alexametrics
Rabu, 21 April 2021
Rabu, 21 April 2021

Cegah Radikalisme Berkembang di Kampus

MATARAM-Radikalisme turut menyasar mahasiswa. Ketua Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unram Agus Purbatin Hadi menguraikan sejumlah faktor penyebabnya.

Pertama, mahasiswa berada pada usia yang selalu ingin melakukan perubahan. ”Sehingga mahasiswa disebut sebagai agen perubahan. Dalam fase ini, mereka membuka diri terhadap berbagai informasi,” tegasnya, pada Lombok Post, (7/4).

Kedua, terbuka informasi melalui internet membuat paham radikal bisa menyebar dengan pesat. Dunia siber adalah ruang imajiner yang memungkinkan orang-orang untuk membangun identitas dan dunia mereka yang baru. Sekaligus menjalin komunikasi dengan orang lain yang melakukan penyebaran paham radikal

Ketiga, banyak mahasiswa yang terpapar paham radikal adalah mereka yang tidak, atau belum memiliki konsep diri yang jelas. Mahasiswa radikalis ini memiliki daerah terbuka yang sempit. Terhalang oleh daerah buta, mereka menutup diri dari informasi yang bertentangan dengan pahamnya.

”Mahasiswa ini memiliki daerah tersembunyi dimana mereka memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan dan mereka rahasiakan,” tegasnya.

Keempat, adanya pengaruh dari alumni dan pengurus orgaisasi kemahasiswaan yang sudah terpapar. Seniorlah yang mendoktrin juniornya. Berdasarkan penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan BIN pada 2017, di 15 provinsi terdapat 39 persen mahasiswa Indonesia terpapar radikalisme.

”Sebanyak 24 persen mahasiswa setuju melakukan jihad menegakan daulah islamiyah atau kilafah,” terang pria bergelar doktor ini.

Mahasiswa yang terpapar radikalisme memiliki ciri-ciri anti sosial, mengalami perubahan emosi dan tingkah laku, bergaul dengan komunitas yang rahasia. Termasuk bersikap dan berpandangan yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

Mereka juga kerap menggunakan kekerasan, untuk meraih keinginannya. Biasanya berupa gerakan revolusioner, penghancuran total dan memutar balikkan nilai awal. ”Mereka pun mereproduksi berita bohong, berita palsu karena sesuai dengan pikiran dan keinginannya,” ungkapnya.

Dari kondisi ini, kemudian muncul pertanyaaan. Bagaimana cara mengatasi persoalan radikalisme pada mahasiswa? Jawabannya, mengembalikan marwah mahasiswa sebagai agen perubahan, yaitu agen-agen perubahan untuk menangkal radikalisme.

Di kampus sudah dibentuk Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) Bela Negara, akan tetapi belum efektif karena pembentukannya dari atas. ”Perubahan perilaku, dari segi kognitif, konatif dan afektif, harus dilakukan terus menerus oleh pihak kampus sehingga mahasiswa mengetahui bahaya paham radikalisme,” terang Agus.

Mahasiswa sebagai generasi milenial yang aktif di dunia maya perlu membentuk cyber troops. Ini untuk membantu kampus memantau akun paham radikal dan bisa dilaporkan ke universitas lalu diteruskan kepada aparat penegak hukum. ”Kampus harus punya filter untuk menyaring informasi dan penyebaran paham radikal di media sosial,” terangnya.

Kemudian menguatkan kembali pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Tentu hal ini perlu dikemas dengan narasi yang mudah dipahami milenial. ”Bisa dengan memanfaatkan teks, gambar, dan video yang disukai anak muda. Lakukan secara persuasif, jangan menggurui,” pungkasnya.

Sebelumnya, Rektor Unizar Mataram Muhammad Ansyar meminta mahasiswa mewaspai gejala radikalisasi yang berkembang di masyarakat. Khususnya yang menyasar generasi muda melalui media sosial. ”Jangan mudah diajak-ajak yang tidak benar, mahasiswa harus kritis,” tegasnya. (yun/r9)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks