alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Guru Penggerak, Lokomotif Merdeka Belajar

Oleh: Drs. H. Hapazah, M.Pd. Guru SMAN 1 Praya Lombok Tengah

MERDEKA!

Bagi bangsa Indonesia, kata merdeka merupakan kata yang paling merah putih pada bulan Agustus ini. Kata merdeka mengacu kepada makna ‘bebas’ atau ‘lepas dari ikatan’. Sejarah mencatat, bangsa Indonesia bebas atau lepas dari belenggu penjajahan bulan Agustus 75 tahun silam.

Tidak terasa, waktu terus berlalu, sekarang tahun 2020. Bagaimana mengisi kemerdekaan pada situasi pandemi ini? Pada momen peringatan hari kemerdekaan tahun ini, penulis menukilkan sebuah tulisan, sebagai ekspresi memperingati hari kemerdekaan. Selamat membaca.

Sejak Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, istilah merdeka belajar menyeruak memenuhi angkasa pendidikan Indonesia. Ada empat wujud merdeka belajar yang sudah lahirkan. Keempat wujud tersebut, yakni RPP, PPDB, UN/UNBK, dan Kampus Merdeka. Sebagaimana bayi yang telah dilahirkan, keempat wujud merdeka belajar itu pun sudah bisa berjalan, walau masih dalam bimbingan.

Ciri dan inti merdeka belajar itu sejatinya ialah penggerak, kata Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Syahril lewat youtube yang dapat diakses semua kalangan. Oleh karena itu, untuk menyukseskan program Mas Menteri, yakni merdeka belajar episode ke-5, bermunculan istilah penggerak seperti organisasi penggerak, sekolah penggerak, pendidik penggerak, dan guru penggerak.

Artinya, untuk menyukseskan program merdeka belajar diperlukan gerakan bersama dari dan oleh semua pihak yang bersinergi dalam soliditas yang kuat dan akurat. Kesemua penggerak itu berfokus kepada siswa. Semua gerakan dari penggerak itu berorientasi kepada peningkatan kualitas siswa dalam belajar dan penciptaan ekosistem pendidikan yang lebih baik.

Pada tulisan ini tidak disinggung bagaimana organisasi penggerak, seperti NU dan Muhamadiyah yang urung bergerak. Begitu pula, tentang sekolah dan pendidik penggerak. Tulisan ini fokus pada diktum guru penggerak (GP).

GP adalah lokomotif merdeka belajar. GP adalah pejuang garda terdepan memajukan pendidikan. GP akan berjuang mengembangkan kompetensi siswa. GP tidak pernah berdiam diri dan merasa puas dengan capaian yang ada. GP merasa tidak nyaman pada zona nyaman.

GP adalah guru yang selalu gelisah, senantiasa mencari teknik baru, strategi yang variatif, dan teknologi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan. GP akan mencurahkan sebagian besar perhatian, tenaga, waktunya untuk memajukan siswa. GP akan menempatkan diri sebagai gurunya manusia di kelasnya manusia, dan sekolahnya manusia ala ide edukatif Munif Chatib.

Prinsip-prinsip memperlakukan manusia sesuai kodrat kemanusiaan akan diupayakan demi tercapainya tujuan pendidikan. GP akan berupaya mengatasi kemandekan kelas dan warganya mencapai cita-citanya. GP tidak akan latah mengatakan “Indonesia terserah”. Pun dalam situasi pandemi korona yang tengah mewabah. GP berprinsip nekad itu terkadang perlu di samping semangat dalam mengikhtiarkan kemajuan.

Guru penggerak adalah guru yang kreatif. Diyakini sikap kreatif ini akan membawa kesuksesan. Prestasi yang diraih GP ditularkan kepada koleganya. GP berupaya menjadi vaksin bagi guru lainnya. GP tidak berjaya sendiri, tetapi akan mentransformasikan kejayaannya kepada guru-guru lain. Upaya atau gerakannya menstimulasi orang lain merupakan ciri yang melekat pada setiap guru penggerak.

Mempraktikkan merdeka belajar dengan mengotimalkan potensi siswa, yang menurut data BPS setidaknya 45 juta siswa tidak bisa bersekolah karena covid-19, bukan perkara mudah dan bisa diwujudkan oleh seorang guru. Untuk itu, diperlukan upaya kolosal dari semua pihak. GP akan membangun sinergitas dengan komunitas penggerak lain, yang seiring dan sejalan dalam rangka mewujudkan merdeka belajar episode ke-5.

Merdeka belajar telah memberikan kemerdekaan bagi insan pendidikan untuk berinovasi. GP adalah pionirnya. GP akan terpanggil menggerakkan guru dan tenaga kependidikan lain melaksanakan tugas dengan lebih cerdas. GP akan bergerak dan merespons lebih cepat isu perkembangan teknologi pendidikan. Guru penggerak akan memotivasi guru lain untuk berkreativitas dan mempraktikkan best practice guru, mengikuti lomba guru berprestasi, olimpiade guru nasional, inovasi pembelajaran dan sebagainya.

Guru penggerak akan membimbing dan mengajak guru lain di dalam menyukseskan gerakan literasi sekolah, e-learning, webinar, usul kenaikan pangkat, menulis bahan ajar, mencipta alat peraga, mengikuti In Hous Training (IHT), dan lain-lain. Demikian pula dalam menghidupkan kultur sekolah yang meluntur, genem ‘rajin’ (beribadah menyukseskan program zero waste), agamais dan religius, berbudaya lingkungan.

GP akan menerjemahkan visi dan missi sekolah dalam aktivitas nyata bagi warga sekolah. Inilah sejatinya guru penggerak yang diperlukan di era kemerdekaan belajar dan berkarya ini.

Menilik peran guru penggerak yang demikian urgen, maka tidaklah mengherankan jika Kaisar Jepang, Hirohito, ketika bom atom memorakporandakan kota Nagasaki dan Hirosima, yang ditanyakan berapa guru yang masih tersisa. Kaisar Jepang tidak menanyakan berapa tentara yang masih hidup, tetapi yang ditanyakan adalah berapa guru yang selamat. Kaisar Hirohito sadar betul bahwa jika ada guru yang masih hidup, keadaan Nagasaki dan Hirosima yang luluh lantak akan pulih serta segera terbenahi.

Di tangan gurulah masa depan bangsa Jepang ditambatkan. Pengharapan sekaligus penghormatan terhadap guru oleh bangsa Jepang menjadi rujukan bangsa lain dalam memajukan bangsanya. Hal ini disandarkan pada fakta yang ditunjukkan bangsa Jepang, saat ini Jepang merupakan salah satu negara maju. Tentu saja salah satu faktor penentunya ialah peran guru dalam meningkatkan SDM yang dimiliki.

Mempertahankan eksistensi pembelajaran pada masa pandemi ini, signifikansi GP sangat dibutuhkan. Ketika wabah korona melumpuhkan semua sendi kehidupan, tidak terkecuali pendidikan; peran GP senantiasa dinantikan. Perubahan sikap hidup dan cara pandang sebagai tuntutan new normal adalah geliat budaya baru yang mesti diikuti penggiat pendidikan.

Menyesuaikan diri dengan trand budaya yang selalu bergolak merupakan adaptasi edukasi yang mutlak dilakukan. Kondisi bangsa yang beragam dari Sabang sampai Merauke menjadi inspirasi inovasi yang sesuai bagi setiap sekolah dan daerah. Dengan inovasi itu, diharapkan semua pihak akan bahagia.

Semangat belajar para siswa akan kembali tumbuh. PG bertanggung jawab menjawab laporan Unicef. Berdasarkan laporan Unicef, covid-19 menyebabkan terganggunya stabilitas pendidikan yang berdampak pada perubahan perilaku siswa. Kecanduan gadget dan motivasi belajar menurun adalah indikasinya.

Dengan demikan, dapat dikatakan bahwa guru penggerak adalah pendorong dan penghela transformasi pendidikan. Tujuannya agar pendidikan Indonesia mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) unggul untuk pembangunan nasional.

Hanya dengan tips yang smart, GP dan stakeholder lainnya, dapat mewujudkan tujuan tersebut. GP adalah guru merdeka, lahir dari sistem yang merdeka. GP ialah guru yang merdeka mengembangkan profesinya demi kemerdekaan dan kebahagiaan bersama. (*)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks