alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Jalan Politik dan Urgensi Edukasi Diri

Oleh: La Ode Umar, Akademisi IAI Muhammadiyah Bima dan Peneliti Sarau Istitute Bima-NTB

KONTESTASI politik pemilihan kepala daerahsemakin hari, semakin tinggi intesitasnya. Kondisi ini telah memantikpara elit dan loyalis paslon kepala daerah mulai dari yang tua, muda, preman hingga akademisi seolah belomba untuk membangun diksi politik menjagokan jagoanya.

Narasi yang dibangun pun tidak hanya bersiaf politis, namun syarat akan satire kebencian, persepsi semu, janji-janji politik hingga memaki pasangan lainnya seolah lumrah yang dapat diamati pada ruang-ruangpublik dan media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram dan lain sebagainya. Padahal, secara ethictindakan deskontruktif tersebut tidak dibenarkan dan cenderung bertentangandari sisi terminologipolitiksebagaimana pandangan klasik filosuf Aristotelesmengatakan bahwasannya

“politik adalah usaha warga negara dalam mewujudkan kebaikan bersama”. Dengan kata lain,suatu konsepsi politik yangdidasari sentimen politik tanpa sikapmoral (moral feeling) maka hepotesisnya akan menciptakancultural-politic balas dendam dan balas jasa semata.

Dalam konteks inilah, seharusnya etika berpolitik  mesti dipahami sebagai seni untuk melayani bukan untuk menghakimi satu dengan yang lainnya, namun kenapa hal itu seolah menjadi kebiasaan baru masyarakat dalam tradisi berpolitik dan apa faktor penyebabnya?.

Sederhana dalam menganalisinya; Pertama, bila berpolitik diposisikan sebagai jalan mengukuhkan kekuasaan, maka akanterbentukparadigmamachiavellistikdari para elit dan loyalis paslonkepala daerahyang cenderung menghalalkan segala macam cara demi tampuk kekuasaan politik. Gagasan inilah yang dinilai sabagai rujukan teoritis para elit dan loyalis dalam mencari dukungan suara rakyat.

Maka tidak heran dalam ruang-raung diskusi para loyalismaupun konten media sosial dipenuhi dengan hujatan bernada sinis,menghina lawan politik, mendeskreditkan paslon lain yang identik dengan istilah black campaigndemi mencapai hasrat politik dalam memenangkan paslon yang diusung. Pandangan politik non etis semacam ini, tidaklah relevan bagi orang beragama, berilmu dan beradab dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Kedua, bila berpolitik diposisikan sebagai jalan pengabdian kepada masyarakat maka rumusan prilaku politik para elit dan loyalis paslon kepala daerahmesti didarahkan dengan memunculkan gagasan konstruktif yang dapat memberi jaminan kesejahteraan, kebaikan dan kemasyalahatan bersama terlepas dari perbedaan pandangan politik dan paslon yang diusulkan.Indikator inilah seharusnya lebih dominan untuk dimunculkan secara objektif dan rasional dalam ruang dikusi maupun mobilisai politik dilingkup media sosial.

Sehingga bargaining position kekuasan politik pada prinsip aplikatifnya dapat menjadi jalan pengabdian yang memiliki manfaat bagi orang lain. Disinilahperlunya fungsi kritis darielemen masyarakatagardapat menilai paslon kepala daerah yang dianggap memiki bobot dari aspek visi maupun proyeksi masadepan dalam membagun tatanan daerah.

Oleh sebab itu gambaran nilai kedawasaan masyarakat dalam berpolitik, bukan sekedar fanatisme belaka, bukan sekedar kepentingan komunal maupun hanya menjadi “tim hore” terhadap paslon kepala daerah melainkan atas dasar pertimbangan etis dan rasionalitas sebagai kerangka perilaku dalam diri (personal attitude).Paradigma politik tersebut dapat mengantarkan adanya sikap kemerdekaan dalam berpolitik sesuai dengan jaminan konstitusi bagi setiap warga Negara demokratis.

Berdasarkan kedua analisisdi atas, dalam hemat penulis penting bagi para elit politik dan loyalis paslon kepala daerah harus mampu mengedukasi diri baik secara etika, moral dan mahfihim dalam setiap tindakan politik.

Sehingga prilakuberpolitik tidak hanya ditasbihkan sebagaijalan perebutan kekuasaan, menjadi pemenang dalam pertarungan politik, maupun pembagian kuasa semata, tetapi jalan politik hendaknya bermuara pada misi pengabadian, misi pencerahan, serta misi pembagunan dari suluruh sector produktif untuk kemajuan masyarakat dan daerah.

Kondisi ini sangat penting untuk disadari oleh para elit dan loyalis paslon kepala daerah, agar tidak terjebak dalam pusaran “syahwat politik” yangcenderungmerugikan orang lain. Pada akhirnya dapat memutuskan ikatan persaudaran diantara sesama manusia. Dengan demikin kultus ethic tertinggi dari dalam diri seorang manusia dalam berpolitik, paling tidak harus menekankandimensi prilaku politik berbasis gagasan serta sikap politik berlandaskan adab dan akhlak sebagai orang beragama  dalamkehidupan bermasyarakat. (*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sanksi Tak Pakai Masker, Bayar Denda atau Bersihkan Toilet Pasar

Peraturan daerah (Perda) tentang Penanggulangan Penyakit Menular berlaku efektif bulan ini. Denda bagi aparatur sipil negara (ASN) yang melanggar lebih berat dibandingkan warga biasa.

Pertama Sejak 1998, Ekonomi RI Kembali Minus, Resesi Sudah Dekat

Usai dua dekade berlalu, kini sejarah kelam pertumbuhan ekonomi minus kembali terulang. Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin (5/8) melaporkan pertumbuhan ekonomi RI kuartal II 2020 tercatat -5,32 persen.

Kisah Para Korban PHK yang Menolak Menyerah di Desa Sokong

Pandemi Covid-19 membuat banyak warga yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan di Desa Sokong. Tapi, mereka menolak menyerah. Hasilnya kini, mereka bukannya mencari pekerjaan. Malah mereka justru mencipta pekerjaan.

Begini Cara Booking Service Online Via Motorku X

”Caranya sangat mudah, semua hanya dalam genggaman saja,” ucap Marketing Sub Dept Head Kresna Murti Dewanto.

Minyak Jaran Peresak Sakra, Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Lawan Korona

PANDEMI Covid-19 membuat banyak inovasi yang dilakukan warga. Terutama untuk menjaga dan menguatkan sistem kekebalan tubuh. Seperti rajin berolahraga, mengkonsumsi madu alami, obat herbal, istirahat cukup, hingga berjemur dibawah matahari pagi.

2021, Pemkot Mataram Usulkan 400 Formasi CPNS

Pemkot Mataram mengusulkan 400 formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2021. Jumlah tersebut hasil kalkulasi dari kebutuhan pegawai daerah ini pada tahun 2020 dan 2021.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Ungkap Dugaan Pembunuhan LNS, Polres Mataram Periksa 13 Saksi

Penemuan jasad LNS, 23 tahun dalam posisi tergantung di dalam sebuah rumah di di perumahan BTN Royal, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram menyisakan tanda tanya. Penyidik Polresta Mataram  memeriksa sejumlah saksi secara maraton.
Enable Notifications.    Ok No thanks