Selasa, 31 Januari 2023
Selasa, 31 Januari 2023

Unram Luncurkan Diseminasi Program Matching Fund Patriot Pangan Nasional

MATARAM-Unram menjadi tuan rumah Launching Diseminasi Program Matching Fund Patriot Pangan Nasional 2022. Kegiatan berlangsung di ruang senat lantai III Unram, Jumat (18/11).

Program ini merupakan konsorsium 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Yakni Universitas Syiah Kuala, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Tanjungpura-Pontianak, Universitas Pattimura-Ambon, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Mulawarman, Universitas Sutan Ageng Tirtayasa, Universitas Negeri Lampung, dan Unram.

Rektor Unram Prof Bambang Hari Kusumo mengatakan, ini merupakan upaya pemerintah dan perguruan tinggi menjawab isu ketahanan pangan. ”Kita akan dihadapkan pada potensi perang pangan dan upaya mengatasinya harus menjadi perhatian bersama,” terangnya.

Unram akan terus mendukung para dosen, melakukan penelitian terkait tata kelola persoalan pangan dan pengetahuan tentang pangan untuk masyarakat. Karena program ini bertujuan mendukung upaya kedaulatan pangan yang dilakukan pemerintah melalui penelitian maupun pendampingan kepada masyarakat.

Rencananya, Unram juga mengarahkan fokus mengembalikan fungsi dan pemanfaatan lahan kering yang cukup luas di Bumi Gora. Rektor bersama dosen akan merancang teknologi, untuk bisa memompa sumur air dalam dengan sistem tenaga surya. Guna mendukung sistem pengairan lahan tersebut. ”Agar semakin banyak lahan yang bisa kita tanam,” tandasnya.

Baca Juga :  Mahasiswa “Galau” Pikirkan Siapa yang Bakal Memindahkan Tali Toga

Rektor IPB sekaligus Ketua Konsorsium Patriot Pangan Prof Arif Satria mengungkapkan, Indonesia sangat memungkinkan untuk kemandirian pangan.

Indonesia memiliki berbagai potensi pengganti gandum yang kini menjadi sumber krisis. Seperti sorgum, jagung, singkong, ganyong, sukun, hingga sagu yang punya potensi besar. ”Secara teknologi sudah selesai, kita bisa bikin beras dari sagu, beras dari jagung, beras dari sorgum semua sudah bisa, tinggal bagaimana kita hilirisasi agar konsumsi kita meningkat dan menurunkan ketergantungan impor,” terangnya.

Bagaimana kita membuat produk kualitasnya bagus, kita bisa hemat devisa, memperluas lapangan kerja dan membangun kepercayaan diri masyarakat,” tambah Arif.

Arif menyebut kampus akan melakukan intervensi ekosistem pangan mulai dari hulu hingga hilir. Dilakukan melalui teknologi para dosen yang melakukan penelitian. ”Perguruan tinggi siap berkolaborasi untuk memperkuat solusi persoalan pangan. Pemerintah dan kampus tidak bisa sendiri,” terangnya.

Baca Juga :  Dorong Peran Santri KLU dalam Pembangunan

Dirinya juga mendorong NTB memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada. Terutama komoditas rumput laut, yang memiliki tingkat produksi sangat melimpah.

Harus ada inovasi lebih, karena selama ini produk yang dijual dalam bentuk rumput laut kering. Sehingga belum bisa mencapai nilai tambah yang tinggi. ”Kalau bagus dalam segi produksi, kedepannya kita akan bisa menikmati beras dari rumput laut,” tandasnya.

Kegiatan ini turut dirangkaikan dengan presentasi dan penayangan video Innovator Program Matching Fund 2022 dari dosen Unram. Dimulai dari Lolita Endang memaparkan tentang integrated smart farming system. Aluh Nikmatullah dengan produksi kentang. Satrijo Saloko tentang olahan kelor dan Eka Sunarwidhi menjelaskan tentang diversifikasi olahan rumput laut. (yun/r9/*)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks