alexametrics
Minggu, 28 Februari 2021
Minggu, 28 Februari 2021

Efektivitas Vaksin dan Prediksi yang Tak Terbukti

Oleh:

Rosiady Sayuti, Ph.D.

Ketua Prodi Sosiologi Universitas Mataram

 

SAYA merasa punya kewajiban moral untuk menulis (lagi) tentang pandemi ini setelah tulisan saya yang berjudul “Kabar Baik dari Unram” pada bulan Mei 2020 ternyata tidak terbukti. Prediksi yang saya paparkan pada tulisan tersebut, yang mengutip tulisan para pakar yang diseminarkan pada waktu itu (Dr. dr. Hamsu Kadrian Sp.THT dan Dr. Khairil Anwar) ternyata tidak terbukti. Pada tulisan tersebut, saya memaparkan dengan nada yang sangat optimistik bahwa Covid-19 ini, untuk kasus NTB akan mengalami puncaknya pada bulan Agustus, dan kemudian akan melandai sampai akhirnya akan berhenti total pada bulan Desember 2020. Prediksi tersebut didasari modelling yang mereka buat dengan menggunakan data berseri untuk beberapa bulan kebelakang, sejak adanya Covid-19 pada bulan Maret 2020.

Di tulisan tersebut saya juga mengutip dan membuat analisis berdasarkan data prediksi yang dibuat oleh Jianxi Luo, Dosen dan Peneliti pada Singapore University of Technology & Design. Luo mempublikasikan tulisannya pada Jurnal Bereputasi Internasional, Elsevier (2021) “Technological Forecasting and Social Change.” Luo mengutip publikasi dar iberbagai sumber yang aktif membuat prediksi dan modelling terkaitdengan pandemi ini. Salah satunya adalah dari University of Geneva, ETH Zurich & EPFL (http://renkulab.shinyapps.io/COVID-19-Epidemic-Forecasting/). Data dan prediksi covid-19 untuk hampir semua negara dari seluruh dunia bisa dilihat di situs tersebut termasuk Indonesia.

Untuk Indonesia, yang menurut grafik yang ditampilkan dalam tulisan tersebut menunjukkan adanya kecenderungan untuk menurun pada bulan November 2020. Pada tanggal 24 September 2020, jumlah kasus per hari di Indonesia “meledak” pada angka 4.235 kasus positif. Diperkirakan hari itu adalah puncaknya, karena kemudian di hari-hari berikutnya jumlah kasus menjadi menurun. Pada tanggal 1 Nopember 2020 kasusnya “hanya” 3.285 kasus. Namun apa yang terjadi, pada hari-hari berikutnya, jumlah kasus meningkat lagi, sampai dengan akhir tahun 2020 dan “puncaknya” (harapannya begitu) terjadi pada tanggal 14 Januari 2021 dengan angka positif baru mencapi 14.224.

Kemudian vaksin untuk tenaga kesehatan dimulai. Data aktual pada tanggal 18 Februari 2021 menunjukkan angka kasus positif baru 9.039 orang. Ini artinya ada trend yang menurun, apabila dibandingkan dengan angka pada data sebulan sebelumnya. Oleh Dr.dr. Hamsu Kadrian, fase sekarang ini disebut sebagai gelombang kedua, yang mudah-mudahan menjadi fase terakhir. Tidak ada turbulensi kasus baru lagi, seperti yang terjadi pada bulan Nopember yang lalu. Apalagi kalau program vaksinasi berjalan sesuai dengan jadwal. Hingga hari ini, jumlah mereka yang divaksin di Indonesia telah mencapai angka sekitar 1,79 juta orang.

 

Efektivitas Vaksin

Saya tertarik untuk melihat pada situs tersebut, data perkembangan kasus di Inggris dan Amerika yang telah terlebih dahulu menjalani vaksinasi penduduknya. Untuk Inggris hingga 17 Februari 2021, jumlah penduduknya yang divaksin telah mencapai angka 17 juta orang. Sementara Amerika Serikat telah mencapai angka 57.74 juta orang. Dari data yang saya kutip dari situs di atas, dapat dilihat trendnya untuk Inggris sebagai berikut:

 

Sumber: (http://renkulab.shinyapps.io/COVID-19-Epidemic-Forecasting/).

Dari data pada grafik tersebut terlihat bahwa puncak gelombang kedua terjadi pada tanggal 18 Januari 2021 dengan angka 68.192 orang kasus baru. Namun dengan makin banyaknya penduduk yang divaksin, dan telah menunjukkan efektivitasnya, angka kasus per hari kemudian menurun menjadi 40.321 pada tanggal 22 Januari 2021, dan sebulan kemudian pada tanggal 14 Februari menjadi 10.991 kasus baru. Ini artinya vaksin di Inggris telah cukup efektif menurunkan angka kasus baru per harinya.

Yang sangatcepat peningkatan jumlah pemberian vaksin kepada penduduknya adalah Amerika Serikat. Pada tanggal 18 Februari 2021, jumlah penduduknya yang sudah divaksin adalah 57.74 juta orang. Hasilnya, dapatdilihat pada gambar berikut:

Sumber: (http://renkulab.shinyapps.io/COVID-19-Epidemic-Forecasting/).

Nasib Amerika mirip-mirip Indonesia. Sempat“di PHP” oleh Covid-19. Pada tanggal 18 Juli 2020 terjadi angka positif baru yang dikira adalah puncaknya, yaitu 66.252 kasus baru. Kemudian hari-hari setelah itu angka tersebut menurun, sampai pada tanggal 9 September 2020 pada angka 36.534 kasus baru. Namun setelah itu, ternyata angka kasus baru di Amerika terus meningkat, jauh melebihi angka yang pernah dicapai sebelumnya. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh suasana kampanye Pilpres pada waktu itu. Puncaknya (lagi-lagi harapannya demikian) adalah kasus baru yang terjadi pada tanggal 2 Januari 2021, sehari setelah perayaan tahun baru 1 Januari 2021. Angka kasus positif baru pada hari itu mencapai angka 299.786. Padahal waktu itu vaksin sudah mulai disebarkan ke penduduk. Nampaknya belum menunjukkan efektivitasnya. Baru setelah itu angka positif baru kemudian menurun. Sebulan lebih kemudian, pada tanggal 9 Februari 2021 angka positif baru menjadi 95.170 dan pada tanggal 15 Februari 2021 turun lagi menjadi 53.970.

 

Harapan ke Depan

Dari uraian di atas nampaknya kita bisa berharap dengan vaksin yang kini untuk Indonesia sudah mendekati angka 2 juta orang itu, Covid-19 ini bisa di “jinakkan.” Tentu kita masih tetap harus bersabar karena efektivitas vaksin itu tidak bisa serta-merta terlihat. Untuk terbentuknya kekebalan tubuh terhadap virus Covid-19 perlu waktu beberapa hari bahkan minggu setelah seseorang itu divaksin. Dalam masa itu maka kita tetap tidak boleh lengah dengan protokol kesehatan. Selalu pakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan lain-lain. Wallahua’lambissawab.(*)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks