alexametrics
Sabtu, 20 Agustus 2022
Sabtu, 20 Agustus 2022

Pendaftaran SMA di NTB Segera Dibuka, Ini yang Perlu Diperhatikan

MATARAM-Pengumuman kelulusan SMP, resmi dilakukan hari ini. Selanjutnya orang tua diminta mempersiapkan anak-anaknya, untuk memasuki jenjang yang lebih tinggi. ”Pra pendaftaran sudah bisa dilakukan Senin (8/6/2020),” kata Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan, pada Lombok Post Kamis (4/6/2020).

 

Tahun ini, pihaknya membuka empat jalur pendaftaran SMA negeri. Kuota jalur zonasi 60 persen, jalur afirmasi paling 20 persen, perpindahan orang tua lima persen. Terakhir, kuota jalur prestasi mencapai 15 persen. Rinciannya, delapan persen dari prestasi nilai rapor Semester I-V pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA. ”Sisanya lima persen dari prestasi piagam atau sertifikat dan dua persen lagi dari tahfidzul quran,” imbuhnya.

 

Baca Juga :  Kabar Baik, Lima SMK di NTB Bersiap Jadi BLUD

Untuk menyambut kegiatan tersebut, Aidy meminta orang tua melengkapi segala dokumen. Seperti Nomor Kepala Keluarga (NKK) dan Nomor Induk Kependudukan (NIK) bagi orang tua. ”Paling penting juga, memastikan anaknya bersekolah di zonanya,” tegas dia.

 

Menurunya, peran orang tua sangat penting dalam masa seperti ini. Jika anaknya ingin bersekolah di SMK dan membutuhkan tes kesehatan langsung, maka orang tua harus mendampingi. ”Masuk SMA kan ada tes buta warna, maka peran orang tua harus mengawal, pulang maupun pergi,” jelasnya.

 

Terakhir, memotivasi anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan. Usahakan menghindari keinginan untuk menikah atau bekerja, apalagi menganggur terlebih dulu. ”Motivasi anak-anak tetap punya semangat melanjutkan sekolah,” tandasnya.

Baca Juga :  Unram Gelar Sosialisasi Kewajiban Peserta Ujian UTBK-SBMPTN

 

Ketua Dewan Pendidikan NTB H Rumindah mengingatkan orang tua, ada kasus tertentu saat anak tidak ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah yang masuk zonasi. Misalnya sekolah itu terkenal disiplin, punya standar tinggi atau alasan lain, sepanjang masih memenuhi persyaratan untuk bisa bersekolah di luar zonasi, maka bisa saja itu diterapkan.

”Anak-anak juga nggak boleh dipaksakan ya, daripada nggak nyaman dan merasa tersiksa, selama sesuai aturan, bisa sekolah di tempat lain, jangan terlalu kaku sama aturan,” ujarnya. (yun/r9)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/