alexametrics
Kamis, 18 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022

Ini Upaya Pemerintah Lestarikan Bahasa Daerah di Bumi Gora

GIRI MENANG-Pemerintah kini terus berupaya melestarikan bahasa daerah di Indonesia, termasuk tiga diantaranya dari NTB; Sasak, Samawa dan Mbojo, melalui program revitalisasi bahasa daerah.

“Kegiatan ini sebagai upaya kita untuk menghambat supaya bahasa daerah tidak tiba-tiba punah. Kita hidupkan kembali karena bahasa itu akan hidup kalau bahasa itu terus dipakai,” tegas Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek Prof Endang Aminudin Aziz, Jumat (17/6).

Hal itu disampaikannya, di sela-sela kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun untuk koordinasi antarinstansi dalam rangka implementasi model pelindungan bahasa daerah yang digelar Kantor Bahasa NTB.

Dirinya mengungkapkan, pada prinsipnya revitalisasi yang dilakukan sekarang, mengarah ke bagaimana bahasa daerah itu digunakan secara meluas oleh semua penutur bahasa, terutama oleh generasi muda.

“Karena mereka yang akan menjadi pemilik penutur aktif bahasa daerah itu, dimasa yang akan datang,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan, revitalisasi bahasa daerah saat ini sangat penting, dan harus menjadi perhatian bersama. Menurut UNESCO, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, 200 bahasa daerah di dunia ada yang punah.

Sementara itu, di Indonesia masih terdapat 718 bahasa daerah. Namun, banyak bahasa daerah yang kondisinya terancam punah dan kritis. Penyebab utama kepunahan bahasa daerah, karena para penutur jatinya tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasanya kepada generasi berikutnya.

Faktor lainnya, sikap bahasa penutur jati
Migrasi dan mobilitas tinggi. Kawin silang atau campur antaretnis. Globalisasi yang mengarah ke monolingualisme.

Berbicara NTB, Aminudin mengatakan, kondisi tiga bahasa daerah di NTB, masih berstatus aman. Artinya, bahasa daerah masih dipakai oleh semua anak dan semua orang dalam etnik itu.

“Misalnya bahasa Sasak, penuturnya masih tiga jutaan. Memang masih relatif aman,” terangnya.

Baca Juga :  Unram Optimis Bisa Naik Klaster PT di Indonesia

Namun hal ini tidak boleh dianggap sepeleh, karena setiap tahunnya, jumlah penutur bahasa daerah cenderung mengalami tren penurunan, dibandingkan kenaikan.

“Semua bahasa daerah di dunia ini, tidak ada jumlah penuturnya naik, malah sebaliknya selalu mengalami penurunan dan ini harus kita antisipasi,” jelas dia.

Revitalsiasi bahasa daerah, bisa menggunakan berbagai model pendekatan. Misalnya untuk NTB dengan tiga bahasa daerah, Sasak, Samawa dan Mbojo, pendekatan pewarisan dapat dilakukan secara terstruktur melalui pembelajaran di sekolah atau berbasis sekolah, jika wilayah tutur bahasa itu memadai.

“Pewarisan dalam wilayah tutur bahasa juga dapat  dilakukan melalui pembelajaran berbasis komunitas,” terangnya.

Karenanya, dalam hal revitalisasi bahasa daerah, harus melibatkan semua unsur. Mulai dari pemerintah, masyarakat, pegiat dan sekolah.

“Ini semua akan dilibatkan karena mereka adalah pihak yang secara setiap hari, memberikan kontribusi dan tanggung jawab terhadap kelestarian bahasa daerah ini,” jelasnya.

Secara nasional, revitalisasi bahasa daerah akan melibatkan 1.491 komunitas atau pegiat. Dari sini, pemerintah mendorong pelibatan intensif keluarga, para maestro, dan pegiat pelindungan bahasa dan sastra dalam, penyusunan model pembelajaran bahasa daerah.

“Pengayaan materi bahasa daerah dalam kurikulum dan perumusan muatan lokal kebahasaan dan kesastraan,” kata Aminudin.

Di satuan pendidikan, pemerintah berencana akan melibatkan 29.370 guru, 17.955 kepala sekolah dan 1.175 pengawas sekolah. Program ini menitik beratkan pada pelatihan guru utama serta guru-guru bahasa daerah.

Kemudian mengadopsi prinsip fleksibilitas, inovatif, kreatif, dan menyenangkan yang berpusat pada siswa. Terakhir, mengadopsi model pembelajaran sesuai dengan kondisi
sekolah masing-masing, serta
membangun kreativitas melalui bengkel bahasa dan sastra.

Baca Juga :  Unram Tambah Tiga Guru Besar

Kemudian, ada 1.563.720 siswa dan 15.236 sekolah. Kedepannya, mereka dapat memilih materi sesuai dengan minatnya. bangga menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi. didorong untuk memublikasikan hasil karyanya, ditambah
liputan media massa dan media sosial, dan didorong untuk mengikuti festival berjenjang di tingkat kelompok atau pusat belajar, kabupaten atau kota dan provinsi.

Dengannya bisa menjaga kelangsungan hidup bahasa dan sastra daerah. Menciptakan ruang kreativitas dan kemerdekaan bagi para penutur bahasa daerah untuk mempertahankan bahasanya.

“Ini juga untuk pembelajaran, dalam menemukan fungsi dan ranah baru dari sebuah bahasa dan sastra daerah,” tandasnya.

Kepala Kantor Bahasa NTB Puji Retno Hardiningtyas mengatakan, rapat koordinasi (rakor) yang dilaksanakan untuk menjaring guru master, melibatkan guru muatan lokal (mulok), atau bahasa Indonesia yang bisa mengajarkan bahasa daerah.

“Kemudian ada kepala sekolah, pengawas, dan dinas pendidikan. Ini peserta 251 yang diberikan pendampingan atau pelatihan guru master diseluruh NTB,” jelasnya.

Di sisi lain, melalui rakor akan menghasilkan berbagai rekomendasi kebijakan dan semuanya diusulkan ke pemerintah daerah, agar bahasa daerah bisa diajarkan di sekolah. “Kalau hanya bahasa daerah masuk di pelajaran Mulok, kami rasa ini masih kurang, kami berharap bisa masuk ke materi inti atau pelajaran inti di kurikulum,” tegasnya.

Kepala Biro Organisasi Setda NTB Nursalim yang mewakili Gubernur NTB mengajak semua pihak, bersama-sama mengenal, menjaga sekaligus melestarikan bahasa daerah Bumi Gora.

Pemprov NTB akan selalu siap mendukung penuh, melalui program kerja Kantor Bahasa NTB. “Dengannya kita sekaligus menjaga kelangsungan hidup sastra dan bahasa daerah, yang menjadi kekayaan bangsa kita,” ujarnya. (yun)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/