alexametrics
Jumat, 26 Februari 2021
Jumat, 26 Februari 2021

Orang Tua Jangan Paksakan Kehendak PT Maunya

MATARAM-SMAN 1 Mataram mengundang orang tua, membahas pemilihan program studi (prodi), masuk perguruan tinggi secara daring.

”Banyak ditemukan fakta bahwa, sebagian siswa mengahadapi kesulitan dalam memilih prodi di perguruan tinggi,” kata Kepala SMAN 1 Mataram Kun Andrasto,SMAN 1 Mataram mengundang orang tua, membahas pemilihan program studi (prodi), masuk perguruan tinggi secara daring. (22/2).

Persoalan lain, perbedaan pilihan anak dengan orang tua. ”Kita tentu mendampingi dan mengarahkan siswa dalam memilih jurusan di perguruan tinggi dan itu sudah kami lakukan,” jelas dia.

Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan mengatakan, siswa SMA memang dipersiapkan melanjutkan pendidikan. ”Sekolah berkewajiban memfasilitasi hal tersebut,” terangnya.

Pihaknya mendukung siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pemerintah saat ini memiliki gerakan ayo bercita-cita. ”Rencananya, kami akan melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi unggulan, untuk menyediakan kuota khusus bagi siswa NTB dari sekolah pinggiran,” jelasnya.

Tak kalah penting pendampingan intensif dari sekolah. ”Tujuannya agar ada harmonisasi antara orang tua dan siswa dalam memutuskan jurusan yang akan dipilih,” tandasnya.

Perwakilan Orang Tua kelas XII SMAN 1 Mataram Hj Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah mengatakan, anak harus dibimbing dan didampingi. ”Kami juga sebagai orang tua terus belajar memahami dan membimbing mereka,” tegas ketua TP PKK NTB ini.

Saat pemilihan prodi di perguruan tinggi, harapannya orang tua bisa lebih aktif mendampingi dari awal. Saran dia, harus sering berdiskusi. ”Awalnya diskusi biasa kemudian nanti dikerucutkan,” terangnya.

”Disitu kita ajak bicara apa yang menjadi kesukaan dan minatnya. Kalau belum yakin, kita bisa membicarakan berbagai bidang yang mungkin dia tertarik,” sambungnya.

Guru BK SMAN 1 Mataram sekaligus Konselor Harmoko menjelaskan, orang tua juga tidak boleh memaksa kehendak. Jika salah langkah, hal itu malah dapat mematikan potensi yang dimiliki anak.

”Dampaknya siswa kesulitan menyelesaikan studi karena terpaksa mengikuti pilihan orang tua,” terang dia.

Jika ditemukan siswa bingung, apakah harus mengikuti pilihan sendiri atau orang tua, bisa dilakukan home visit. Membawa tiga alat pendukung. Nilai rapor siswa, hasil multiple intelligence, dan data latar belakang orang tua.

”Ini yang kami terapkan di Smansa, kami fasilitasi kedua belah pihak untuk menemukan apa yang menjadi keinginan bersama,” tegasnya. (yun/r9)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks