alexametrics
Rabu, 15 Juli 2020
Rabu, 15 Juli 2020

37 Anak Tak Terakomodir, Warga Jempong Baru Protes MTs 3 Mataram

MATARAM-Pelaksanaan kegiatan PPDB di wilayah Jempong Baru menuai persoalan. Sejumlah orang tua melayangkan protes ke MTsN 3 Mataram, lantaran anaknya tidak terakomodir. ”Ada 37 anak-anak kami, yang tidak bisa masuk ke madrasah ini,” kata Ketua Forum Pemuda Sekarbela H Ahyar Husni, pada Lombok Post, Sabtu (27/6/2020).

Dirinya menjelaskan, alasan Pemkot Mataram mendirikan MTsN 3 Mataram di wilayah Lingkar Selatan penuh dengan sejarah. Tujuannya, agar semua anak-anak di sekitarnya bisa tertampung. ”Animo masyarakat untuk belajar dan mengaji, terutama dari daerah Mapak, Jempong Barat, Jempong Timur, Guntur dan Dasan Kolo sangat tinggi,” tegas dia.

Mediasi berlangsung alot. Baik madrasah dan masyarakat sama-sama memiliki argumen. Ahyar mengatakan, keinginan masyarakat sudah jelas. Madrasah harus menampung dengan melakukan penambahan kelas bagi 37 anak itu.

”Harapan kami bisa ada penambahan kelas, bahkan jumlah itu pas satu kelas dan harga mati,” kata dia.

Kalau tidak penyelesaian atau jalan keluar, tentu ini akan jadi polemik bagi MTsN 3 Mataram sendiri. Tentu ketidakpuasan masyarakat tidak bisa dibendung. Karena memang begitu kondisi di wilayah selatan. ”Kami bukan mau provokasi tetapi begitulah kondisinya, tambahan kelas itu harus,” tegas Ahyar.

Kepala MTsN 3 Mataram Suparman mengapresiasi antusiasme warga. ”Ini menandakan meningkatnya kepedulian terhadap pendidikan dan agama, harus terus dilanjutkan. Ini perlu dilestarikan,” kata dia.

Terkait dengan keinginan masyarakat, pihak madrasah mengaku dilema. Tahun-tahun sebelumnya mengenai PPDB, madrasah dikenakan aturan zonasi, namun tahun ini tidak demikian. Sehingga anak-anak dari wilayah Lombok Barat di dekat perbatasan Kota Mataram, banyak yang mendaftar. Sehingga total jumlah yang mendaftar ada 724 orang. ”Karena tidak ada zonasi, maka kami seleksi dari prestasi,” kata dia.

Padahal jumlah yang diterima hanya 96 siswa saja, untuk tiga kelas. ”Fasilitas kami terbatas,” jelas Suparman.

Madrasah sebelumnya pernah nekat membuka lima kelas. Ternyata, saat Kemenag Pusat datang mengaudit, rupanya itu menyalahi aturan. ”Kami ditegur keras waktu itu, dan akhirnya kami membuat pernyataan tidak akan melakukan hal itu lagi tahun ini,” terang dia.

Camat Sekarbela Moh Yusuf mengatakan, yang menjadi persoalan adalah ganjalan regulasi. Pihaknya akan mencoba dan mendorong, agar tanah yang masih atas nama Pemkot Mataram, segera diserahkan ke pihak madrasah sebagai tambahan aset. Dengannya diharap daya tampung bisa meningkat. ”Supaya kedepannya, tidak ada lagi persoalan seperti ini, karena gedungnya sudah ada,” tegas dia. (yun/r9)

 

 

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Korona Tinggi, Pola Pencegahan Covid 19 di Mataram Perlu Dievaluasi

emkot Mataram memang bekerja. Mereka berupaya memutus mata rantai penularan virus Korona. Sayangnya, kerja para pemangku kebijakan di Pemkot Mataram itu tanpa inovasi.

Enam Bulan, 19 Kasus Kekerasan Terhadap Anak Terjadi di Mataram

Kasus kekerasan anak di Kota Mataram masih sering terjadi. Buktinya, hingga Juli  tercatat sudah terjadi 19 kasus. “Kebanyakan dari kasus ini perebutan hak asuh,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram Hj Dewi Mardiana Ariany, Selasa (14/7).

Larangan Dicabut, PNS Sudah Boleh Lakukan Perjalanan Dinas

Kebijakan pembatasan perjalanan dinas aparatur sipil negara (ASN) resmi dicabut. Kini ASN dibolehkan ke luar kota. Namun, dengan syarat-syarat khusus.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Mataram, Tanpa Masker Tak Boleh Masuk Pasar

Saat ini, sebagian besar masyarakat NTB memang sudah menggunakan masker. Tapi, banyak pula yang memakai masker hanya sampai dagu atau di leher. Sementara di Kota Mataram dan Lombok Barat yang merupakan dua daerah zona merah dengan kasus Covid-19 terparah, banyak pedagang dan pengunjung pasar yang masih bandel. Mereka ngelencer di pasar tanpa masker.

Sukseskan Kampung Sehat, Tiga Pilar di Loteng Kompak

Pemkab, Polres dan Kodim 1620/Lombok Tengah siap menyukseskan lomba kampung sehat. “Harapannya masyarakat mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam penanganan covid-19,” papar Kapolres AKBP Esty Setyo Nugroho saat memimpin upacara tiga pilar di Bencingah Alun-Alun Tastura, Praya, Selasa (14/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Usai Pemakaman, Kades Sigerongan Lobar dan Lima Warga Lainnya Reaktif

Aktivitas di Kantor Desa Sigerongan lumpuh. Menyusul hasil rapid test kepala desa dan sejumlah warganya reaktif. Selama 14 hari ke depan, pelayanan di kantor desa ditiadakan sementara.

Korona NTB Masih Parah, Sekolah Hanya Bisa Dibuka di Kota Bima

Ketentuannya, kegiatan di sekolah pada tahun ajaran baru hanya diperbolehkan untuk daerah zona hijau. Karena itu, manakala ada pemerintah daerah yang nekat membuka sekolah non zona hijau. pemerintah pusat memastikan akan memberi sanksi.

Beli Honda ADV150, Hemat Rp 5,7 Juta

Honda ADV150 merupakan skutik penjelajah jalanan canggih dengan desain bodi yang futuristik dan manly. Skutik ini dibekali mesin 150cc eSP yang menyuguhkan performa responsif.

Liburan di Sungai Dodokan Lobar, Bayar Rp 5 Ribu Wisata Sampai Puas

Orang kreatif bisa membuat peluangnya sendiri. Itulah yang dilakukan Siali, warga Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung. Ia membuat Sungai Dodokan jadi spot wisata baru di Lombok Barat (Lobar).

Ikuti Mataram, Lobar Berlakukan Jam Malam

erkembangan pandemi Covid-19 di Lombok Barat (Lobar) semakin mengkhawatirkan. Kasus positif yang mencapai 300 lebih, menjadi atensi penuh Polres Lobar dalam melakukan upaya pencegahan penularan.
Enable Notifications.    Ok No thanks