alexametrics
Jumat, 25 September 2020
Jumat, 25 September 2020

MERDEKA BELAJAR: ANTARA DIKSI, NARASI, DAN IMPLEMENTASI

Oleh: Maulana IkbalMaulana Ikbal, Guru SMA Negeri 4 Kota Bima-NTB

Pertama kali istilah “Merdeka Belajar” disebut dan digaungkan oleh Mendikbud Nadiem Makariem paska pelantikan, spontan imajinasi “liar” menggelayut. Terbayang kata merdeka lewat pekikan Bung Tomo. Gesture berupa tangan terkepal menonjok langit, wajah berurat, badan tegap dan suara lantang. Lalu setelah merdeka terbayang pula bahak tawa, bahkan mungkin pesta pora sekaligus Syukuran. Begitupun dengar kata Belajar. Imajinasi mengarah pada pakaian  seragam, menenteng buku, dengar ceramah guru, duduk dalam kelas, mengerjakan tugas, bayar sekolah, ulangan, ujian dan dapat ijazah.

Jika Penyair yang menyebut kalimat itu wajar saja untuk dimaknai lain. Tapi yang ucapkan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI maka harus segera bergegas pasang otak dan mimic serius. Karena tentunya ada narasi besar yang hendak ditawarkan untuk dunia pendidikan Indonesia.

Merdeka belajar. Semula seolah sebuah deret kata, yang lebih mirip sebuah jargon. Tapi kemudian jadi menarik ketika itu menjadi misi besar menteri pendidikan dan Kebudayan RI, Nadiem Makarim. Dalam hal ini sebagai misi penterjemahan point 5 dan 8 Nawacita Presiden RI. 

Diksi Merdeka Belajar 

William Shakespeare boleh menyangkal arti sebuah nama. namun sekarang berbeda. Apalagi menyangkut sebutan, atau kalimat dari sebuah program pemerintah yang selalu terukur kadar keberhasilannya. Dalam hal ini Mas Menteri memilih diksi Merdeka belajar. Merdeka pastinya adalah kata Multiinterpretate. Merdeka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai 1) bebas dari penghambaan, penjajahan , berdiri sendiri. 2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan, dan 3. Tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. 

Bagi bangsa Indonesia, diksi merdeka sangat sacral, karena terkait dengan perjuangan, kelahiran dan keberadaan kita sebagai bangsa. Pemaknaan kata merdeka pun sangat kontekstual. Tergantung situasi dan kondisi. Padanan katanya adalah “kebebasan”. Oleh karenanya, segala sesuatu yang beraroma kebebasan itulah kemerdekaan. Bahkan Merdeka selalu berhadiah Euphoria,  rasa bahagia lepas dari belenggu. 

Sedangkan “belajar” masih menurut KBBI adalah usaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah lakuu atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Selanjutkan  definisi belajar dipertegas oleh Notoatmodjo sebagai usaha untuk menguasai segala sesuatu untuk kebutuhan hidup.

Menilik dari pemilihan istilah-istilah tersebut diatas, tersirat sebuah pertanyaan mendasar, jika sekarang Merdeka belajar, lalu apakah sebelumnya ada perbudakan belajar?. Namun demikian satu hal yang jadi poinnya, bahwa Merdeka belajar merupakan imajinasi besarnya ruang kebebasan yang ditawarkan dalam mengembangkan konsep dunia pendidikan di Negara ini. Meski belum terukur seberap besar ruang yang disediakan. Apakah mengganti format baru atau hanya tambal sulam menyempurnakan sebelumnya?

Pastinya, Merdeka belajar merupakan upaya logis, bahwa pemerintah telah menyadari adanya kelemahan system pendidikan sebelumnya. Salah satunya adalah terlampau rumitnya system pendidikan sehingga mengurangi akselerasi pengembangan pendidikan itu sendiri. Dunia pendidikan seolah terpenjara oleh system yang dibangunya sendiri. Sehingga layak untuk dimerdekakan kembali.

Meskipun Merdeka Belajar tidak semewah namanya. Namun sepatutnya “berbaik sangka” dengan konsep besar ini. Bahwa diksi merdeka digunakan sebagai symbol gebrakan juga antitesa dari konsep yang dikembangkan oleh pemerintahan sebelumnya.

“Bahagia Belajar” sebagai esensi Narasi  besar merdeka belajar

Terkait narasi besar Merdeka Belajar Mendikbud menggebrak dengan beberapa langkah teknis skala makro, antara lain penggantian Ujian Nasional menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter, Pengalihan Kewenangan (USBN) ke sekolah, RPP satu Lembar. Dan Kuota Jalur Prestasi pada PPDB (penerimaan Peserta didik baru) dari 15 % menjadi 30 %. kita patut mengapresiasi kebijakan tersebut. meskipun kita belum melihat efisiensi hasilnya. Dan tidak etis pula kita berespektasi lebih. Apalgi kita dalam masa pandemic Covid-19 ini, hampir semua aktifitas lumpuh terutama di dunia pendidikan.

Di balik narasi besar merdeka belajar, tentunya ada satu narasi yang patut dicermati yaitu “Bahagia Belajar”. Kata kunci ini pernah disampaikan pada Diskusi “polemik Merdeka Belajar” oleh Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemdikbud, Ade Erlangga: “Merdeka belajar itu bahwa pendidikan harus menciptakan suasana yang membahagiakan buat guru, siswa orang tua siswa bahkan untuk semua”. Konotasinya adalah bahwa selama ini dunia pendidikan belum mampu menyentuh kebutuhan hakiki manusia, yaitu Ke-Bahagia-an itu sendiri. Baik pada proses maupun hasilnya. Artinya ada kesan bahwa pendidikkan selama ini mengalami Disorientasi

Ketertinggalan kita dalam kompetisi global hanya dimaknai pada tataran material dan Kecerdasan Artifisial semata. Sehingga orientasi pembelajaran lebih bertumpu pada bagaimana menciptakan generasi robot. Generasi Yang hidupnya disiapkan untuk dieksploitasi. Kita sering lupa bahwa pendidikan adalah wahana memanusiakan manusia. Artinya yang dididik untuk menyadari hakikat kemanusiaanya secara utuh. Maka tidak heran pada proses pendidikan macam ini akan selalu beririentasi pada hasil tidak pada proses.

Belajar Untuk Bahagia

Pertanyaannya adalah kemana sesungguhnya sasaran proses pendidikan kita arahkan? Haidar Bagir dalam bukunya Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia menjawabnya dengan empat tujuan: 

1. Mengembangkan manusia-manusia yang mampu hidup bahagia.

Bahagia dalam konteks ini tidak saja dalam bentuk proses belajar tapi juga harus menjadi output dari pendidikan itu sendiri. Faktor-faktor yang dapat melahirkan kebahagiaan menurut tokoh Psikologi Positif Martin Eligman, adalah: a) kebijaksanaan dan Pengetahuan (virtue of wisdom and knowledge). Bahwa kebahagiaan bisa dicapai melalui rasa syukur yang timbul dari hikmah dari pembelajaran terhadap kehidupan itu sendiri. b) Courage; yaitu keberanian, ketekunan, integritas, dan vitalitas. c) Humanity; Cinta, kebaikan, kecerdasan Sosial. d) Justice; kewarganegaraan, keaadilan dan kepemimpinan. e) Temperance; rasa Maaf dan kemurahan hati, kerendahan hati, Kebijaksanaan, Kontrol diri.  Dan f) Transcendence; apresiasi terhadap keindahan dan keluhuran, rasa syukur, harapan, humor dan spirtualitas. Pada akhirnya kebahagian dapat dikontekstualisasikan melalui cara saling memahami karakter kemanusiaan tiap individu, sehingga serapan ilmu pengetahuan yang berdasarkan kebijkasanaan sikap dapat terwujud.

2. Memiliki kreatifitas dan daya imajinatif yang mampu melejitkan daya kemanusiaanya yang paling dahsyat.

David Campbell mengartikan kreatifitas sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang baru. Artinya kreatifitas merupakan pondasi agar manusia mampu menyelesaikan masalah dan menjelajahi sesuatu yang baru. Untuk mencapai hal ini, perlu terobosan atau penekanan pada system pendidikan kita dimana ruang-ruang imajinasi peserta didik harus dioptimalkan. 

3. Memiliki berbagai kecerdasan yang diperlukannya untuk hidup sebaik mungkin

Mengacu pada teori Multiple Intelegenci Laurel Schmid, ia membagi kecerdasan menjadi 7 bagian yaitu: kecerdasan Visual/Spasial (kecerdasan Gambar), Kecerdasan Verbal/Linguistik (kecerdasan Berbicara), Kecerdasan Musikal (kepekaan terhadap bunyi-bunyian), Kecerdasan Logis/Matematis (kecerdasan Angka), Kecerdasan Interpersonal (Kecerdasan Diri) dan kecerdasan Intrapersonal  (Kecerdasan Bergaul), di tambah dengan EQ (emotional Quitient) yaitu kecerdasan Emosional. 

Berbagai jenis kecerdasan tersebut tentu akan ditemukan pada siswa, meski tidak semua dapat ditunjukkan pada pelajaran akademik. Akan tetapi potensi kecerdasan perlu dijadikan acuan dalam memotifasi anak dalam upaya memberikan kepercayaan diri peserta didik. Stigma “kurang cerdas” pada sebagian anak yang selama ini dilakukan justru sangat berdampak pada psikologi peserta didik. sesungguhnya banyak anak punya potensi namun tidak terdeteksi secara maksimal. Faktornya sepele. hanya karena peserta didik tidak mampu menujukkan antusiasme belajar pada pelajaran tertentu. padahal anak tersebut punya bakat di bidang lain (biasanya pada bidang non akademik). 

4. Memiliki karakter dan moralitas yang luhur.

Daniel Goleman (dalam Bagir) menjelaskan karakter adalah berupa : a) Self Control; yaitu kemampuan mengelola emosi dan impuls yang menganggu, b)Thrustwhortines; kejujuran dan Integritas, c) Conscientiousness: keteguhan dan tanggung jawab dalam pemenuhan kewajiban, d) Adabtability; fleksibilitas dalam menangani perubahan dan tantangan. 5) Innovation; keterbukaan terhadap ide-ide, pendekatan dan informasi baru. Karakter dasar tersebut sesungguhnya akan lebih sempurna apabila dipoles dengan nilai moral yang berbasis agama dan nilai-nilai adat yang kita anuti.

Hakikatnya adalah bahwa proses belajar niscaya dibutuhkan suasana hati yang bahagia. Bahagia didapat hanya dari keseimbangan emosi. Bisa dibayangkan jika siswa belajar saat suasaana hati senang, antusias, dan semangat, kemudian guru tersenyum dan sabar, suasana sekolah kondusif dll. Dapat dipastikan proses pembelajaran akan berjalan lancar. Oleh karenanya Seluruh perangkat pendidikan baik peserta didik, guru, orang tua siswa, bahkan semua orang harus bersinergi dalam upaya menciptakan suasana kondusif tersebut agar pendidikan tercapai tujuannya. 

Langkah kongkrit

Dari deret pembahasan diatas, sesungguhnya terangkum kalimat kunci yaitu “merdeka belajar hanya bisa dicapai dalam susasana hati yang bahagia” atau di balik “ hati yang bahagialah yang bisa merasakan merdekanya belajar”. Hati yang bahagialah yang akan mengontrol setiap inpuls pengetahuan yang hendak direspon oleh otak.

Maka dengan itu, penulis menawarkan langkah kongkrit sederhana yaitu melalui pendekatan empiric; yang tentunya berbasis pada teknik pembelajaran di tingkat satuan pendidikan yaitu sekolah:

1. Perbesar Kewenangan Sekolah.

Sekolah adalah institusi yang paling memahami potensi siswanya. Maka sewajarnya sekolah diberikan kewenangan lebih, termasuk untuk membuat mata pelajaran khusus sesuai kebutuhan daerah atau lingkungan sekitar. Bahwa materi Muatan Lokal dan seni budaya tidak akan mampu mewakili unsure lokal yang kompleks. Penyusunan materi belajar berbasis sekolah akan member peluang sekolah berimprovisasi dalam mengolah ide-ide dari sumber daya yang ada.

 Selama ini situasinya terbalik. Materi pelajaran disuplai dari pusat melalui buku-buku paket. Dengan mata pelajaran yang sudah dibakukan dalam kurikulum. Sekolah/guru hanya di beri kewenangan untuk menyesuaikan. Namun kenyataan di lapangan belum banyak guru yang mau dan mampu melakukan itu.

Di samping itu sekolah dapat menjadi sebuah replikasi kehidupan sosial masyarakat. aktivitas-aktivitas positif diluar lingkungan sekolah dapat diadopsi, sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan yang dianut. Aktivitas bisnis, berkesenian, dan sebagainya yang linier dengan jurusan yang ampu, dapat dilakukan di sekolah. Sebagai implementasi dari teori yang dipelajari.

2. Pembelajaran berbasis Lapangan

Pembelajaran berbasis lapangan sebelumnya bergantung pada kreatifitas dan insiatif guru pengampu mata pelajaran. Artinya tidak ada yang mewajibkan. Namun sesungguhnya begitu efektif dalam rangka mendekatkan siswa dengan alam lingkungannya. Secara kejiwaan, pembelajaran di lapangan akan memberikan sensasi tersendiri pada peserta didik. Selain sebagai sarana interaksi ilmiah dengan alam lingkungan juga menjadi sarana relaksasi dari kejenuhan belajar dalam kelas. Meskipun tidak semua pelajaran bisa menerapkan namun harus ada upaya kongkrit kurikulum untuk menjadikan hal ini sebagai bagian dari teknik pembelajaran yang menyenangkan. Untuk lebih efisiennya, perlu ditegaskan lagi melalui kebijakan-kebijakan teknis, termasuk pengalokasian anggaran pada Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Yaitu dalam hal akomodasi dan kebutuhan lainnya.

3. Legalisasi kegiatan ekstra kurikuler 

Kegiatan ekstrakuriuler adalah salah satu sarana paling efektif utuk menemukan bakat dan minat siswa. Kegiatan tersebut sangat membantu siswa yang tidak menonjol pada pelajaran akademik namun berbakat pada bidang non akademik. Selain itu secara psikologis, kegiatan ekstra merupakan sarana relaksasi peserta didik, karenaa kegiatannya terkait hobi. Oleh karenanya, kegiatan ekstrakurikuler perlu dipertegas melalui regulasi yang jelas, tidak sebatas pilihan “Like or dislike”. Karena dengan itu peserta didik lebih leluasa mengembangkan bakat dan minat baik bidang akademik maupun skil non akademik sesuai keinginan masing-masing siswa. 

Begitu pula bagi guru/Pembina, niscaya ada regulasi yang pasti tentang keterlibatan pada kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian, peran Pembina diakui secara administratif sebagai bagian dari jam mengajar mmelalui apilikasi kepegawaiannya (Dapodik, Padamu Negeri, Simpatika dll) mengajar. Dengan itu akan menjadi motivasi tersendiri bagi guru, terlebih untuk pemenuhan jumlah jam mengajarnya.

 

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa merdeka belajar sesungguhnya adalah simbolisasi semangat. Semangat belajar yang diliputi rasa Bahagia demi mencapai Bahagia. Narasi besar ke-Bahagia-an ini kemudian diupayakan sebagai spirit dalam merekondisikan fungsi, juga manfaat dari semua unsur (siswa, guru, sarana) pada satuan pendidikan sebagai pilar pendidikan yang sebenarnya.

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Catat, Kampanye Undang Massa Bisa Dipidana

Seluruh calon kepala daerah yang akan berlaga dalam Pilkada serentak di tujuh kabupaten/kota di NTB telah ditetapkan, kemarin (23/6). Hari ini, para calon kepala daerah tersebut akan melakukan pengundian nomor urut. Kampanye akan dimulai pada 26 September. Seluruh kandidat harus hati-hati berkampanye di masa pandemi. Sebab, mengundang massa dalam kampanye bisa dikenakan pidana.

Dua Sopir Bupati Lotim pun Positif Tertular Covid-19

PELACAKAN kontak erat Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy yang positif terinfeksi Covid-19 masih terus dilakukan. Hingga kemarin, dari kontak erat yang telah menjalani uji usap atau swab, dua orang sopir Bupati Sukiman telah dipastikan positif Covid-19.

Dua Jempol untuk Penanggulangan Covid-19 Desa Bentek Lombok Utara

Desa Bentek meraih juara satu Kampung Sehat di Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Berada di pintu masuk Kecamatan Gangga, desa ini memang dua jempol. Bidang kesehatannya oke. Bidang ekonominya mantap. Sementara bidang ketahanan pangannya juga menuai decak kagum. Pokoknya top!

Disdag Kota Mataram Gelar Pasar Rakyat, Warga Antusias

”Kami berterima kasih pada pihak Disdag karena kebutuhan rumah tangga bisa diakomodir sekaligus di sini dengan harga terjangkau,”  kara Nasrullah, lurah Pagutan Barat.

Dapodik Versi Terbaru Buat Bingung, Dikbud NTB Latih Operator Sekolah

Kami rancang untuk yang pulau Lombok dulu,” kata Kepala Seksi  GTK SMK Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Dikbud NTB Mu'azam, Rabu (23/9/2020).

SMK di NTB Mulai Persiapan Ikuti LKS Tingkat Nasional

”Siswa yang ikut, sedang menjalani training center (TC),” kata Kepala SMKN 3 Mataram Ruju Rahmad, Rabu (23/9/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Sutradara Trish Pradana, Angkat Kisah Mohan ke Layar Lebar

Sutradara Trish Pradana tak henti melahirkan karya. Di tengah Pandemi Korona ini ia kembali ke balik layar menuntaskan film baru bertajuk "Mohan". Ini merupakan film yang diangkat dari kisah hidup Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana sewaktu remaja.
Enable Notifications    Ok No thanks