alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

Korona Melandai, Dinas Pendidikan Mataram Ingin Buka Sekolah

MATARAM-Kepala Disdik Mataram H Lalu Fatwir Uzali siap menghadap Sekda Mataram H Efendi Eko Saswito. Pihaknya hendak mengkomunikasikan rencana pembelajaran tatap muka (PTM) untuk kelas satu.

”Saya diskusi dengan pak sekda dulu, kalau memang ada izin, saya akan diskusikan ini ke pak wali kota,” tegasnya, saat dikonfirmasi Lombok Post, (28/2).

Pertimbangannya, kasus Covid-19 di Mataram beberapa waktu terakhir melandai. Data Tim Satgas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, jumlah pasien yang sembuh meningkat dibanding kasus positif baru.

Tanggal 24 Februari, 27 pasien dinyatakan sembuh sedangkan positif baru 13 kasus. Pada 25 Februari, 42 pasien sembuh dan 15 kasus positif baru. Berikutnya, 26 Februari 24 pasien dinyatakan sembuh dan 17 kasus positif baru. Begitu juga 27 Februari, 39 pasien sembuh dan 18 kasus positif baru. Kemarin, 15 pasien sembuh dan tujuh kasus positif baru.

Baca Juga :  Bantuan Kuota Internet Pendidikan Masih Diproses, Waspadai Penipuan!

Dari fakta tersebut, mantan kepala SMAN 1 Mataram ini berharap, awal Maret semua sekolah dalam naungan Disdik Mataram, diizinkan menggelar PTM. ”Jenjang SD dari kelas I-V dan SMP kelas VII dan VIII, mereka bisa belajar di kelas,” ujarnya.

Dari hasil diskusinya bersama guru, peserta didik dihadapkan pada situasi tidak lagi termotivasi melaksanakan tugas. ”Anak-anak merasa bosan,” terangnya.

Diingatkan, penilaian proses pembelajaran tidak hanya untuk kelas akhir saja. ”Namun peserta didik lain, juga akan menjalani ujian akhir semester untuk kenaikan kelas,” jelasnya.

Aspirasi masyarakat, terutama orang tua juga didengar. ”Kami sangat memperhatikan kondisi psikologis anak di Mataram, makanya kami akan segera diskusi hal ini ke pemkot,” pungkasnya.

Baca Juga :  Top, Realisasi Vaksinasi Lansia Lebihi Target

Terpisah, Pengawas Sekolah Mataram Yusuf mengatakan, BDR tentu membawa sejumlah dampak negatif. Diperlukan kreativitas kepala sekolah, misalnya membuat jadwal konsultasi. Khususnya ini diterapkan bagi murid kelas awal. Kelas I dan II SD.

”Misalnya hari ini lima anak, besok lima anak dan seterusnya, jadi alternatif karena setelah anak-anak kita tanya, memang suka belajar di sekolah ketimbang di rumah,” jelasnya. (yun/r9)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/