alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

Terus Berbenah, Unram Tambah Empat Profesor

MATARAM-Universitas Mataram (Unram) kembali mengukuhkan empat orang guru besar,  (25/3). Tiga orang dari Fakultas Hukum dan satu orang FMIPA.

”Semoga dengan bertambahnya jumlah profesor, kinerja institusi  akan lebih baik lagi,” kata Rektor Unram Prof H Lalu Husni.

Guru besar yang dikukuhkan Prof Zainal Asikin dengan Konsentrasi Hukum Bisnis, Prof H M Arba dengan Konsentrasi Hukum Agraria, dan Prof H Sudiarto  dengan Konsentrasi Hukum Bisnis. Ketiganya dari Fakultas Hukum. Terakhir Prof I Wayan Suana dengan Konsentrasi Biologi, FMIPA.

Tahun 2020 lalu, ada delapan tambahan guru besar. Saat ini totalnya 64 orang. Namun jumlah yang pensiun juga signifikan, termasuk yang meninggal dunia. Sehingga penambahan jumlah profesor tidak terlalu signifikan dari target kontrak kinerja yang ditetapkan enam persen. Sedangkan target yang tercapai masih 5,77 persen dari jumlah dosen 1.109 per Februari 2021.

Berbagai upaya memperbanyak jumlah guru besar terus dilakukan. Misal, pemangkasan birokrasi yang sebelumnya dua tingkat, fakultas dan universitas, kini cukup fakultas. Dekan diharapkan dapat menyukseskan program riset percepatan guru besar yang disediakan bagi dosen lektor kepala.

Baca Juga :  Cegah Pernikahan Dini di NTB, Sekolah Disarankan Gandeng Komite

”Selain itu saya mengharapkan kepada guru besar berperan lebih aktif dalam meraih dana-dana penelitian baik pada level nasional maupun internasional,” terangnya.

Prof Zainal Asikin, judul dalam orasi ilmiahnya perjanjian kerja sama antara pemerintah dan swasta dalam penyediaan infrastruktur publik. Hasil penelitian membuktikan terdapat beberapa peraturan hukum yang lebih progresif di Indonesia menjadi payung hukum perjanjian kerja sama tersebut. Sistem hukum harus benar-benar dipahami subyek hukum yang ditugaskan melakukan pengelolaan barang milik daerah.

”Agar tidak terjadi tindakan melawan hukum yang berujung ke ranah pengadilan,” katanya.

Prof HM Arba, judul orasi ilmiahnya eksistensi nilai-nilai kearifan lokal dalam penyelesaian sengketa agraria (pertanahan) secara non ligitasi di wilayah NTB. Sengketa tanah di kalangan masyarakat hukum adat di NTB disebabkan faktor yuridis dan faktor non yuridis. Pola penyelesaian sengketa tanah yang terdapat di dalam masyarakat hukum adat di NTB didominasi secara non ligitasi.

Baca Juga :  Unram Tambah Empat Guru Besar

”Dalam penyelesaian konflik, masing-masing lingkungan hukum adat di wilayah NTB mempunyai prinsip kebersamaan, perdamaian, dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Prof H Sudiarto, judul orasi ilmiahnya pembaharuan hukum penerbangan Indonesia. Perlu adanya syarat kecelakaan yang lebih luas tidak semata kecelakaan angkutan udara. Tetapi kecelakaan yang dialami pengguna jasa  angkutan udara sejak membayar ongkos angkutan menjadi tanggung jawab pengangkut udara. Diharapkan, Pemerintah RI untuk melakukan revisi UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Khususnya Pasal 141 ayat (1) beserta penjelasannya dengan memperluas makna dalam pesawat udara dan embarkasi.

”Tentunya dengan mempertimbangkan kemajuan industri angkutan udara di Indonesia,” katanya.

Terakhir Prof I Wayan Suana, judul orasi ilmiahnya potensi pengembangan ekowisata birdwatching di NTB. Ekowisata birdwatching sangat potensial dikembangkan karena banyak terdapat kawasan yang memiliki keanekaragaman burung yang tinggi. Pelibatan dan pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekowisata ini sangat diperlukan untuk menjamin keberlanjutan.

”Jadinya bisa memberikan manfaat secara ekonomi kepada masyarakat,” kata dia. (nur/r9/*)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/