alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

Menengok Penerapan Prokes SDIT Insan Mulia

Tidak mudah memang membuka belajar tatap muka di kala pandemi seperti saat ini. Namun SD IT Insan Mulia yang dikelola Hj Nurul Adha membuktikan belajar tatap muka bisa dilakukan, asal perketat protokol kesehatan.

Nurul Hidayati-Giri Menang

 

Mengatur murid berjumlah 560 orang  tidak mudah. Apalagi pada masa penyeberan Covid-19 yang belum reda. Inilah yang dilakukan SD IT Insan Mulia di Desa Kediri Selatan, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Sekolah berjuang agar tetap bisa menerapkan belajar secara tatap muka.

”Banyaknya keluhan kala anak-anak belajar daring, membuat sekolah bertekad bisa membuka sekolah tatap muka dengan izin Pemkab Lobar,” kata Pengelola SD IT Insan Mulia Kediri Selatan Hj Nurul Adha.

Ia bercerita selama murid belajar dari rumah banyak kendala dihadapi. Hal ini pun menjadi perhatian pihak sekolah yang ingin maksimal memberikan pembelajara. Izin sekolah untuk menyelenggarakan belajar tatap muka, akhirnya diterima sekolah enam bulan lalu.

”Harus benar-benar persiapan matang dan penunjang belajar tatap muka masa Pandemi Covid-19 disiapkan sekolah,” terangnya.

Sistem penerapan belajar tatap muka pun tidak bisa langsung diterapkan ke murid. Simulasi pun dilakukan beberapa pekan kepada guru-guru sekolah tersebut.

”Guru dulu kita berikan pemahaman tekait penyebaran, penularan, dan pencegahan Covid-19,” tuturnya.

Selanjutnya sekolah menyiapkan berbagai alat penunjang protokol kesehatan (prokes). Mulai memperbanyak tempat cuci tangan di sudut sekolah. Sekolah juga mengadakan alat pengecek suhu badan. Mengatur ruangan belajar berjarak turut dilakukan. Penyemprotan disinfektan ke ruangan-ruangan yang ada di sekolah juga rutin.

”Pengecekan dilakukan oleh Dikes Lobar dan dokter-dokter yang digandeng sekolah untuk semakin meyakinkan penerapan ini,” terangnya.

Perempuan yang juga merupakan Wakil Ketua DPRD Lobar ini mengatakan guru harus memahami dulu kondisinya. Setelah itu baru bisa memberikan pemahaman kepada murid secara bertahap.

Saat awal, satu murid hanya boleh masuk dua hari dalam sepekan. Tetapi sekarang sudah bisa masuk tiga kali sepekan. Sedangkan satu shift yang belajar tatap muka hanya boleh 200 anak maksimal. Sekolah mempunyai 18 kelas yang semua dimaksimalkan.

”Simulasi belajar dengan cara shift,” tuturnya.

Kedatangan murid di sekolah dinanti guru dari pintu gerbang. Mereka dipastikan menggunakan masker dan dicek suhu tubuhnya.

”Kalau murid yang tidak menggunakan masker langsung kami minta pulang dan mengingatkan keesokan harinya harus pakai masker,” imbuhnya.

Selanjutnya murid akan diminta untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian bisa memasuki ruangan belajar yang sudah diatur jarak tempat duduknya.

”Satu kelas diisi 50 persen murid dari jumlah biasanya,” ujarnya.

Selama membuka belajar tatap muka, tidak terjadi penularan di sekolah. Pihaknya dituntut jeli memastikan yang datang ke sekolah benar-benar sehat.

”Kuncinya lebih teliti semua aspek,” kata dia. (*/r9)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks