alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Polemik Zonasi, Tantangan Pendidikan di Indonesia

Oleh: Wahyu Setyo Budi ASN BPS Kabupaten Sumbawa Barat

 

SAAT ini, pendidikan menjadi sebuah tuntutan kebutuhan bagi setiap orang. Setiap lini kehidupan tidak bisa lepas dari pendidikan, mulai dari melamar pekerjaan, mecalonkan diri sebagai ketua organisasi hingga mendapatkan jodoh. Semua biasanya menanyakan latar belakang pendidikan.

Hal ini dikarenakan kehidupan yang terus berubah sehingga diperlukan ilmu pengetahuan untuk bisa mengikutinya. Pendidikan merupakan kebutuhan dasar hidup manusia, namun bagaimana ketika dalam menempuh pendidikan ada hambatan?

Sebelumnya, di Indonesia telah diterapkan wajib belajar 9 tahun, yang artinya setiap orang diwajibkan untuk menempuh pendidikan hingga jenjang SMP sederajat. Bahkan beberapa tahun terakhir, Indonesia mencoba menerapkan wajib belajar 12 tahun, walaupun belum terlaksana secara maksimal.

Banyak program yang diupayakan pemerintah untuk mendukung agar penduduknya menempuh pendidikan yang tinggi. Sebagai contoh dana BOS, menggratiskan sekolah untuk SD hingga SMP, bantuan untuk siswa tidak mampu, beasiswa prestasi, dan beasiswa bidik misi di perguruan tinggi. Tujuan program- program tersebut adalah untuk mendukung agar penduduk yang mengalami kesulitan finansial, mampu menempuh pendidikan yang tinggi.

Akhir-akhir ini, ada fenomena terkait pendidikan yang cukup memprihatinkan yaitu ada anak yang terpaksa putus sekolah karena tidak ada sekolah yang menerimanya. Hal ini bukan karena pribadi si anak, namun karena jarak yang menjadi hambatannya, resiko sistem zonasi.

Tidak salah ketika pemerintah mengharapkan adanya pemerataan pendidikan, sehingga tidak ada istilah sekolah favorit dan sekolah pinggiran, namun perlu diperhitungkan jarak dan jumlah calon siswa di wilayah tersebut. Ada wilayah yang sarat dengan siswa, minim sekolah negeri, ada wilayah yang sarat sekolah negeri, minim calon siswa, sehingga ada sekolah yang kekurangan siswa, dan ada siswa yang tidak mendapatkan sekolah.

Sebagai contoh kasus ada siswa yang terpaksa putus sekolah karena tidak ada sekolah negeri yang bisa menerima dia, hanya karena kuota sudah penuh atau jarak yang tidak masuk dalam zonasi. Dia tidak mendaftar sekolah swasta dikarenakan biaya yang cukup besar, sedangkan dia berasal dari keluarga yang tidak mampu. Hal Ini menjadi PR bagi pemerintah ketika pemerintah ingin meningkatkan pendidikan warg nya. Pemerintah perlu mengkaji dan terus memperbaiki sistem zonasi setiap awal pendaftaran.

 

Kondisi Pendidikan Di Indonesia

 

Menurut data dari Kemendikbud, pada tahun ajaran 2019/2020 ada sekitar 21,6 juta siswa SD Negeri dan 3,5 juta siswa SD Swasta dimana terdapat 3,6 juta siswa SD Negeri dan 542,7 ribu siswa SD Swasta yang berapa di kelas 6. Ini artinya ada lebih dari 4 juta siswa yang akan mendaftar di SMP baik itu negeri maupun swasta yang harus difikirkan pemerintah agar tidak ada yang putus sekolah dengan alasan sistem zonasi.

Begitu juga untuk jenjang pendidikan SMP. Tedapat 7,38 juta siswa SMP Negeri dan 2,73 juta siswa SMP Swasta, dimana 2,4 juta siswa SMP Negeri dan 875,37 ribu Siswa SMP Swasta berada di kelas 3. Artinya ada lebih dari 3 juta siswa yang akan mendaftar di SMA.

Dalam menentukan cakupan wilayah zonasi, perlu ada pertimbangkan ketersediaan infrastruktur pendidikan di setiap wilayah. Selain ketersediaan infrastruktur, juga tingkat pemerataannya perlu di perhatikan.

Di Indonesia, masih terdapat daerah daerah yang tidak memiliki insfrastruktur pendidikan, terutama didaerah daerah pelosok. Hal ini yang menjadi salah satu penyumbang kurang tingginya pendidikan di Indonesia. Menurut data kemendikbud ada 131.879 SD Negeri dan 17.556 SD Swasta di Indonesia, sedangkan untuk SMP terdapat 23.594 SMP Negeri dan 16.965 SMP Swasta.

Rata rata setiap SD Negeri terdapat 164 siswa, dan untuk SD swasta rata rata terdapat 204 sisa. Adapun untuk SMP Negeri terdapat 313 siswa dan untuk SMP Swasta terdapat 161 siswa.

Kita semua tahu bahwa untuk mencari pekerjaan, dibutuhkan pendidikan. Apalagi adanya global marketing dimana nantinya pekerja dari luar negeri ikut bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di Indonesia, sehingga penting untuk meningkatkan kualitas, salah satunya dengan meningkatkan pendidikan.

Potensi pemuda umur produktif di Indonesia sangat besar. Hal ini jika di imbangi dengan pendidikan yang tinggi dan lowongan pekerjaan yang cukup, mampu untuk mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. (*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Masuk Destinasi Wisata Terpopuler Asia 2020, Lombok Siap Mendunia

”Kalau masuk di ranking dunia artinya kita adalah destinasi yang memang layak untuk dikunjungi,” kata Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTB Awanadi Aswinabawa, Rabu (5/8/2020).

Buntut Penutupan Savana Propok, TNGR Perketat Pemeriksaan Pengunjung

”Dengan penutupan ini semua akan lihat, kalau berbuat begitu pasti akan ditutup,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Dedy Asriady, Rabu (5/8/2020).

Kasus Sewa Lahan Desa Sesela, Penyidik Perdalam Keterangan Saksi

Berkas penyidikan kasus dugaan korupsi penyewaan lahan untuk pembangunan tower tahun 2018 masih dilengkapi. Sejumlah saksi diperiksa maraton untuk melengkapi berkas penyidikan. ”Yang sudah kita periksa baru Ketua RT dan ada juga dari BPD (Badan Permusyawaratan Desa),” kata Kajari Mataram Yusuf, Rabu (5/8).

Efek Pandemi, Omzet Penjual Perlengkapan Sekolah di Mataram Merosot

”Tak hanya buku paket dan buku tulis saja. Hampir seluruh jenis peralatan sekolah alami penurunan penjualan. Bahkan menjalar ke barang-barang peralatan kantor,” katanya.  

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Ungkap Dugaan Pembunuhan LNS, Polres Mataram Periksa 13 Saksi

Penemuan jasad LNS, 23 tahun dalam posisi tergantung di dalam sebuah rumah di di perumahan BTN Royal, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram menyisakan tanda tanya. Penyidik Polresta Mataram  memeriksa sejumlah saksi secara maraton.
Enable Notifications.    Ok No thanks