alexametrics
Selasa, 16 Agustus 2022
Selasa, 16 Agustus 2022

Pandemi Korona di NTB Belum Usai, Jangan Gegabah Buka Sekolah

MATARAM-Kepala daerah di NTB terus diingatkan, jangan gegabah mengeluarkan izin membuka sekolah.

”Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan,” kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) NTB Hj Nurhandini Eka Dewi, kepada Lombok Post, Selasa (4/8/2020).

Ada pula aturan yang tidak boleh dilanggar. Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran TA 2020/2021 pada Masa Pandemi Covid-19, dan SE Gubernur NTB Nomor 420/3320.UM/Dikbud.

”Kita semua harus taat dengan aturan itu,” ujarnya.

Menurutnya, sangat baik anak-anak saat ini tetap berada di rumah. Sehingga risiko penularan Virus Korona lebih sedikit. Karena belajar dari pengalaman sebelumnya, kematian yang terjadi diakibatkan dari interaksi dengan orang banyak.

Baca Juga :  Petarung NTB Bakal Berlaga di Kejurnas Muaythai Sulteng

”Ini yang harus kita pahami,” terang kepala Dikes NTB ini.

Eka menjelaskan, sampai saat ini anak-anak di NTB yang suspek Virus Korona 624 orang. Dari jumlah tersebut, 49 anak dengan status suspek meninggal. Jumlah anak yang positif Virus Korona 182 orang dan lima anak terkonfirmasi Covid-19 meninggal dunia.

”Dari sini saja kita bisa melihat, bahwa anak-anak punya risiko sangat tinggi untuk tertular,” jelasnya.

Dirinya memahami, bagaimana kegelisahan orang tua terhadap pendidikan sang buah hati. Keluhan tentang biaya BDR juga dimengerti. Ditambah realita lainnya, tidak ada fasilitas belajar seperti hp android, kuota internet, sinyal lemah yang dihadapi sebagian pelajar.

”Saya sangat paham kondisi ini,” klaimnya.

Baca Juga :  Dikbud NTB Ingin Lebih Banyak SMA Terbuka, Tampung Anak Putus Sekolah

Tetapi yang harus di waspadai, jika pemda bersikukuh membuka KBM tatap muka, risiko penularan semakin tinggi. Jika sekolah dibuka, ada tiga tempat terjadi risiko penularan. Perjalanan anak menuju sekolah, di sekolah, dan terakhir perjalanan anak pulang sekolah.

”Bagaimana perjalanan pergi dan pulangnya, yang kita tahu kasus paling banyak terjadi saat perjalanan itu, memang di sekolah mungkin ditata, tetapi di perjalanan,” katanya melempar tanya. (yun/r9)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/