Sabtu, 4 Februari 2023
Sabtu, 4 Februari 2023

Seminal Nasional, Fisipol Unram Bahas Masyarakat Pesisir dan Kepulauan

GIRI MENANG–Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unram menggelar Seminar Nasional 3, di Senggigi, Lombok Barat (Lobar) Kamis (29/9). Tema yang diangkat, ”Dinamika Sosial dan Budaya Masyarakat Pesisir dan Kepulauan”.

Ketua Prodi Sosiologi Fisipol Unram Rosiady Husaenie Sayuti mengatakan, dalam kancah keilmuan, pihaknya telah memantapkan lokus kajiannya kedepan. Yakni, untuk pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. ”Ada ribuan pulau-pulau kecil se-Indonesia dan puluhan pulau-pulau kecil yang berpenghuni di NTB yang memerlukan kajian-kajian khusus,” jelasnya.

Pihaknya mendorong masyarakat memiliki ketangguhan dalam membangun diri dan lingkungannya, sosial dan budayanya. ”Untuk itu, kerja sama dengan pemerintah daerah (pemda) menjadi suatu keniscayaan,” ujarnya.

Hafizah Awalia, ketua panitia menyampaikan rasa terima kasih, atas dukungan berbagai pihak terkait. ”Semoga masukan dan saran dapat diberikan kepada panitia demi pelaksanaan seminar tahun depan dapat terlaksana lebih baik lagi,” katanya.

Seminar nasional ini diselenggarakan secara hybrib. Diisi dengan berbagai presentasi oleh 35 pemakalah dari 17 perguruan tinggi se-Indonesia.

Empat narasumber utama dalam seminar nasional ini, yaitu Prof Emy Susanti, ketua Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender dan Anak Indonesia. Dia sekaligus guru besar Universitas Airlangga.

Baca Juga :  University of Agder Norwegia Belajar Keberagaman dan Toleransi di Unram

Berikutnya, President of Indonesian Marine Scientist Association Sitti Hilyana. Ada Oki Rahadianto Sutopo, direktur Youth Studies Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Muslim, kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB.

Beberapa sub tema yang dipaparkan berkaitan dengan gender, kelompok rentan dan marjinal, juga masalah lingkungan dan perubahan iklim. Tak ketinggalan pembangunan dan politik lokal, masyarakat digital, gaya hidup dan isu pemuda. Termasuk konflik dan resolusi konflik, agama, modal sosial dan kearifan lokal, kemiskinan dan kesenjangan sosial. Serta pendidikan dan pengembangan komunitas.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim mengapresiasi penetapan pesisir dan pulau-pulau kecil sebagi lokus kajiannya. ”Banyak sekali kajian-kajian yang kita harus lakukan, dalam rangka memetakan berbagai persoalan dan dinamika sosial budaya,” terangnya.

Karakteristik mereka yang khas, dan pola kehidupannya yang juga khas, tentu saja memerlukan perhatian khusus. Hal ini sesuai UU 1 tahun 2014 tentang perubahan atas UU 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dirinya juga menyambut baik, bila terjalin kerja sama antara Unram dengan Pemprov NTB. Khususnya yang berkaitan dengan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. ”Banyak hal positif yang dapat kita sinergikan, demi mempercepat pembangunan SDM dan infrastruktur di wilayah tersebut,” tandasnya.

Baca Juga :  Kumpulkan Dana Rp 3 Miliar, IKA Unram Bangun Gedung Sekretariat dan Wisma

President of Indonesian Marine Scientist Association Sitti Hilyana, mempersentasikan makalahnya. Berjudul Membangun Ketangguhan Masyarakat Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Menuju Indonesia Emas 2045.

Ia menekankan, perlunya perhatian semua pihak terhadap faktor-faktor penentu dalam membawa kesejahteraan masyarakat pesisir. ”Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah berkaitan dengan sumber daya manusia pesisir dan pulau-pulau kecil, kualitas lingkungan, teknologi pasca panen, dan permodalan, serta pehatian terhadap budaya dan etos kerja mereka,” terangnya.

Sedangkan Prof Emy Susanti memaparkan persoalan bias gender yang masih terjadi. ”Menurut saya, selama masa pandemi kemarin, ketangguhan masyarakat nelayan banyak ditopang karena aktifnya kaum perempuan untuk membantu ekonomi rumah tangga mereka,” tegasnya.

Oki Rahadianto Sutopo, direktur Youth Studies Fisipol UGM mengajak peserta memahami kaum muda di pesisir. Mereka adalah bagian dari generasi muda yang juga mengalami perubahan. ”Mereka juga secara relatif telah terkoneksi juga secara global, meski tetap terlekat dengan budaya lokal,” ujarnya. (yun/r9/*)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks