Sabtu, 4 Februari 2023
Sabtu, 4 Februari 2023

AICIS 2022 & SPIRIT TOLERANSI

Dr. Kadri, M.Si
(Dosen UIN Mataram)

Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-21 yang bakal berlangsung tanggal 18-20 Oktober 2022 di Lombok dan tanggal 1-4 November 2022 di Bali dinilai istimewa karena pelaksanaannya diagendakan sebagai bagian dari kegiatan pra pelaksanaan (road to) G20 di Bali. Forum ilmiah para peneliti studi Islam tersebut juga istimewa karena memilih pulau Bali dan Lombok sebagai tuan rumah bersama. Bali tidak hanya dikenal sebagai pulau yang didiami oleh mayoritas anak bangsa yang beragama Hindu, tetapi juga bersama pulau Lombok berstatus sebagai pulau distinasi wisata internasional. Artinya, AICIS tahun ini menjadi momentum menghadirkan mayoritas peneliti Muslim untuk mendiskusikan tema-tema keislaman di wilayah yang berpenduduk mayoritas Hindu dengan industri pariwisata internasional-nya yang mulai menggeliat lagi pasca pandemi COVID-19. Oleh karena itu, tidak salah bila dikatakan bahwa penyelenggaraan AICIS yang ke-21 ini memiliki makna simbolik yang bermuatan spirit toleransi, yang inklud di dalamnya mengandung pesan bahwa “Islam ramah pariwisata”.

Sebagaimana diketahui bahwa Kementerian Agama adalah pencetus tagline dan program moderasi beragama yang di dalamnya ada aspek toleransi. Memilih Pulau Bali sebagai tuan rumah AICIS 2022 otomatis akan terjadi mobilisasi pemikir-pemikir Muslim untuk hadir di tengah komunitas Hindu dan mereka akan merasakan secara langsung nuansa kehidupan komunitas Hindu yang jarang (atau tidak pernah) mereka rasakan atau temui sebelumnya. Kesediaan untuk hadir dan enjoy selama di pulau Dewata adalah praktek toleransi yang akan dicontohkan oleh para ilmuwan Muslim. Lebih dari itu, para ilmuwan Muslim yang menjadi partisipan AICIS juga dapat menginternalisasi spirit toleransi selama berada di Bali untuk dijadikan sebagai inspirasi dalam melakukan riset-riset toleransi dalam konteks yang berbeda di daerah atau wilayahnya masing-masing.

Identitas para peserta AICIS yang mayoritas berprofesi sebagai pendidik memiliki posisi strategis dalam menyebar semangat toleransi kepada para mahasiswa yang mereka didik. Mendiseminasikan sikap dan perilaku toleransi kepada generasi muda seperti mahasiswa dinilai penting di tengah upaya kelompok tertentu (seperti kelompok Islam radikal) mempraktekkan perilaku intoleran, dan melakukan rekrutmen serta pengkaderan pada generasi muda untuk dicuci otaknya dengan kajian-kajian yang mengarah ke sikap dan pemahaman keagamaan yang radikal dan bermuara pada aksi intoleran dan kekerasan atas nama agama. Hasil riset PPIM UIN Jakarta (2020) yang menunjukkan 30,16 persen mahasiswa Indonesia memiliki sikap toleransi beragama yang rendah atau intoleran, harusnya menyadarkan para dosen untuk menyusun strategi penguatan sikap dan perilaku toleran pada setiap mahasiswa yang mereka ajar.

Baca Juga :  Urgensi Menghadapi Kekeringan di NTB

Upaya penyebaran pahan dan pemikiran radikal dan intoleran seperti yang dilakukan oleh kelompok radikal saat ini sudah menggunakan cara-cara yang lebih soft seperti lewat media sosial sebagai media informasi yang acap kali digandrungi oleh anak muda dan generasi melinial. Hasil riset Huda dan Djalal (2020) memperkuat asumsi ini. Kedua peneliti ini menemukan adanya pergeseran sumber referensi keagamaan masyarakat modern dari kitab dan buku ke literasi digital dengan memanfaatkan media sosial yang tersedia. Media sosial tidak lagi sekedar wahana hiburan dan saluran tempat menyampaikan dialog-dialog ringan dan iseng. Riset Kadri dkk (2022) menemukan bahwa media sosial sudah dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk mengkampanyekan pemahaman keislamannya, seperti memproduksi dan men-share meme di media sosial. Realitas bermedia sosial dan data intoleransi mahasiswa dan generasi melinial seperti di atas menjadi alarm yang mengingatkan para dosen dan ilmuwan Muslim untuk menyiapkan strategi penguatan nilai-nilai toleransi yang selaras dengan semangat toleransi beragama untuk menjamin kehidupan sosial yang lebih harmonis di Indonesia yang plural.

Toleransi merupakan aspek penting yang berkontribusi terhadap kesusksesan dan keberlangsungan industri pariwisata. Kehadiran ilmuwan Muslim di jantung distinasi wisata internasional seperti pulau Bali dan Lombok untuk mendiskusikan tentang isu-isu keislaman kontemporer mengandung makna simbolik bagi promosi Islam toleran dan ramah pariwisata. Oleh karena itu, spirit toleransi yang ada dalam pelaksanaan AICIS ke-21 dinilai tepat dalam mensupport tumbuhnya industri pariwisata di pulau yang menjadi tempat penyelenggaraan AICIS 2022 khususnya dan seluruh wilayah Indonesia pada umumnya.

Baca Juga :  Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

Sebagai bisnis yang mensyaratkan adanya kenyamanan dan ketenangan, idustri pariwisata sangat berkepentingan dengan sikap dan perilaku toleran dari masyarakat yang ada di distinasi wisata. Sikap dan perilaku toleran sangat penting untuk mendukung keberlanjutan aktivitas dan bisnis pariwisata karena pariwisata merupakan sektor pembangunan yang paling resisten dengan sikap dan perilaku intoleran dan aksi kekerasan seperti yang pernah dilakukan oleh kelompok teroris dalam peristiwa bom Bali tahun 2002 dan 2005. Hal ini dibuktikan oleh hasil riset Utama dan Hapsari (2012) yang menunjukkan bahwa reaksi pasar modal terhadap serangan bom teroris di Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2006 lebih negatif untuk industri pariwisata dibandingkan industri lainnya. Di level internasional pun ditemukan tren yang sama, dimana serangan teroris berkonsekuensi negatif bagi pertumbuhan investasi, pasar modal global dan sektor perbankan (Drakos, 2010). Dalam konteks inilah pentingnya gawe akademik para cendekiawan Muslim seperti AICIS di Lombok dan Bali untuk mengkampanyekan Islam toleran dan ramah pariwisata.

Di samping mengandung makna simbolik atas kehadirannya di Lombok dan Bali (sebagai pulau pariwisata internasional), ilmuwan Muslim juga dapat menjadikan momentum AICIS 2022 sebagai inspirasi untuk meneliti kearifan-kearifan lokal yang mengandung nilai toleransi pada setiap etnik di Indonesia. Hasil riset seperti ini (apalagi dipublikasikan oleh jurnal internasional bereputasi) penting untuk menjelaskan pada masyarakat dunia (terutama calon wisatawan) bahwa Indonesia adalah negara yang aman dengan penduduknya yang ramah dan toleran. Sikap dan perilaku toleran masyarakat Indonesia tidak hanya karena petunjuk/ajaran semua agama yang diakui di Indonesia, tetapi juga keteladanan yang bersumber dari kearifan lokal setiap daerah di Indonesia. Semoga…

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks