alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

New Normal dalam Ketidaknormalan

Oleh: Abdul Mufakhir, S.Psi, M.Ak ASN BPS Kabupaten Bima

MENGGUNAKAN masker saat berpergian, menjaga jarak saat beraktivitas adalah sesuatu yang sebelumnya kita tidak bayangkan akan menjadi suatu kebiasaan yang harus dilakukan saat ini.

Bagi kita masyarakat umumnya berkumpul dan bercengrama dengan sahabat dalam suasana kesehajaan kebersamaan merupakan kebiasan yang sudah lazim dilakukan. Acara-acara hajatan yang berkerumun warga yang banyak menjadi pola hidup sosial masyarakat.

Tapi tidak pernah terbayangkan sebelumnya bila kebiasaan tersebut harus kita tinggalkan dan tergantikan dengan kebiasaan baru, dimana menjaga jarak saat beraktivitas, cuci tangan, menghindari kerumunan, memakai pelindung masker tiap hari, merupakan menu keseharian yang harus dijalani sebagai sebuah pola dalam tatanan kehidupan baru kita. Meskipun pola baru tersebut terlihat tidak normal, namun itulah tuntutan menuju transisi ke tatanan kehidupan new normal.

Sejak kemunculannya per 24 Maret 2020 di Provinsi Nusa Tenggara Barat, penyakit corona virus desease-2019 (covid -19) telah menyebar begitu cepat, data terakhir tercatat sudah 798 terinveksi positif corona, dimana 335 dinyatakan sembuh dan 22 meninggal.

Angka ini akan terus bertambah seiring belum jelas kapan virus ini akan berakhir dan ketidakjelasan vaksin obat penyembuh virus tersebut. Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan menyebutkan bahwa virus corona hanya akan menjadi endemic virus pada komunitas lingkungan kita, dan kemungkinan virus corana tidak akan pernah hilang.

Sehingga banyak Negara menerapkan langkah menuju transisi ke kehidupan “the new Normal’ untuk bisa beradaptasi dengan kondisi ditengah pendemi virus corona yang belum jelas kapan akan berakhir, sementara vaksin belum ditemukan. Selain itu, prilaku manusia juga terus menyesuaikan dengan keadaan jaman, termasuk dalam berbagai aspek kehidupan social budaya, keagamaan, ekonomi dan politik.

New normal merupakan istilah untuk tatanan kehidupan baru guna menyesuikan prilaku hidup sehat ditengah pendemi virus corona. Guna menuju transisi ke arah tatanan kehidupan baru tersebut ada beberapa protocol kesehatan yang harus dipenuhi menurut WHO agar bisa menerapkan new normal, pertama adalah suatu wilayah/ daerah angka penyebaran virus atau reproduksi dasar penyakit (R0) kurang dari satu atau memiliki tingkat penularan yang rendah.

Kedua adalah kesiapan sistem kesehatan apabila suatu waktu terjadi lonjakan kasus baik dari fasilitas kesehatan maupun kesiapan tim dalam melakukan pendeteksian dini, pelacakan kasus dan kontak.Ketiga adalah kondisi social masyarakat terutama Tingkat kedisiplinan masyarakat dan keempat jumlah tes yang memadai sehingga tidak ada lagi tumpukan antrean sample di laboratorium dan stok reagen aman untuk 1-2 bulan kedepan.

Memperhatikan protokol kesehatan tersebut tentu masih banyak persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa menuju transisi ke new normal. Beberapa wilayah di Provinsi NTB khususnya pulau Lombok saat ini transmisi lokal masih terus terjadi sehingga penyebarannya begitu massif dan masih belum bisa dikendalikan.

Wilayah Pulau Sumbawa seperti Kabupaten Sumbawa, Sumbawa barat, kabupaten dompu, Kabupaten bima dan kota bima fasilitas kesehatan masih belum memadai untuk mengantisipasi bila terjadi lonjakan pasien covid 19.

Selain itu, jumlah pengetesan masal untuk covid 19 di NTB masih sangat minim dengan kapasitas 5 laboraterium untuk pemeriksaan masih belum memadai untuk wilayah NTB yang luas dan jumlah penduduk yang terinveksi terus bertambah banyak.

Faktor lain yang menghambat proses transisi ke new normal adalah perbedaan pandangan di tengah masyarakat tentang virus corona, perbedaan ini menjadikan polimik tersendiri yang mempengaruhi efektifitas pemutusan mata rantai covid 19.

Banyak diantara masyarakat masih percaya bahwa virus tersebut adalah rekayasa dengan berbagai rasionalitas yang disampaikan. Para penganut teori konspirasi ini kebanyakan hadir dari kalangan pendidikan non medis dan memiliki pendidikan relatif minim.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistic Provinsi NTB porsentase masyarakat usia 15 tahun keatas yang berpendidikan tinggi di NTB berkisar 8,91 % dan 24,21% merupakan tamatan SMA/ sederajat sisanya berada dijenjang pendidikannya dibawahnya.

Keberagaman tingkat pendidikan, kesejahteraan masyarakat, budaya dan agama akan memberikan sumbangsih terhadap penerimaan terhadap suatu informasi. Pemahaman-pemahaman yang keliru ditegah masyarakat akan sangat mudah menyebar dikalangan masyarakat, apalagi di era digital seperti sekarang. Pemahaman yang keliru akan covid 19 akan mempengaruhi ketatatan seseorang dalam melaksanakan protocol kesehatan.

Pola piker menjadi kunci bagi perubahan suatu perilaku, karena prilaku ditentukan oleh alam berpikir seseorang. Sudah selayaknya pemerintah serius dan terus melakukan sosialisasi guna memberikan pemahaman yang utuh terkait keberadaan covid 19 ini, sehingga terbentuk keseragaman pemahaman dalam berjuang untuk keluar dari pendemi ini.

New normal adalah sebuah keniscayaan yang harus dijalani kedepan dan proses transisi harus tetap berjalan meski kondisi seperti ini merupakan ketidaknormalan dalam transisi ke new normal, namun kita harus terus melangkah menuju arah kehidupan baru yang lebih ketat dengan protokol kesehatan. Masyarakat arus sadar bahwa virus corona ada ditengah-tengah kita dan akan terus ada sampai waktu yang belum pasti, maka kehidupan kedepan tidak akan sama dengan setelah new normal diberlakukan.

Era baru telah tiba di depan kita dengan sebuah pilihan apakah kita akan siap untuk sebauah perubahan atau kita akan musnah karena kita tidak mempu beradaptasi dengan tata kehidupan baru seperti dalam teori evolusi dalam buku “on the origin of species” dimana yang mampu beradaptasi dengan alam itulah yang mampu melanjutkan kehidupan. (*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Mataram Bisa Tiru Depok, Tak Pakai Masker Denda Rp 200 Ribu

Pemkot Mataram merespons kritikan Wakil Gubernur NTB. Kemarin, tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, dan Polri melakukan penertiban di pagi buta. Sasarannya, para pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan.

Kuliah ke Luar Daerah, Warga Mataram Harus Bebas Korona

Warga Kota Mataram yang kuliah di luar daerah cukup banyak. Kemarin kata dia, sekitar 50 mahasiswa mengajukan permintaan melakukan rapid test. Dari jumlah tersebut tidak ada yang hasilnya reaktif.

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Di Kediri Lobar, Ibu Rumah Tangga Diduga Jual Narkoba

WM, 28 tahun, warga asal Kediri Selatan ditangkap Satres Narkoba Polres Lobar. Ia bersama kedua rekannya MA dan MU diduga menjadi penjual dan penyalahguna narkotika jenis sabu. Bahkan, WM alias Dewi ini diketahui sebagai penjual obat penenang tanpa izin pihak instansi kesehatan.

Pariwisata Lesu, Pengusaha Travel Lombok Bertahan lewat Promo

Agen travel perjalanan wisata terus berupaya bertahan dalam ketidakpastian Pandemi Korona. Sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak akibat turunnya kunjungan wisatawan. ”Kami upayakan tetap bangkit seiring dengan penerapan new normal yang sedang digaungkan,” kata Kukuh Laro, pemilik Duta Lombok Transport.

Berdayakan UMKM Lokal, Bappeda NTB Tunggu Pergub

Pergub Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga kini belum rampung. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB masih menunggu kelanjutan masukan dan revisi dari gubernur. ”Sampai hari ini (kemarin,Red) kita belum terima. Jika sudah ada, akan langsung kita jadikan landasan dalam memberdayakan UKM/IKM,” kata Kepala Bappeda NTB Amry Rakhman, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks