LombokPost - Catatan sederhana ini mencoba mengurai Meeting Point (titik temu) Tema HGN (Hari Guru Nasional) yang diperingati setiap 25 November. Pada tahun 2025, ini Kemendikdasmen (kementerian pendidikan dasar dan menengah) melounching tema "Guru Hebat, Indonesia Kuat" dan Kemenag (Kementerian Agama) mengusung tema yang masih berasal dari konsep kurikulum cinta ala pak "kiai" menteri agama yakni "merawat semesta dengan cinta". Kedua tema ini sama sekali tidak antagonik, melainkan saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain karena kedua kementerian ini sama-sama membina guru dan profesi keguruan.
"Guru adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan bangsa". Kata bijak dari "Bapak Guru Bangsa" Ki Hajar Dewantara ini, adalah sesuatu yang sangat ideal bahkan super ideal dalam konteks kekinian, khususnya jika dilihat dari ikhtiar pemerintah yang ingin terus mensejahterakan guru, salah satunya melalui instrumen sertifikasi guru yang saat ini sedang berjalan. Alhasil ikhtiar ini merupakan salah satu amunisi untuk memperkuat ketulusan guru dalam mengajar muridnya.
Mentalitas murid yang telah belajar dari guru yang tulus melahirkan sikap cinta dan respek, yakni menjaga sikap dan perilaku dihadapan guru, kita bukan Imam Ali (Saidina Ali, RA) yang meletakkan guru pada maqom (posisi) yang mulia, kata beliau "Ana 'abdu man 'allamani, wa law harfan waahidan” (aku adalah budak bagi siapapun yang mengajarkan ilmu kepadaku, walau hanya satu huruf) sungguh sebuah sikap kecendekiaan yang sejati.
Hari Guru, seyogyanya momentum refleksi mendalam tentang arti dan makna profesi guru. Meminjam kalimat Prof Abdul Mukti, Menteri Pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen): "Motivasi utama seseorang menjadi guru haruslah cinta kepada murid dan ilmu, tanpa itu, sebesar apapun gaji yang diterima, kebahagiaan sebagai guru takkan pernah tercapai". Sebuah pernyataan moral yang paling mendasar, dan harus menjelma menjadi kesadaran bersama para guru, profesi guru bukan sekedar pintar mengajar melainkan panggilan nurani membangun peradaban.
Pernyataan dengan maksud yang sama juga dilontarkan oleh Menteri Agama (Menag) Prof. Nasaruddin Umar. Menag menyebut “kalau mau cari uang jangan jadi guru, jadi pedagang”. Tentu ini adalah kalimat penegas agar para guru meluruskan niatnya, membangun semangat pengabdian, kalimat ini sama sekali tidak ditujukan untuk merendahkan profesi guru dan juga pedagang, karena keduanya mempunyai orientasi positifnya masing-masing.
Guru berperan strategis dalam membentuk karakter, intelektual, dan masa depan anak bangsa. "Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani”. Filosofi pendidikan ini harus menjadi pegangan, sehingga guru selalu menyadari pentingnya menjadi teladan di depan, pendorong di tengah, dan pendukung di belakang.
Guru cerdas adalah guru yang pandai memposisikan perannya, kapan saatnya memberi materi ajar dan kapan saatnya menjadi inspirator hingga motivator bagi muridnya. Guru adalah sosok yang akan menghantarkan mereka menemukan potensi terbaiknya. Semua ini tidaklah akan terlaksana secara optimal bila guru tidak mengghadirkan roh cinta di dalam dirinya. Guru harus menyadari bahwa murid adalah individu unik yang memiliki fadilah (keistimewannya) masing-masing yang tidak bisa diperlakukan seragam.
Guru yang dipenuhi cinta, adalah guru yang selalu menunjukkan kesabaran dan empati, bukan hanya mampu menangkap keistimewaan setiap muridnya, berikhtiar menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Diharapkan dengan rasa cinta tersebut, hubungan antara guru dan murid bak hubungan orang tua dan anaknya, yang larut dalam belajar bersama yang harmonis syarat makna dan juga berkesan.
Di sisi yang berbeda pendidikan yang holistik-dan terintegral dengan basis roh cinta sekaligus ramah terhadap semesta dalam konsep ekoteologi adalah konsen yang sedang diarus utamakan oleh kementeriaan agama, bahkan ini sudah menjadi bagian dari asta protas (delapan prioritas) menag. Pak Kiai Menteri mendesak untuk dilaksanakan sejak anak usia dini, dan diharapakan menjadi kunci mewujudkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat dalam moral-spiritual, dan peka secara sosial-ekologis.
Pendidikan yang demikian mampu menjawab tantangan abad ke-21, seperti krisis lingkungan, ketimpangan sosial, serta degradasi solidaritas akibat perkembangan digital dan AI (artificial Intlegency) kecerdasan buatan. Konsep Kementerian Agama ini tentulah sangat mendasar, sebab kecerdasan tidak akan berarti apa-apa bahkan potensial menimbulkan kerusakan bila tidak disertai dengan semangat cinta lingkungan. Kerusakan berupa banjir bandang, longsor, dan lain lain di depan mata kita, sudah cukup membuktikan akan ulah tangan manusia yang tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan "Terlihatnya kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (Ar-Rum-41)
Cinta menumbuhkan taa'ruf (rasa ingin tahu), ta'aruf menumbuhkan tafahhum (pemahaman) Tafahhum menumbuhkan taqwiyah (penguatan), penguatan yang muncul dari relasi segar antar guru dan murid, kondisi ini dapat menjadi pintu masuk yang meneguhkan arti dan makna pendidikan itu sendiri. Guru diharapkan dapat menjadikan lokomotif penggerak, dan pemanusiaan, yang menanamkan critical thinking (berfikir kritis), menyuburkan cinta kasih universal, dan duta ramah lingkungan, peduli dan bijaksana dalam menjaga bumi serta memulihkan harkat martabat kemanusiaan.
Great meeting (perjumpaan agung) antara Imam Besar Istiqlal sekaligus Menag Prof. Nasaruddin Umar dengan Paus Fransiskus pada september 2024 adalah contoh kongkrit akan pentingnya interfaith dialogue (Dialog Antar Iman) yang tentunya dilandasi oleh cinta. Momentum ini menegaskan pentingnya tujuan yang sama dalam rangka perdamaian dunia di tengah tantangan dehumanisasi berupa konflik dan kekerasan. Bidang pendidikan dan guru menjadi avant garde (garda depan) pembangun peradaban cinta, yakni guru-guru yang tidak hanya mampu mendesain pembelajaran namun juga menebarkan benih damai, adil, dan merdeka.
Love is Power (cinta adalah kekuatan). Proses pendidikan yang berlangsung dalam relasi yang berlandaskan pada kasih sayang menumbuhkan proses pembelajaran yang memerdekakan. Kurikulum berbasis cinta yang digagas Menteri Agama sepenuhnya relevan dengan mindfull Learning (pembelajaran bermakna) yang diarahkan menteri Dikdasmen.
Pendidikan bermakna hanya akan muncul bila dilambari cinta, tanpa rasa cinta maka itu bukan “makna” melainkan aksesoris hiasan yang sifatnya temporer. Dua konsep ini diharapkan mampu menghantarkan peserta didik menjadi generasi yang unggul secara intelektual, matang dalam aspek spiritual dan moral, serta berperilaku selaras dengan ajaran yang menekankan cinta kasih sebagai inti dari ajaran semua agama.
Cinta dalam kurikulum berbasis cinta, bukanlah sekedar emosi pribadi tetapi sebagai kekuatan transformatif yang akan merubah wajah pendidikan menjadi lebih humanis. Dalam konteks Islam Nabi Muhammad SAW adalah pendidik ulung yang mentransformasi ajaran Islam dengan kekutan Uswah Hasanah (ketauladanan) dan Islam berkembang hingga saat ini.
Buddhisme, Taoisme menekankan cinta sebagai seni hidup, welas asih, dan hubungan harmonis dengan seluruh makhluk hidup. Hampir seluruh agama mengajarkan akan kebajikan, kemanusiaan dan cinta terhadap semesta alam. Cinta dalam agama dan kepercayaan adalah prinsip transendental, vertikal dan horizontal yang mengarahkan manusia beriman pada hablum minallah (hubungan dengan Tuhan) hablum minannas (hubungan antar manusia) dan hablum minal ‘alam (hubungan dengan alam.
Keterampilan teori-teori pedagogis dan psikologis merupakan modal bagi seorang guru dalam mengajar. Tetapi keduanya belumlah cukup, seorang guru harus dapat menempatkan siswa dalam pusat kegiatan proses pembelajaran/student center (berpusat kepada kreativitas murid) dengan cara membangun sebuah relasi personal agar mampu memaksimalkan potensi murid.
Pada akhirnya guru yang hebat bukanlah guru yang hanya mengabiskan waktunya menyusun administrasi pembelajaran, namun miskin improvisasi di dalam kelas. Guru hebat bukanlah guru yang sibuk dengan angka dan nilai ujian sehingga alpa memberikan nilai-nilai kehidupan kepada muridnya.
Guru hebat adalah pembentuk karakter, penumbuh rasa ingin tahu, dan yang terpenting, memberi siswa tolls (alat-alat) agar mereka survival (siap menghadapi tantangan zaman), bagaimana get a dream (strategi meraih impian), dan bagaimana menjadi manusia fungsional (berguna bagi sebanyak-banyak orang lain) khoirunnas anfa’uhum linnas (sebaik baiknya manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (Hadis Nabi Muhammad SAW).
Pendidikan yang bermuara pada ilmu pengetahuan, adalah kunci kehidupan. Sedangkan iman agama adalah penuntunya, keduanya ibarat dua sisi sekeping mata uang, seorang tokoh sains dunia selevel Albert Einstein mempercayai akan kebenaran ini. Meminjam qoute (kata bijak) beliau yang sangat terkenal “Science without religion is blame and religion without science is blind” (Ilmu tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa ilmu buta).
Sains dan Agama, jika dikemas cinta maka akan melahirkan hidup damai, Mahatma Gandhi (Bapak pendiri India) pernah berkata “where is love there is life” (dimana ada cinta disana ada kehidupan), Jika diblanded (dipadukan) dan diterjemahkan dalam kontek semangat guru dan pendidikan, maka “Cinta membuat hidup lebih indah sedangkan ilmu membuat hidup lebih mudah”.
Keduanya kapital (modal) dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Selamat HGN, semoga menjadi guru yang mencintai, dicintai, hebat, menghebatkan menuju Indonesia kuat dan bermartabat. Semoga. (*)
Editor : Siti Aeny Maryam