Sabtu, 4 Februari 2023
Sabtu, 4 Februari 2023

AICIS dan Misi Profetik

Oleh:
Dr. Khairul Hamim, MA
Wakil Dekan 2 FEBI UIN Mataram

ANNUAL International Conference on Islamic Studies atau yang familiar disingkat AICIS merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI untuk mendesiminasikan hasil penelitian para intelektual muslim yang tersebar di berbagai belahan dunia. Pelaksanaan kegiatan AICIS tahun ini relatif berbeda dengan pelaksanaan AICIS pada tahun-tahun sebelumnya, di mana pada tahun sebelumnya AICIS dilaksanakan di satu wilayah tertentu, namun AICIS kali ini akan dilaksanakan di dua tempat yang berbeda yaitu di Lombok dan di Bali. AICIS di Lombok terpusat pelaksanaannya di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram pada tanggal 18-20 Oktober mendatang. Sementara di Bali akan dilaksanakan pada tanggal 1-4 Nopember 2022.

Pada Tahun 2013 yang lalu, UIN Mataram untuk pertama kalinya diberi amanah oleh Kemenag RI sebagai host pelaksana AICIS. Dan di tahun 2022 ini, UIN Mataram kembali ditunjuk oleh Kemenag RI sebagai pelaksana AICIS untuk yang kedua kalinya. Adapun pulau Bali dipilih sebagai tempat lanjutan penyelenggaraan AICIS, boleh jadi karena kegiatan AICIS ini beriringan pelaksanaannya dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tanggal 15-16 Nopember 2022 di Bali. Harapan panitia, paling tidak “Gema” dan “aura” AICIS turut serta memeriahkan perhelatan akbar G20 tersebut serta dapat memberi kontribusi berkelas dan berharga bagi kemajuan Bangsa dan Negara.

Ajang Berkelas dan Bergengsi

Ada dua kata kunci yang dapat mewakili semaraknya pelaksanaan kegiatan AICIS ini yaitu berkelas dan bergengsi. Kata berkelas menunjukkan bahwa secara nyata peserta AICIS adalah peserta kelas dunia atau level internasional yang tidak terbatas oleh wilayah geografis yakni tidak hanya diikuti oleh para intelektual/cendikiawan dari berbagai daerah di nusantara, akan tetapi diikuti pula oleh para cendikiawan yang berasal dari manca negara. Mengapa bergengsi? karena tidak semua para intelektual atau para cendikiawan baik nusantara maupun mancanegara secara otomatis diterima sebagai peserta, namun mereka yang terpilih sebagai peserta adalah mereka yang telah mengirim artikel hasil penelitiannya, kemudian di review secara ketat dan dinyatakan accepted oleh reviewer AICIS yang ahli di bidangnya.

Baca Juga :  Tetapkan Tiga Tersangka, Polisi Buru Provokator Perusak Kampus UIN Mataram

Sungguh berbahagia dan patut berbangga bagi mereka yang terpilih dan turut serta di ajang berkelas dan bergengsi ini. Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai “reuni dan silaturrahmi akademis” yang spektakuler karena para intelektual dan cendikiwan bertemu, berkumpul, dan berdiskusi dalam sebuah komunitas akademik guna mencari sekaligus memberi solusi terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya, agama dan lain sebagainya.

Melanjutkan Misi Profetik

Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa AICIS merupakan sebuah upaya melanjutkan misi profetik (kenabian) yang telah dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW. Salah satu dari misi kenabian adalah penguatan literasi kepada masyarakat sekaligus instruksi mengajak umat manusia untuk selalu gemar membaca (iqra’) sebagaimana bunyi wahyu pertama yang turun kepada nabi Muhammad SAW yang terekam dalam Surah al-‘Alaq ayat 1-5.

Perintah membaca tersebut ditujukan kepada seluruh manusia supaya mereka dapat perperan maksimal sebagai khalifah Allah di muka bumi. Membaca di sini tidak hanya dapat dipahami dalam arti sederhana yakni membaca sederetan kalimat yang tesusun dalam suatu  paragraf, namun lebih dari itu, membaca dapat dilakukan dengan membaca, memahami obyek yang dibaca yakni semua gejala dan fenomena alam yang ada didukung oleh teori ilmu pengetahuan dan metode penelitian yang benar.

Perintah membaca adalah perintah yang paling berharga bagi umat manusia, kerena membaca merupakan jalan yang mengantar manusia dalam mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Sehingga, tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa “membaca” adalah syarat utama membangun fondasi peradaban. Makin banyak membaca maka makin tinggi peradaban demikian pula sebaliknya, makin lemah daya bacanya, maka makin terpuruk peradabannya. Oleh karena itu, dapat saja dikemudian hari manusia akan didefinisikan sebagai “makhluk membaca”, suatu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-definisi yang ada semisal “makhluk sosial,” “makhluk ekonomi,” “mahkluk berpikir,” dan makhluk-makhluk yang lainnya.

Baca Juga :  Pemkab Loteng Tutup SMPN 7 Praya, Ini Penyebabnya!

Melalui kegiatan membaca inilah, baik yang dibaca itu ayat-ayat Allah yang tertulis (baca: al-Qur’an) maupun yang tersirat di alam raya ini, manusia telah memperoleh pemahaman dan penemuan yang berkembang dari masa ke masa. Pemahaman dan penemuan itulah yang menjadi material dasar pembangunan awal fondasi peradaban. Dan yang paling penting, melalui membaca manusia mampu mengenal Tuhannya dan mengetahui jalan untuk sampai kepada-Nya.

Jadi, di sinilah terlihat korelasi kuat antara hajat perhelatan AICIS dengan filosofi iqra’ sebagai salah satu upaya melanjutkan misi profetik (kenabian) Nabi Muhammad saw. Iqra’ merupakan aktivitas inheren yang melekat pada diri para cendikiawan atau intelektual. Tanpa membaca mustahil mereka menjadi intelek. Banyak membaca berarti mengantar pembacanya menjadi orang yang terpelajar atau dalam istilah profetiknya membawa manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang (minazzhulumati ilannur). Memberi pencerahan kepada manusia yakni dari zaman belum mengenal literasi menuju manusia yang pandai menulis, membaca, meneliti, dan beretika yang baik (akhlaqul karimah). Oleh sebab itu patut kita sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada founding father AICIS. Menjalani AICIS berarti menjalani misi kenabian. Menjalani misi kenabian berarti menjalankan sunnah Nabi. Orang yang menjalankan sunnah Nabi, maka ia akan bersama Nabi di Surga. Wallahu al-haq wa a’lam bi al shawab. (*)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks