alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

Banjir Rendam 30 Ruangan SMAN 1 Woha Kabupaten Bima

BIMA-Pascabanjir bandang yang menerjang akhir pekan lalu, SMAN 1 Woha di Kabupaten Bima mulai berbenah. ”Kami bergerak cepat, menggunakan tiga mesin pompa air yang kami letakkan di beberapa titik,” kata Kepala SMAN 1 Woha Muhammad Nur, saat dikonfirmasi Lombok Post, (9/4).

Dikatakan, banjir bandang kali ini adalah yang terparah. Tercatat 30 ruangan, meliputi kelas, ruang kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, laboratorium kimia, fisika, biologi, perpustakaan hingga gudang, semuanya terendam banjir setinggi satu meter lebih.

”Besok (hari ini, Red), kami imbau kepada anak-anak dan guru, agar datang membersihkan sisa-sisanya, karena kami juga belum maksimal,” terang ketua Forum MKKS SMA Kabupaten Bima ini.

Harapannya, proses pembersihan  segera selesai. Sekolah akan memulai kembali pembelajaran tatap muka (PTM) langsung Senin pekan depan (12/4). Kini banjir menyisakan lumpur di lantai setebal 15 cm.

”Jadi saat kami membersihkan ruangan itu, butuh waktu sejam untuk membersihkannya,” ujar dia.

Disinggung mengenai kerugian, dirinya belum bisa merincikan. Pihak sekolah masih mendata berbagai kerusakan. Sejauh ini, sejumlah barang elektronik seperti printer ikut rusak, pagar pembatas permanen roboh sejauh 150 meter. Pagar tiang beton dan kawat duri, roboh sepanjang 80 meter. Tak luput, meja dan kursi hanyut terbawa banjir.

Beberapa dokumen penting di ruang tata usaha, berkas guru, dan buku-buku diperpustakaan, basah akibat terendam. ”Dalam waktu dekat kami kalkulasi semuanya dan segera kami kirimkan datanya ke pak kadis,” terangnya.

Ijazah dalam posisi aman dan seluruh komputer masih bisa terselamatkan. ”Karena seluruhnya kami simpan di lantai dua,” jelasnya.

Kedepannya, SMAN 1 Woha akan menyimpan seluruh dokumen penting terkait data sekolah dan guru di lantai dua. ”Kami sudah sepakat, agar meminimalisir segala bentuk kerusakan dan kerugian,” pungkas dia.

Terpisah, Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan menegaskan, saat ini pembelajaran diseimbangkan dengan layanan tatap muka dan daring. ”Guru bisa melakukan manualisasi dengan sarana yang ada dulu, toh dimasa pandemi ini, kita belum mengukur pembelajaran secara maksimal,” ujarnya member solusi atas bencana itu. (yun/r9)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks