Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lebaran 2026 Berpotensi Kembali Beda, Pemerintah Cenderung Sabtu

Lalu Mohammad Zaenudin • Rabu, 18 Maret 2026 | 19:04 WIB

DAMAI: Suasana pawai takbiran di kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Minggu malam (30/3)
DAMAI: Suasana pawai takbiran di kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Minggu malam (30/3)

 

SETIAP menjelang akhir Ramadan, pertanyaan yang sama selalu muncul:
apakah tahun ini Lebaran bisa bersama?


Untuk 2026, jawabannya tidak bisa sekadar optimistis. Kalau jujur melihat pola dan membaca data, posisinya justru menarik. Sekaligus rumit.


Ada peluang untuk sama.
Tapi ada juga alasan kuat kenapa perbedaan masih sangat mungkin terjadi.


Memahami akar masalah: dua cara membaca langit
Perbedaan Lebaran di Indonesia sebenarnya bukan soal siapa yang benar.


Ini soal cara membaca fenomena yang sama—bulan baru—dengan pendekatan berbeda.


Muhammadiyah berdiri pada satu prinsip sederhana: jika secara perhitungan astronomi bulan sudah berada di atas ufuk setelah matahari terbenam, maka itu sudah cukup untuk menandai masuknya bulan baru.


Ini disebut hisab wujudul hilal.
Logikanya tegas: kalau hilal sudah “wujud” (eksis secara posisi), maka 1 Syawal dimulai.


Sementara NU dan pemerintah memakai pendekatan yang sedikit berbeda.


Mereka tidak hanya bertanya: “apakah hilal sudah ada?”


Tapi juga: “apakah hilal mungkin terlihat?”


Di sinilah rukyat masuk.
Bagi pemerintah, hilal bukan sekadar ada secara matematis.


Bulan baru harus memenuhi syarat visibilitas. Bisa dilihat secara nyata atau setidaknya secara ilmiah sangat mungkin terlihat.


Ada standar teknis yang disepakati bersama negara-negara Asia Tenggara (MABIMS), yaitu:
Tinggi hilal minimal 3 derajat
Elongasi minimal 6,4 derajat


Tinggi hilal itu sederhana: seberapa jauh posisi bulan dari garis horizon.


Semakin tinggi, semakin mudah dilihat.
Elongasi adalah jarak sudut antara bulan dan matahari.


Semakin jauh jaraknya, semakin terang dan kontras bulan di langit.


Kalau dua angka ini belum terpenuhi, maka secara ilmiah hilal dianggap belum layak terlihat.
Di sinilah perbedaan sering terjadi.


Masalahnya, posisi hilal pada penentuan Idulfitri 2026 tidak berada di kondisi ideal.
Ia tidak jelas terlihat, tapi juga tidak benar-benar “tidak ada”.


Ia berada di wilayah abu-abu atau borderline.


Perkiraannya seperti ini saat dilakukan rukyat (19 Maret 2026):
Tinggi hilal: sekitar 1°–2,5°
Elongasi: sekitar 4°–6°
Umur bulan: 10–14 jam


Kalau dibandingkan dengan standar MABIMS:
Tinggi 3°, artinya belum tembus.
Elongasi 6,4° artinya sebagian besar masih di bawah.


Artinya secara teknis:
hilal sudah ada, tapi belum cukup kuat untuk terlihat.


Ini penting.


Karena dalam pendekatan rukyat, keberadaan saja tidak cukup, harus ada peluang realistis untuk melihat.


Dalam kondisi seperti ini, pengalaman bertahun-tahun memberi gambaran yang cukup konsisten.


Tim rukyat akan turun ke berbagai titik di Indonesia.
Mereka membawa teleskop, kamera, dan metode observasi modern.


Namun dengan ketinggian yang masih rendah dan elongasi yang belum cukup, kemungkinan besar laporan yang masuk adalah:
hilal tidak terlihat.


Bukan karena tidak ada.
Tapi karena terlalu tipis, terlalu dekat dengan matahari, dan terlalu rendah di langit.


Dalam bahasa sederhana:
ia kalah terang oleh cahaya senja.

Di titik ini, keputusan pemerintah biasanya mengikuti pola yang sama.


Jika:
Hilal tidak terlihat
Dan belum memenuhi kriteria visibilitas
Maka Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.


Ini yang disebut istikmal.


Kenapa tidak memakai hisab saja?
Karena pemerintah berada di posisi yang tidak hanya ilmiah, tapi juga sosial.


Keputusan Lebaran menyangkut jutaan orang.
Ia tidak bisa hanya benar secara data, tapi juga harus diterima secara luas.

 


Jika pemerintah menetapkan Lebaran saat hilal belum mungkin terlihat, maka akan muncul pertanyaan:


“dasarnya apa?”


Sementara rukyat, emberi legitimasi yang kuat:
kita melihat sendiri, atau secara ilmiah memang layak terlihat.


Sekarang kita gabungkan semuanya:


Hilal 2026 berada di kondisi borderline
Secara teknis belum memenuhi kriteria MABIMS. Secara praktik sangat sulit terlihat.


Secara pola, pemerintah cenderung berhati-hati
Maka skenario paling konsisten adalah:
Rukyat dilakukan Kamis, 19 Maret 2026
Hasil hilal tidak akan terlihat.


Keputusan: istikmal


Hasil akhirnya:
Muhammadiyah: Jumat, 20 Maret 2026
Pemerintah & NU: Sabtu, 21 Maret 2026

Apakah masih bisa sama?
Masih.
Selalu ada kemungkinan kecil hilal berhasil terlihat di satu titik ekstrem, misalnya di wilayah paling barat Indonesia dengan kondisi langit sangat bersih.

Jika ada laporan valid dan diterima sidang isbat, maka pemerintah bisa menetapkan Lebaran pada hari yang sama.


Tapi melihat parameter yang ada, peluang ini relatif kecil.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Rukyat hilal #Hisab wujudul hilal #Hilal MABIMS #lebaran 2026 #Perbedaan Idulfitri