alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

NTB Punya 59 Sekolah Penggerak

MATARAM-Kemendikbud telah menetapkan, 59 satuan pendidikan di NTB terpilih sebagai pelaksana Program Sekolah Penggerak (PSP).

”Kami sudah menerima SK penetapannya,” kata Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) NTB Mohamad Mustari, pada Lombok Post, (3/5).

Sekolah tersebut terbagi ke dalam dua wilayah. Kota Bima mendapat kuota  sembilan sekolah. Rinciannya, dua TK, tiga SD, satu SMP, dan tiga SMA. Sedangkan Lombok Timur mendapat kuota 50 sekolah. Mencakup enam TK, 24 SD, 13 SMP, dan tujuh SMA. Statusnya negeri maupun swasta.

Sebelumnya pada tahap seleksi, 402 sekolah dari jenjang TK hingga SMA mendaftar. Rinciannya 116 TK/PAUD, 153 SD, empat SLB, 101 SMP dan 28 SMA. Terbagi dalam, 245 sekolah negeri dan 157 sekolah swasta.

Dirinya menjelaskan, setelah SK penetapan dari Kemendikbud keluar, pemerintah daerah (pemda) harus menindaklanjutinya. ”Dinas pendidikan di kabupaten dan kota, membuat SK turunannya,” jelas dia.

Sekolah yang ditetapkan sebagai pelaksana PSP, akan menjalankan program Kemendikbud selama tiga tahun. Tahapan awal akan dimulai tahun ajaran baru 2021/2022 ini.

Kemendikbud akan mengintervensi lima jenis program yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Pendampingan konsultatif dan asimetris.

”Program kemitraan antara Kemendikbud dan pemda, dimana pusat memberikan pendampingan implementasi Sekolah Penggerak itu,” ujarnya.

Kemudian ada program penguatan SDM Sekolah. Meliputi penguatan kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik, dan guru melalui program pelatihan dan pendampingan intensif. ”Pelatihan dilakukan secara individual dengan pelatih ahli yang disediakan oleh Kemendikbud,” jelas Mustari.

Kemudian, Pembelajaran Kompetensi Holistik. Maksudnya, pembelajaran yang berorientasi pada penguatan kompetensi dan pengembangan karakter. Acuannya, yang sesuai nilai-nilai Pancasila, melalui kegiatan pembelajaran di dalam dan luar kelas.

Berikutnya, Perencanaan Berbasis Data. Menitikberatkan pada manajemen berbasis sekolah, perencanaannya berdasarkan refleksi diri satuan pendidikan.

Terakhir, Digitalisasi Sekolah. Penggunaan berbagai platform digital bertujuan mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan pendekatan yang disesuaikan.

”Semua intervensi yang dilakukan Kemendikbud, bertujuan meningkatkan mutu dan pendidikan sekolah tersebut,” pungkasnya.

Kepala SMAN 1 Kota Bima Dedy Rosadi mengucap syukur, lantaran sekolahnya terpilih. ”Alhamdulillah, kami menjadi bagian di dalamnya,” ujarnya.

Pihaknya kini menunggu arahan berikutnya dari Kemendikbud, terkait pelaksanaan lima intervensi PSP. Pada saatnya nanti, kepala sekolah akan dipanggil dan dikumpulkan, untuk diberikan penjelasan berikut konsep-konsepnya. ”Setelah itu kami akan membentuk panitia PSP ini, nah inilah yang menggerakkan semua lima intervensi itu,” tegasnya. (yun/r9)

 

 

 

 

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks