LombokPost - Banjir besar yang melanda Sumatera membuat mata publik terbelalak dan memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana bencana sebesar ini bisa terjadi? Pemicu utama banjir di Sumatera adalah karena terjadinya hujan ekstrem yang disertai badai siklon, dengan curah hujan mencapai 300–400 mm per hari, jauh melampaui ambang normal daya tampung sungai.
Namun hujan bukanlah satu-satunya penyebabnya, banjir menjadi jauh lebih dahsyat karena terjadinya kerusakan hutan massif di kawasan hulu. Dampaknya sungguh mengerikan: banjir bandang yang disertai dengan hanyutnya tumpukan kayu log bekas tebangan, menyebabkan seribu lebih nyawa melayang, infrastruktur luluh lantak, dan sejumlah desa bahkan lenyap dari peta.
Dari tragedi ini, pertanyaan penting patut diajukan: bisakah kejadian serupa menimpa Nusa Tenggara Barat (NTB), dan seberapa siap NTB menghadapi ancaman tersebut?
Apakah mungkin curah hujan ekstrem hingga 300–400 mm per hari terjadi di NTB, khususnya di Pulau Lombok? Keraguan semacam ini wajar, tetapi mari kita menyimak penjelasan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nasional.
Merujuk pada penjelasan BMKG (CNN Indonesia 29 Desember 2025), wilayah Bali–Nusa Tenggara berada dalam pengaruh sistem cuaca yang semakin dinamis, termasuk kemunculan bibit siklon tropis di perairan sekitar Indonesia bagian selatan.
Bibit siklon ini berpotensi memperkuat konvergensi angin dan suplai uap air, yang pada kondisi tertentu mampu memicu hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat. Dengan konfigurasi atmosfer seperti ini, hujan ekstrem bukan lagi fenomena yang mustahil terjadi di NTB. Maka awabannya jelas: ya, hujan ekstrem mungkin terjadi, dan justru menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi sejak sekarang.
Pengalaman kejadian banjir di NTB, sesungguhnya telah berulang kali membuktikan betapa rapuhnya sistem hidrologi yang ada. Dalam beberapa kejadian banjir besar di Bima dan Sumbawa, hanya dengan curah hujan sekitar 60 mm per hari saja sudah cukup untuk meluapkan sungai, menenggelamkan permukiman, dan melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Di Pulau Lombok sendiri, pada Juli 2025 terjadi hujan dengan Curah Hujan (CH) 105,6 mm, telah mampu menenggelamkan kawasan permukiman elit di Kota Mataram, wilayah yang selama ini dianggap aman dari ancaman banjir. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa ambang ketahanan lingkungan dan tata kelola drainase di Wilayah NTB sudah berada pada titik yang sangat rentan.
Maka dapat dibayangkan, jika hujan ekstrem dengan intensitas 300–400 mm per hari seperti yang terjadi di Sumatera turun di Lombok, bukan sekadar banjir yang akan terjadi, melainkan banjir bandang berskala besar dengan daya rusak yang luar biasa, datang cepat, dan berpotensi menimbulkan korban jiwa serta kehancuran yang parah.
Apa yang terjadi jika NTB mengalami hujan ekstreem berat? Maka banjir bandang nyaris tidak terelakkan. Sungai-sungai dengan kapasitas yang terbatas tidak akan mampu menampung lonjakan debit air dalam waktu singkat, sehingga luapan air berwarna cokelat tua, membawa lumpur, pasir, seresah , kayu, dan material lain dari hulu, akan meluap keluar sungai dan menyapu wilayah permukiman di sekitarnya. Pada saat yang sama, air hujan dari daratan tidak memiliki jalur pelepasan karena tertahan oleh luapan sungai yang sudah penuh, menciptakan kondisi “jebakan air” di kawasan hilir dan perkotaan. Akibatnya, genangan air di wilayah cekungan dan dataran rendah padat permukiman, menjadi tak terhindarkan, bahkan air berpotensi mencapai ketinggian 2–3 meter, menenggelamkan rumah, fasilitas umum, dan melumpuhkan aktivitas sosial–ekonomi masyarakat dalam waktu singkat.Bottom of Form
Apa perbedaan banjir di NTB dengan di Sumatera? Perbedaan mendasar keduanya, terletak pada karakter material dan skala wilayah, dan tingkat daya rusaknya. Di Sumatera, banjir kerap disertai terbawanya material kayu log dalam jumlah masif akibat pengrusakan hutan skala besar, sehingga daya hancurnya berlangsung luas dan berkepanjangan. Sementara itu, di Lombok dan wilayah NTB lainnya, banjir umumnya tidak membawa kayu gelondongan dalam jumlah sebesar itu. Namun, daya rusak aliran banjir bisa setara, bahkan dalam konteks tertentu lebih mematikan. Hal ini disebabkan oleh karakter NTB sebagai pulau kecil dengan DAS berukuran pendek, sempit, dan berlereng curam, yang membuat air hujan terkonsentrasi dan mengalir sangat cepat ke hilir. Banjir di NTB cenderung datang mendadak, berdebit besar, berenergi tinggi, dan menghantam dalam waktu singkat, menciptakan kerusakan serius.
Pertanyaannya, seberapa siap Nusa Tenggara Barat menghadapi kemungkinan banjir besar? Jawabannya bukan terletak pada ukuran kesiapan, melainkan pada bagaimana NTB seharusnya menyiapkan diri menghadapi banjir besar tersebut. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hampir setiap kejadian banjir selalu dihadapi secara reaktif, tanpa kesiapan yang matang, tanpa skenario yang jelas, dan sering kali dengan korban yang berulang. Oleh karena itu dalam jangka pendek, NTB harus segera memastikan keberfungsian sistem peringatan dini banjir, memperkuat pendidikan dan literasi masyarakat tentang mitigasi bencana, serta membangun perilaku lingkungan yang bersih dari sampah. Namun langkah-langkah tersebut tidak akan cukup tanpa keberanian mengambil kebijakan jangka panjang, yaitu menghentikan izin pemanfaatan hutan kayu, menata ulang izin Perhutanan Sosial agar tidak menjadi pintu degradasi hutan, serta secara sistemik dan konsisten melakukan rehabilitasi hutan dan lahan kritis di kawasan hulu DAS. Tanpa perubahan arah kebijakan yang mendasar, setiap hujan ekstrem hanya akan mengulang satu kesimpulan pahit: NTB bukan tidak siap karena kurang pengalaman, tetapi karena terus menunda pembenahan akar masalahnya.
Editor : Kimda Farida