau beberapa unit, jumlah tenaga kerja yang terserap mungkin sedikit. Namun, jika teknologi sederhana ini diterapkan secara massal dalam bentuk sentra industri-industri rumahan di berbagai daerah di NTB, maka akumulasinya akan melahirkan kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah yang besar.

Di dalam teori ekonomi, ada dua macam pola strategi yang dapat digunakan dalam melaksanakan suatu proses industrialisasi, yaitu strategi Substitusi Impor/Import Subtitution (SI) yang sering disebut dengan istilah inward-looking strategy atau ”orientasi ke dalam” dan strategi Promosi Ekspor/export promotion (PE) yang sering disebut dengan istilah outwardlooking strategy ”orientasi ke luar”.

 

Strategi SI lebih menekankan pada pengembangan industri yang berorientasi pasar domestik, sedangkan PE ke pasar internasional. Strategi SI dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai dengan mengembangkan industri di dalam negeri yang memproduksi barang-barang pengganti impor. Sedangkan strategi PE didasari oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa direalisasikan jika produk-produk yang dibuat di dalam negeri dijual di pasar ekspor. (Tambunan, 2001).

Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba untuk mendiskripsikan strategi Subtitusi Import dengan Promosi Ekspor untuk pelaksanaan industrialisasi yang saat ini menjadi konsen Pemerintah Daerah Provinsi NTB dalam mewujudkan NTB yang Gemilang dari sub sektor peternakan.

Disadari atau tidak, sub sektor peternakan memiliki peranan penting dalam kehidupan dan pembangunan sumberdaya manusia.Peranan ini dapat dilihat dari fungsi produk peternakan sebagai penyedia protein hewani yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia. Oleh karenanya tidak mengherankan bila produk-produk peternakan disebut sebagai bahan ”pembangun” dalam kehidupan ini. Selain itu, secara hipotetis, peningkatan kesejahteraan masyarakat akan diikuti dengan peningkatan konsumsi produk-produk peternakan, yang dengan demikian maka turut menggerakan perekonomian pada sub sektor peternakan.

Dalam jangka panjang tidaklah dapat dipungkiri bahwa permintaan terhadap komoditas-komoditas peternakan akan terus meningkat seiring dengan adanya pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan, perbaikan tingkat pendidikan, urbanisasi, perubahan gaya hidup (life style) dan peningkatan kesadaran akan gizi seimbang. Kondisi ini mencerminkan bahwa bisnis peternakan ke depan tetap memiliki prospek pasar yang baik dan berkelanjutan.

Peran strategis sub sektor peternakan di NTB di antaranya sumber pendapatan sebagaian besar masyarakat pedesaan dan penyediaan lapangan kerja dan lapangan usaha bagi masyarakat, karena berternak bagi masyarakat NTB sebagai modal social turun temurun yang sudah melekat di masyarakat. Maka sangatlah tepat jika sub sektor peternakan menjadi salah satu sub sektor yang harus dikembangkan kearah industrialisasi.

Strategi Subsitusi Import dalam konsep industrialisasi didaerah dalam pandangan penulis adalah mengembangkan usaha-usaha yang dibutuhkan masyarakat tetapi belum mampu tersedia sesuai kebutuhan sehingga masih disuplai dari daerah lain, padahal kalau kita melihat potensi daerah tersebut untuk dapat menyediakannya kebutuhan masyarakat yang kurang sangatlah potesial.

Pengembangan industrialisasi unggas di NTB misalnya, saat ini sangat tepat sebagaimana yang diinginkan oleh pemerintah NTB sebagai salah satu startegi subsitusi import. Untuk diketahui bahwa saat ini untuk kebutuhan telur di NTB dibutuhkan 1,3 Juta butir perhari, sementara yang mampu di sediakan oleh peternak kita di NTB baru mencapai 600 ribu butir perhari artinya ada gap 700 ribu butir perhari. Kekurangan ketersedian telur ini disuplay dari luar NTB atau dengan kata lain setiap hari kebutuhan telur masyarakat NTB masih di impor dari provinsi lain seperti dari Pulau Jawa dan Bali. Ketersediaan bibit ayam DOC juga menjadi kendala pengembangan usaha ternak unggas di NTB, karena belum ada yang mengembangkan usaha perbibitan unggas sehingga ketersediaanya juga disuplay dari luar NTB.

Selain itu kebutuhan pakan ternak untuk usaha peternakan unggas juga masih disuplay dari luar daerah karena di NTB sendiri belum ada pabrik atau industri pembuatan pakan ternak, padahal biaya produksi terbesar dalam usaha pengembangan usaha peternakan unggas adalah pakan yaitu mencapai 60-70 persen dari biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak.

Maka kegiatan yang harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan dari impor/daerah lainnya adalah membentuk kawasan pengembangan unggas (pengembangan kampung unggas petelur dan pedaging), penguatan kelembagaan kelompok perunggasan, penciptaan dan pengembangan SDM pengusaha muda perunggasan, penciptaan UKM pengolahan hasil unggas, permudah Kelompok usaha perunggasan untuk akses modal di perbankan, pembangunan pabrik pakan mini di setiap kelompok usaha perunggasan dan mengembangkan usaha perbibitan unggas.

Sedangkan strategi promosi ekspor yaitu kemampuan daerah menghasilkan produk-produk peternakan yang mampu disediakan oleh daerah dan sangat dibutuhkan oleh daerah lainnya. Promosi eksport pada sub sektor peternakan yaitu pada kegiatan pengembangan sapi potong. Sebagaimana kita ketahui bahwa NTB merupakan salah satu provinsi penghasil dan penyuplai sapi bibit dan sapi potong ke lebih dari 12 provinsi lainnya bahkan secara historis NTB pernah mengeksport sapi ke luar negeri yaitu bandara malaka dan singapura.

Saat ini populasi sapi di NTB mencapai 1,2 juta ekor. Dari populasi tersebut maka dihasilkan potensi produksi ternak potong sebesar 155.918 ekor/tahun yang dapat didistribusi untuk pemenuhan konsumsi daging dalam daerah di NTB sebanyak 69.462 ekor/tahun sisanya dapat di ekspor keluar daerah atau digunakan untuk industrialisasi pengolahan  seperti daging beku, daging olahan, dan lainnya sebanyak 86.456 ekor/tahun.

Ketertarikan provinsi lain terhadap ternak sapi di NTB, karena NTB merupakan satu-satunya provinsi yang bebas Penyakit Jembrana, bebas dari Penyakit Brucellosis di Pulau Lombok dan Sumbawa, bebas Penyakit SE di Pulau Lombok, dan terkendalinya penyakit Anthrax di Pulau Lombok 20 tahun terakhir. Hal ini harus terus dipertahankan dengan terus melakukan pencegahan, pengedalian dan pemberantasan penyakit pada hewan dan lingkungannya.

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk tetap mempertahan NTB sebagai salah satu provinsi penyuplai ternak potong di Indonesia adalah dengan terus mengembangkan dan memperbanyak populasi sapi potong, memperkuat kelembagan kelompok ternak dengan memperbanyak jumlah sapi yang dipelihara yang selama ini baru 1-2 ekor/ orang menjadi 4-5 ekor/orang, mengembangkan pakan ternak dan pemanfaatan limbah pertanian dengan pengunaan dan penerapan teknologi pengolah pakan, pengoptimalan pemanfaatan RPH untuk dapat menyediakan daging yang ASUH, menyediakan bibit/benih sapi yang berkualitas baik penjantan unggul untuk INKA maupun semen beku untuk Inseminasi Buatan, peningkatan SDM peternak dan petugas, menciptakan kelompok usaha pengolahan hasil produk peternakan, pengembangan jaringan pasar untuk industri rumahan berbasis teknologi dan pembangunan pabrik pakan ternak.

Dua pola startegi impor dan promosi ekspor merupakan pilihan yang dapat dijalankan dalam kegiatan industrialisasi peternakan, keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan tergantung tujuan yang dinginkan dalam kegiatan industrialisasi tersebut.

Indikator keberhasilan industrialisasi di daerah ditentukan antara lain oleh kinerja dari industri tersebut. Meskipun bukan tujuan akhir dari pembangunan ekonomi, namun industrialisasi merupakan tujuan mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan, yang selanjutnya akan menghasilkan pendapatan per kapita yang tinggi bagi masyarakat. Di sisi lain peran pemerintah juga sangat diperlukan terutama dukungan berupa materi demi terwujudnya kegiatan industralisasi. Menjadi pengontrol dalam pergerakan industri yang ada agar dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan target hasil yang di inginkan masyarakat maupun pemerintah. (*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Pilwali Mataram, Polres Petakan 12 Potensi Kerawanan

Polresta Mataram memetakan 12 titik potensi kerawanan di Kota Mataram. “Sebenarnya ini kejadian (yang kami himpun) dulu dan pernah terjadi,” kata Wakasat Intelkam Polres Mataram, Ipda Gunarto, kemarin (17/8).

Pilkada Serentak NTB, Potensi Saling Jegal Masih Terbuka

Bawaslu NTB mengantisipasi potensi sengketa usai penetapan Pasangan Calon (Paslon) 23 September mendatang. Baik sengketa antara penyelenggara pemilu dengan peserta dan peserta dengan peserta.

Bukan Baihaqi, Isvie Akan Menangkan HARUM di Pilwali Mataram

Golkar dipastikan solid memenangkan setiap pasangan yang diusung. “Sebagai kader Golkar kita harus loyal (pada perintah pertai),” kata Sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi NTB Hj Baiq Isvie Rupaeda.

Gubernur Ingatkan Jaga Kerukunan di Musim Pilkada!

”Partai boleh beda, calon boleh beda, tapi senyum kita harus senantiasa semanis mungkin dengan tetangga-tetangga kita," kata Gubernur NTB H Zulkieflimansyah saat menyapa umat Hindu di Pura Dalem Swasta Pranawa, Abian Tubuh, Kamis (17/9/2020).

Koreksi DTKS, Pemprov NTB Coret 215.627 Rumah Tangga

”Data ini dari hasil verifikasi dan validasi yang dilakukan kabupaten/kota,” kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) NTB H Ahsanul Khalik, Kamis (16/9/2020).

53 SPBU di NTB Sudah Go Digital

”Upaya ini untuk menjawab tantangan di era digital. Pertamina memantau distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) end to end process, yang akan memberikan layanan kepada pelanggan lebih aman, mudah dan cepat,” kata Unit Manager Communication Relations & CSR Pertamina MOR V Rustam Aji, Kamis (17/9/2020).

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks