LombokPost - “If you know the enemy, and you know yourself, you need not fear the result of a hundred battles.” (Sun Tzu, The Art of War)
(Akhirnya) Perang Dimulai!
Sabtu 28 Januari, Israel melayangkan serangan besar-besaran ke penjuru Iran.
Serangan yang kemudian disusul penegasan presiden AS, Donal Trump sebagai serangan bersama Amerika Serikat (AS) dan Isarel dengan tujuan utama untuk menggulingkan kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.
Mengingat pentingnya kawasan Timur Tengah dan mengemukanya isu potensi konflik ini berkembang menjadi konflik regional yang bahkan mengancam stabilitas global, akan sangat menarik untuk membahas perang AS-Israel vs Iran ditahun ini, mengapa ia pecah, strategi yang diusung masing-masing pihak dan kemungkinan hasil akhirnya kelak.
The Goal
Di awal perang Trump dan Netanyahu mengumumkan telah menyerang Iran dengan tujuan pergantian rezim dengan cara decapitated the supreme leader (menghabisi pemimpin tertinggi) dan membebaskan rakyat Iran dari rezim yang berkuasa.
Adapun strategi yang digunakan adalah serangan udara kombinasi drone dan rudal serta pesawat tempur dan memaksimalkan pangkalan militer AS yang tersebar di negara-negara Teluk.
Serangan pertama operasi “Epic Fury” diluncurkan pada 28 Februari 2026. Dalam serangan ini sejumlah petinggi militer Iran beserta pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dinyatakan tewas.
Kurang dari 24 jam, Iran membalas dengan kiriman rudal balistik dan drone ke Israel dan pangkalan militer AS serta bandara di negara-negara Teluk.
Sejak itu bertukar serangan udara menjadi menu harian pihak yang bertikai dengan jangkauan konflik yang terus meluas ke negara-negara sekitar di kawasan tersebut.
The Strategy
Serangan udara merupakan langkah yang ditempuh secara dominan, selain kapal induk di perairan Timur Tengah, AS mengandalkan infastruktur militernya yang tersebar di negara-negara Teluk, seperti Bahrain, Qatar, UEA, Yordania, Arab Saudi, Kuwait dan Oman. Yang menarik adalah, Iran telah jauh hari menegaskan bahwa bila negaranya diserang maka seluruh aset militer AS di Teluk menjadi target pembalasan yang sah.
Ini menjadikan perang di 2026 memberi beban extra bagi AS, perang ini bukan sekadar menundukkan Iran, tetapi juga ujian apakah AS mampu membuktikan diri sebagai the protector of the Gulf countries, negara kuat yang mampu melindungi negara-negara Teluk dari serangan balasan Iran.
Karena jika tidak maka perang ini akan menjadi preseden buruk yang tidak mustahil membuat negara-negara Teluk sekutu AS menimbang ulang tentang perlu tidaknya kehadiran militer AS di tanah mereka.
Iran pun mengadopsi strategi serangan udara, dengan memaksimalkan sumber daya yang ada termasuk kekuatan aliansi Iran di Timur Tengah.
Walaupun tidak memiliki pesawat pengebom dan pesawat tempur secanggih Israel dan AS, namun Iran unggul dalam mengrimkan balasan konsisten lewat drone dan rudal balistik mereka.
Banyak pengamat mengklaim bahwa keunggulan Iran terletak pada jumlah drone dan rudal mereka ditambah kemampuan kedua senjata ini menguras dalam anggaran militer AS dan Israel.
Fakta di Lapangan
William Scott Ritter Jr, mantan perwira intelejen Marinir Amerika dan Inspektur Senjata PBB menjelaskan bahwa AS dan Israel kalah di hari pertama.
Martyrdom atau mati syahid menurut Ritter adalah ruh yang membuat perlawanan terhadap kezhaliman hidup dan berkobar pada masyarakat Syi’ah dan tentu saja muslim pada umumnya.
“Mereka (Trump administration) tidak mengetahui apa itu Syiah dan sejarah Karbala dimana terbunuhnya Imam Husein adalah cikal bakal lahirnya Syiah” tegas Ritter.
Lihat apa yang terjadi di Gaza dan lihatlah reaksi masyarakat Iran saat mengetahui Khamenei terbunuh.
Alih-alih turun ke jalan menuntut pergantian rezim, rakyat Iran justru bersatu turun ke jalan untuk mengekspersikan kesedihan atas kepergian sang Imam serta mengutuk keras agresi AS dan Israel.
Kecaman senada di keluarkan oleh Pemimpin Masyarakat Yahudi Iran, Rabi Dr. Younes Hamami Lalehzar yang pada kesempatan yang sama menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei dan memberi predikat sang pemimpin tertinggi Iran itu sebagai pemimpin yang adil.
Karena itu kematian Khamenei, menurut Ritter, bukanlah suatu keberhasilan pencapaian tujuan sebagaimana yang diklaim Israel dan AS, melainkan peristiwa bersejarah yang memberi rakyat Iran perspektif baru untuk menyadari bahwa ancaman sesungguhnya bukanlah berkuasanya rezim tertentu namun ancaman terbesar adalah AS dan Israel yang menyerang eksistensi Iran sebagai suatu negara, bangsa dan suatu peradaban.
Selain itu, informasi yang diberikan salah satu surat kabar Israel menyebutkan bahwa tanggal serangan telah disepakati Netanyahu dan Trump saat perundingan masih berlangsung.
Inilah yang dikritik oleh pengamat sebagai tindakan pengecut yang seolah-olah berniat mencari solusi dengan berunding sehingga memberikan kesan aman semu kepada Iran padahal dibalik pintu AS dan Israel menyusun rencana memberikan surprise attack.
Mungkin Amerika lupa pernah mendapat serangan tiba-tiba dari Jepang di Pearl Harbor saat Perang Dunia II, begitu menyakitkannya serangan itu sehingga balasan yang AS berikan adalah menjatuhkan 15 dan ton bom ke Hiroshima dan Nagasaki.
Jika AS belajar dari sejarah seharusnya mereka bersiap menghadapi balasan Iran yang kehilangan pemimpin tertinggi, puluhan petinggi militer, dan ribuan rakyatnya,
Tidak kalah penting untuk dicatat, selain badan legislatif dan eksekutif di Iran terdapat Wilayatul Faqih sebagai manifestasi doktrin politik Syiah yang menetapkan seorang pemimpin spiritual (Rahbar) sebagai rujukan tertinggi dalam masalah politik dan keagamaan selama masa keghaiban Imam Mahdi.
Pemimpin spiritual ini dipilih oleh Dewan Ulama yang anggotanya dipilih oleh rakyat.
Sistem ini membuat sangat sulit bagi pihak asing untuk menciptakan pemimpin boneka yang bisa mereka kendalikan.
Karena itu keinginan Trump untuk ikut menentukan pengganti Khamenei bagai angan sang pungguk yang merindukan bulan.
Kenyataan di lapangan yang tak kalah penting adalah perang 8 hari telah Israel dan Iran telah mngeluarkan ratusan triliun dolar, walapun serangan bertubi-tubi telah menghancurkan infrastruktur di berbagai lokasi di Iran, namun gelombang drone dan rudal Iran terus berdatangan menyasar lokasi vital di Israel dan negara-negara Teluk yang wilayahnya digunakan AS untuk melancarkan serangan.
Laporan yang dikonfirmasi oleh AS, Iran dengan drone murahnya berhasil memporak porandakan sistem pertahanan udara radar senilai hampir dua puluh empat triliun rupiah.
Selain itu, kerugian yang ditimbulkan terutama dari sektor ekonomi sangatlah besar.
Citra Dubai dan Abu Dhabi sebagai safe heaven untuk investasi dan wisata luluh lantak hanya dalam hitungan hari.
Selain itu, Iran menerapkan strategi melumpuhkan pertahanan udara Israel dengan mengirimkan stok drone dan rudal lama dalam jumlah besar yang bertujuan membuat sistem pertahanan udara Iron dome letih dan kewalahan setelah itu barulah Iran mengirimkan rudal-rudal canggihnya yang dengan dengan presisi tinggi.
Penggunaan stok senjata lama ini adalah langkah cerdik Iran yang terbukti efektif.
Oleh karena itu Scott Ritter menjelaskan bahwa jika dihitung dari jumlah drone dan rudal yang Iran tembakkan hanya 30 persen yang mengenai sasaran, namun jika dilihat dari kemampuan serangan Iran menghancurkan lokasi strategis, maka tingkat keberhasilannya mendekati 100 persen.
Penutup
Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri AS menjelaskan bahwa dalam perang asimetris, pihak yang lebih lemah hanya cukup bertahan untuk meraih kemenangan, perang Iran vs Israel-AS menunjukkan bahwa waktu menjadi senjata perang yang sangat ampuh.
Perang yang semula diprediksi selesai dalam 40 atau 72 jam oleh Amerika dan Israel, ternyata di hari kedelapan belum jelas kapan berakhir.
Kemampuan Iran untuk mengulur waktu dan menguras sumber daya militer musuh dan sekutunya adalah kunci utama memenangkan perang.
Perang yang berkelanjutan tidak hanya melelahkan pihak lawan dari segi anggaran namun juga membuat lawan berhadapan dengan tekanan politik yang besar dari dalam negeri ditambah tekanan dunia internasional akibat melonjaknya harga minyak plus meningkatnya potensi menurun drastisnya pengaruh Amerika di Teluk.
Momentum yang mengingatkan kita pada akurasi fatwa Sun Tzu dalam the Art Of War, “Kenali dirimi, kenali lawanmu, maka seratus kali kau berperang, seratus kali kau akan menang”. (Sani Nurhayati Ph,D (Alumni Victoria University of Wellington dan ASN pada Pemerintah Kota Mataram))
Editor : Kimda Farida